Kekerasan di Amerika Saat Demo, Polisi Amankan Sejumlah Demonstran

Kekerasan di Amerika Saat Demo, Polisi Amankan Sejumlah Demonstran

Kekerasan di Amerika Saat Demo, Polisi Amankan Sejumlah Demonstran

Mustanir.com – Aparat polisi menangkap lebih banyak demonstran di Baton Rouge, Louisiana pada Ahad (10/7) setelah pihak berwenang memperingatkan mereka tidak akan mentoleransi kekerasaan saat demonstrasi jalanan.

Demonstrasi jalanan itu dilakukan atas adanya insiden fatal dimana aparat menembak mati dua warga berkulit hitam. Sejumlah foto dan video yang diunggah di media sosial oleh para saksi mata dan jurnalis menunjukkan para demonstran ditangkap di beberapa bagian kota oleh aparat kepolisian yang mengatakan mereka tidak lagi mengadakan aksi massa yang damai atau mereka memblokir jalan raya besar.

Media Louisiana, mengutip kepolisian Baton Rouge, melaporkan setidaknya 48 orang diamankan setelah para demonstran bentrok dengan polisi pada Ahad sore menyusul adanya aksi damai di ibu kota negara bagian sebelumnya. Aksi protes itu menyusul penembakan mati terhadap Alton Sterling (37 tahun) di Baton Rouge dan Philando Castile (32) di St Paul, Minnesota.

Permintaan untuk aksi demo agar tetap berjalan damai di Louisiana dan Minnesota datang saat pihak berwenang menghadapi serangkaian aksi protes terhadap penggunaan kekerasan oleh aparat yang telah terjadi di negara itu pekan sebelumnya.

Seorang veteran militer Amerika Serikat menembak dan menewaskan lima orang aparat polisi di Dallas pada Kamis, memberikan sebuah perasaan takut terhadap aparat penegak hukum begitu pula kepada mereka yang terlibat dalam demo yang kebanyakan damai itu.

Di Baton Rouge, kepolisian menahan 102 orang pada Sabtu malam dan Ahad pagi. Sebagian besar karena perbuatan mereka yang tidak meninggalkan jalan besar yang disebut Jalan Tol Airline. Termasuk dalam mereka yang ditahan, DeRay McKesson, seorang aktivis dan mantan calon wali kota Baltimore.

Gubernur Louisiana, John Bel Edwards mengatakan dalam sebuah konferensi pers pada Ahad mengatakan dia bangga terkait bagaimana kepolisian menangani aksi protes yang ada sejauh ini. Dia mengatakan penegak hukum telah menanggapi dengan cara yang moderat. Dia juga mengatakan sebagian besar demonstran bertindak sesuai hukum dan tidak melakukan kekerasan.

Edwards juga mengatakan penutupan jalan raya juga menjadi penyebab dilakukannya penangkapan. Di Minnesota, kepolisian negara bagian mengatakan lebih dari 200 orang demonstran menutup Jalan Raya Antarnegara Bagian 94 di St Paul selama beberapa jam pada Sabtu malam untuk memprotes pembunuhan terhadap Castile. Para aparat mendapatkan serangan bebatuan, botol, beton, material bangunan dan petasan.

Wali Kota dan seorang pemimpin aksi massa keduanya mengutuk kekerasan itu, yang melukai 21 orang aparat dan menyebabkan 102 orang ditahan. Kepolisian St Paul mengatakan seorang aparat mengalami patah tulang belakang saat sebuah balok beton dijatuhkan ke kepalanya pada saat aksi protes.

“Kami tidak akan mentoleransi kekejaman seperti ini yang kami lihat dalam semalam,” Wali Kota St Paul, Chris Coleman mengatakan dalam sebuah konferensi pers. (rol/adj)

Komentar Mustanir.com

Amerika melangkah menuju kehancuran tata sosialnya. Perang dan terjadinya kekerasan horizontal akibat sentimen ras tidak bisa dipungkiri. Beberapa dari masyarakat akhirnya terbelah menjadi dua, yang terpengaruh oleh sentimen ras, dan yang tidak mau terpengaruh oleh sentimen ras. Fenomena ini bukanlah perkara baru dalam sejarah Amerika yang memang telah mengalami konflik horizontal akibat ras ini sejak dari awal abad 20.

Ini sebagai bukti bahwa sesungguhnya jargon kebebasan dan demokrasi tidak bisa mempersatukan masyarakat Amerika. Ada sebuah peradaban yang terbukti dapat menyatukan kulit putih dan kulit hitam dalam satu barisan, yakni peradaban Islam. Ketika Bilal bin Rabah ra, bekas budak yang memiliki derajat yang sama dengan Rasulullah dan para Sahabat lainnya.

Categories