Kejamnya Hotel Bayi di Jepang

Kejamnya Hotel Bayi di Jepang

Berita:

Menemukan tempat penitipan anak di Jepang adalah persoalan pelik yang dihadapi banyak orang tua. Alhasil, beberapa dari mereka tak punya pilihan lain kecuali menitipkan anak ke “hotel bayi” tanpa izin—tentu saja dengan konsekuensi mengerikan.

Tingginya permintaan akan tempat penitipan anak yang layak punya dampak tersendiri. Akhir-akhir ini, orangtua anak di Negeri Matahari Terbit sampai harus terlibat perebutan sengit bangku TK yang disubsidi pemerintah. Perebutan ini makin pelik di daerah perkotaan. Menurut keterangan yang dilanir oleh surat kabar Japan Times, sampai April 2015, terdapat 23.167 anak di Jepang tak mendapatkan tempat di penitipan anak. (Beberapa orangtua yang berhasil diwawancarai Broadly mengaku pernah ditolak lebih dari 10 tempat penitipan anak meski mereka mendaftar setahun lebih awal.) Imbasnya, tempat penitipan anak ilegal yang menawarkan jasa menjaga balita hingga anak usia sekolah selama 24 jam, bermunculan di mana-mana. Pada Oktober 2016, Yusuke Tsunoda, seorang pegawai penitipan anak berumur 34 tahun, dicokok polisi karena dituduh melukai Rinto Idenawa yang berumur 4 bulan.

Rinto ditemukan tewas Desember 2015 akibat kerusakan otak saat dititipkan di Chibikko Boy, sebuah hotel bayi 24 jam di wilayah Hiratsuka, Prefektur Kanagawa. Rinto, mulai dititipkan tengah malam sebelumnya, adalah salah satu dari 33 bayi yang dijaga seorang diri oleh Tsunoda malam itu. Chibikko Boy sudah enam kali dilaporkan atas berbagai macam pelanggaran. Meski demikian, pusat penitipan anak ini tetap beroperasi walau kerap mendapat teguran dari Pemerintah Prefektur Kanagawa. Hotel bayi dikelola oleh swastanya biasanya memiliki tarif yang lebih tinggi dari penitipan bayi yang berizin resmi.

Sumber: https://broadly.vice.com/…/inside-japans-dangerous-unregula…

Komentar:

Masih segar dalam ingatan kita betapa kejamnya Kapitalisme di Jepang merenggut nyawa seorang karyawati yang bunuh diri karena diduga kelelahan kerja lembur selama 105 jam dalam sebulan. Ternyata kekejaman Kapitalisme tidak hanya berhenti pada kaum Wanita namun juga berdampak pada bayi-bayinya.

Akibat penerapan Kapitalisme yang mendorong bahkan memaksa para wanita untuk bekerja demi memenuhi tuntutan hidup, bayi-bayi yang dilahirkan dari para wanita bekerja itu harus ‘ditelantarkan’ dengan dititipkan pada hotel bayi yang sangat tidak layak untuk kelangsungan hidup bayi tersebut. Dengan demikian, Kapitalisme telah merenggut fungsi mulia seorang ibu sebagai penjaga dan perawat anaknya. Dan ini berarti pula merenggut masa depan bayi dan anak-anak.

Inilah fakta rusak yang terjadi akibat penerapan kapitalisme. Telah terjadi sindrom Chicago berupa pertumbuhan ekonomi yang tinggi namun kerusakan moral di sisi lain. Oleh karena itu kaum muslimin hendaknya tidak silau dengan pertumbuhan ekonomi yang semu tersebut.

Dalam Islam, wanita dimuliakan dengan aturan-aturan untuk memegang tanggung jawab dalam perawatan anak-anaknya dan pengurus rumah tangga. Wanita sama sekali tidak diwajibkan untuk mencari nafkah. Dengan demikian seorang wanita dalam sistem Islam bisa fokus merawat dan mendidik anak-anaknya tanpa dipusingkan dengan urusan nafkah. Dengan konsisi seperti ini, maka tumbuhlah generasi-generasi yang kuat, sehat, cerdas, dan bertakwa. []

SUMBER 

Categories