Kedaulatan Tertinggi adalah Syariat, Bukan Rakyat

MUSTANIR.net – Pengamat Politik Ahmad Hanafi Rais menegaskan bahwa kedaulatan (hak membuat hukum) tertinggi adalah syariat.

“Kedaulatan tertinggi adalah syariat, bukan rakyat,” tuturnya di Fokus Spesial: Islam dan Politik, Ahad (24/3/2024) di kanal youtube.com/uiyofficial

Hal itu diungkapkan setelah dirinya belajar Islam kaffah dan mendapati banyak ayat yang menegaskan bahwa kedaulatan itu milik Allah.

Ia menyebut di antaranya dalam surah al-Maidah ayat 44, 45, 47, 48 yang memerintahkan untuk memutuskan semua perkara hanya dengan hukum Allah.

“Pemahaman seperti ini akan mengubah segalanya. Kalau pemahaman yang paling dasar dalam politik yaitu soal kedaulatan saja kita salah memaknai maka pasti turunannya akan kacau balau,” yakinnya.

Kekacauan itu betul-betul ia rasakan saat mengalaminya sendiri duduk di parlemen. “Desain politik kita itu ibarat pemain sepak bola. Pemainnya, pelatihnya, timnasnya, sadar betul aturan yang dipakai adalah aturan FIFA. Begitu masuk di lapangan dan pertandingan dimulai ternyata wasitnya tidak netral, penuh kecurangan, untuk bisa memasukkan gol harus sikut sana sikut sini untuk meraih kemenangan,” ujarnya.

Ia melanjutkan, belum lagi medannya yang becek, kotor, ini menjadi dilema bagi pemain mau lanjut atau berhenti. “Dulu saya memahaminya seperti itu, ya harus menang dengan cara yang sama yang penting gol. Kita menjalani politik sudah tidak kenal halal-haram,” kenangnya.

Dari analogi itu ia ingin menyampaikan bahwa tidak mungkin mengganggas politik Islam melalui sistem yang jorok. Terlebih saat itu ia mendengar langsung dari presiden bahwa politik harus dipisahkan dari agama.

“Memisahkan agama dari politik berarti kan memisahkan agama dari seluruh kehidupan. Artinya politik kita memang enggak pernah mau diatur dengan agama,” tegasnya.

Padahal, ucapnya, sebagai seorang yang beriman wajib terikat dengan semua aturan Allah subḥānahu wa taʿālā dan segala hal yang berkaitan dengan syariat, termasuk dalam berpolitik.

“Saya kira fenomena dari pilpres ke pilpres, termasuk yang terakhir kemarin itu membuat kita memang harus me-review besar-besaran pandangan kita tentang politik terutama yang paling dasar yaitu soal kedaulatan,” harapnya.

Ia mengajak agar momen Ramadhan ini bukan hanya sebagai momentum memperbaiki shalat, puasa, tadarus, tapi juga mengubah pandangan hidup tentang kedaulatan, karena ini juga bagian dari ketaatan.

“Kita tinggal menjalankan Islam betul-betul, tidak perlu mengambil teori trias politika, teori Adam Smith, Friedrich August Hayek, atau Karl Marx,” tukasnya.

Menurutnya, kalau ingin sampai kepada tujuan yang jelas harus memilih jalan yang benar.

“Misi kita adalah mengajak diri kita, orang terdekat kita, termasuk sebanyak mungkin orang agar berada di jalur yang benar (Islam) agar sampai pada tujuan. Kalau pun kita belum sampai pada tujuan, tapi setidaknya sudah berada di jalur yang benar. Dengan Islam kita lebih bergairah menjalani hidup, terlebih di bulan Ramadhan yang pahalanya berlipat,” pungkasnya. []

Sumber: Irianti Aminatun

About Author

Categories