Kenapa Banyak Muslim Bangga dengan ‘Dakwah’ Qatar di Piala Dunia?

MUSTANIR.net – Ada komentar dari beberapa muslim yang merasa bangga dengan ‘dakwah’ Qatar di Piala Dunia. Tapi sebagai orang yang berpengalaman 25 tahun berdakwah dengan non-muslim, saya ingin bertanya, apakah perbuatan Qatar merupakan ‘dakwah’ yang baik?

Yang dibanggakan sebagian muslim: Ada pembacaan al-Qur’an; Penjualan alkohol dilarang di stadion 2 hari sebelum acara dimulai (sebelumnya dijanjikan boleh); Semua bentuk LGBT dilarang; Dan lain-lain. Untuk menganalisis kondisi ini, saya ingin berikan sebuah perumpamaan seperti ini.

Perumpamaan:

“India mengadakan lomba internasional di wilayah yang penduduknya 99% Hindu, dan pemerintah bergaris keras, jadi banyak muslim takut datang. India membuat perjanjian dan kontrak, yang janjikan kebiasaan muslim akan dihormati. Disediakan makanan halal, tempat shalat, dll. Jilbab yang biasanya dilarang akan diizinkan. Muslim diminta datang tanpa rasa takut. Tiba-tiba, semuanya berubah. Makanan halal, tempat shalat, dan jilbab dilarang. Kebiasaan muslim dilarang atau dibatasi. Di semua tempat, ada program pengenalan agama Hindu. Di kamar hotel ada patung Hindu dan tata cara berdoa ke dewa. Mau nonton bola, orang muslim diharapkan belajar agama Hindu dulu.

Dibuat UU ITE. Kalau komplain di medsos tentang India, agama Hindu, atau panitia yang mengingkari janji dan berbohong, bisa kena denda atau dipenjara. Dan ternyata, ratusan ribu pekerja muslim dijadikan budak untuk bangun 8 stadion baru. Paspornya disita, dilarang pindah kerja, diancam, dipaksa kerja 12 jam, bahkan dalam kepanasan 40-55 derajat, dan tempat tinggalnya buruk. Ribuan orang muslim mati. Tidak ada kompensasi bagi keluarga, bahkan gajinya tidak dibayar.

Lebih dari 200 miliar dolar habis untuk cari pencitraan bagi pemerintah Hindu, pada saat banyak orang Hindu hidup dalam kemiskinan. Banyak pihak yakin panitia internasional disogok agar India menjadi tuan rumah. Muncul persepsi buruk: Orang Hindu siap menyogok, berbohong, ingkari janji, menipu, hidup boros, tidak peduli pada hak buruh, hanya demi cari prestasi. Apa hebatnya umat Hindu kalau perilakunya begitu?”

Selesai. Sekarang ganti kata ‘India’ dengan ‘Qatar’, ‘Hindu’ dengan ‘Islam’, dan kebiasaan ‘muslim’ dengan ‘kafir’. Coba jelaskan, apa itu cara baik untuk menyebarkan agama? Pantas dianggap ‘dakwah’? Kalau Qatar undang jutaan orang kafir, dan janji bahwa kebiasaan mereka (minum alkohol, seks bebas, LGBT, pakaian seksi, dll.) tidak akan menjadi masalah, lalu tiba-tiba berubah dan bilang ‘masalah’, ada unsur ‘dakwah’ di mana? Larangan minum bir selama 2 minggu, efeknya nol.

Kalau perumpamaan di atas tentang orang Hindu terjadi, apakah kita akan puji orang Hindu yang berdakwah kepada muslim dengan cara yang ‘hebat’? Atau apakah kita akan mengutuk mereka disebabkan akhlak buruknya?

Apa Rasulullah ﷺ pernah menyogok, ingkari janjinya, bohong, menipu, tidak adil, tidak mulia, dan melanggar syarat perjanjian hukum, hanya agar sebuah lomba balapan onta dari orang kafir di Makkah bisa pindah ke Madina? Tidak ada contohnya?

Coba dipikirkan secara serius: Qatar ikuti contoh siapa? Sudah jelas tidak ikuti kemuliaan Rasulullah ﷺ. Sayang kalau ada muslim yang banggakan ‘dakwah’ Qatar, yang dilakukan dengan cara buang contoh akhlak mulia Rasulullah ﷺ, hanya demi pencitraan.

Sekarang, hanyalah umat Islam yang memuji umat Islam. Orang kafir tidak ‘terpesona’. Kalau tidak suka kebiasaan orang kafir, jangan ajak orang kafir datang, hanya untuk komplain setelah mereka datang. Ingkari janji, menyogok, berbohong, dan menipu tidak merupakan sarana ‘dakwah’ untuk mengubah keburukan orang kafir.

Rasulullah ﷺ sudah berikan contoh akhlak mulia dalam segala urusan. Mohon kita jangan menjadi muslim yang siap membuang contoh mulia itu dengan harga yang rendah. Semoga bermanfaat sebagai renungan. Mohon maaf apabila ada kesalahan. Wa billahi taufiq wal hidayah []

Sumber: Eugene Francis Netto

About Author

Categories