istockphoto.com

Kenapa Mereka Resah kepada Hijrah?

MUSTANIR.net – Maraknya musisi yang hijrah untuk mendalami Islam dengan meninggalkan dunia musik kian menuai kontroversi di kalangan subkultur. Bagi yang pro, tentu mensyukuri dan mendoakan yang bersangkutan agar istiqomah. Tapi bagi yang kontra, hal ini ditanggapi dengan keluh kesah atau bahkan sumpah serapah, seolah-olah berhenti menekuni musik karena agama adalah alasan yang salah. Dari berbagai reaksi di media sosial, tampaknya mereka yang tidak beragama Islam cenderung di posisi kontra. Lalu, bagaimana seharusnya muslim menyikapi fenomena macam ini? 

Peristiwa mundurnya 2 personil kembar Pure Saturday (PS), Adi (gitar) danUdi (drum), yang diberitakan melalui situs Rolling Stone Indonesia pada awal 2015 menjadi kejutan tersendiri bagi para pelaku dan peminat musik nasional. Meskipun keputusan mereka hijrah adalah wajar dan manusiawi, tapi harus diakui bahwa ini memang bukan sekadar peristiwa biasa bila dilihat dari ‘nama besar’ PS selaku pionir subkultur indie di Indonesia selama 20 tahun terakhir. Terlebih lagi, peristiwa itu juga terjadi secara beriringan dengan serangkaian hijrahnya para mantan musisi subkultur dari sejumlah band, seperti Rumahsakit, The Upstairs, Rocket Rockers, dsb. dalam beberapa waktu belakangan.

Berbagai tanggapan pun bermunculan terhadap fenomena tersebut. Khususnya pada pengunduran diri Adi dan Udi, perbincangan mengenai agama dan musik terlihat mengemuka di antara para pegiat subkultur dalam beberapa pekan pasca peristiwa itu. Bahkan sepanjang 2015 terus bergulir wacana kritis terhadap hubungan agama dengan musik.

Banyak yang bersimpati pada keputusan mereka untuk hijrah, tapi tidak sedikit pula yang antipati. Di antara yang bersimpati adalah Anoa Records, sebuah label rekaman asal Jakarta yang merilis band-band bergenre indie-rock. Dengan cuitan bertagar #AnoaPagi (31/2/15) dari akun Twitter @AnoaRecords, mereka sampaikan penghormatan pada Adi dan Udi dengan ucapan, “Semoga menjadi muslim yang kaffah dan penuh berkah. Amin.” Anoa juga mengamati banyak teman mereka yang memilih fokus beribadah, dan mereka menghargai pilihannya untuk pensiun dari musik. Ini merupakan cerminan sang pengelola label yang cukup tawadhu dalam menyikapi musisi hijrah.

Ada pula uraian simpatik yang bisa mengungkapkan motivasi Adi berhijrah di tulisan Endy Sepkendarsyah, selaku teman sekaligus tetangga, melalui akun Facebook-nya (3/3/15). Berikut ini kutipan yang layak menjadi kesimpulan:

“Titik balik tajam yang telah ia ambil adalah bagian dari kesadaran tentang dirinya yang mengakui bahwa totalitas dan pendalaman di bidang musik selama ini telah menenggelamkan dirinya, di wilayah yang ternyata tidak ia inginkan. Ada wilayah lain dalam dirinya yang sebetulnya selama ini telah ia siapkan untuk dibangun, yaitu hubungan dirinya dengan apa yang ia percaya sebagai tempatnya kembali setelah habis jatah umurnya nanti. Namun betapa tersentak dirinya ketika menyadari bahwa wilayah yang ia siapkan dalam hatinya itu begitu kecil dibandingkan dengan apa yang telah ia sediakan untuk musik. Musik telah menjadi kota yang megah dalam hatinya sementara ruang spiritualnya ternyata tidak lebih kamar kontrakan sempit di tengah pemukiman padat penduduk yang tentu saja kumuh dalam perbandingan dengan hal sebelumnya.”

Dengan membaca uraian ini tentu kita selaku umat Islam bisa memahami betapa yang dirasakan oleh Adi adalah sewajarnya fitrah seorang muslim yang seiring usia dia telah memendam kerinduan terhadap iman. Tidak ada yang ganjil, bahkan itu sangat manusiawi. Usianya yang telah mencapai 40 tahun juga memberi hikmah tersendiri bagi dia untuk melakukan muhasabah. Kerinduan akan iman dan Islam yang memotivasi Adi untuk hijrah ini sejatinya dapat diterjemahkan seperti salah satu judul album karya dia bersama PS, “Time to Move on, Time for a Change”.

Namun yang memprihatinkan adalah munculnya antipati di subkultur musik yang menyuarakan kesan bahwa hijrah seperti itu hanyalah peralihan yang tercela dan sia-sia. Salah satunya ada yang mengolok-olok bahwa mereka yang hijrah menjelang usia 40-an merupakan dampak kegalauan psikologis yang menurut konsep Barat disebut ‘Midlife Crisis’, sambil menyitir judul lagu dari Faith No More. Padahal di dalam Islam justru usia 40 tahun bermakna mulia. Muslim yang memahami sirah nabawiyah selayaknya mengetahui Rasulullah SAW memulai fase kenabian beliau di usia 40 tahun. Allah SWT bahkan menyebutkan betapa mulia taufik hidayah yang Dia beri ke hambaNya di usia ini:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tigapuluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empatpuluh tahun, dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat nikmatMu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” [QS 46:15]

Melalui ayat ini, kita sebagai muslim tentu bersyukur atas maraknya pertobatan para musisi atau pegiat subkultur di sekitar usia tersebut. Justru yang patut dipertanyakan adalah mereka yang sudah menginjak 40-an namun sedikitpun tidak menyadari usianya makin berkurang. Padahal bila mau muhasabah, niscaya usia paruh baya akan menyadarkan bahwa rata-rata hidup manusia hanya sampai 60 tahun, dan itu berarti jatah hidupnya hanya tersisa sekitar 20 tahun.

Memang tantangan terberat bagi muslim untuk hijrah setelah bertahun-tahun terjerat budaya Barat yang memuat syubhat adalah keikhlasan untuk meninggalkan lingkungan dan pertemanan yang selama itu membuat dia nyaman. Sehingga para pemuda Islam yang berusia 30-an dan masih aktif di subkultur tersebut makin lama akan menghadapi dilema yang cukup sulit antara memilih keyakinan iman atau kehilangan teman-teman yang akan tidak sejalan lagi. Di samping itu, keputusan seorang muslim meninggalkan skena/subkultur musik demi mendalami agama Islam adalah taufik hidayah yang bukan sekadar karena usia bertambah namun juga berkat karunia Allah kepada dirinya:

“Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, Allah jadikan dia paham (faqih) dalam urusan agama.” [HR Bukhari & Muslim]

Selain tuduhan keji terhadap faktor usia, ada pula tudingan miring bahwa saudara-saudara kita ini berhijrah karena karirnya jatuh atau kehidupan pribadinya terpuruk. Pertanyaannya, bila yang berhijrah adalah musisi sukses atau karirnya bagus, apakah para penuding itu mau mengakui dan mengikuti hijrah sebagai jalan kebenaran? Tentunya mereka tetap enggan mengakui, karena dalih ini hanyalah pembungkus bagi kesombongan mereka dalam menolak kebenaran. Menyandera kebenaran dengan pencapaian materialistik macam itu mengingatkan kita pada kelakuan kaum quraisy di masa jahiliyah yang meragukan kebenaran ketika disampaikan oleh golongan kurang beruntung.

Tulisan ini tidak berpretensi mewakili komunitas tertentu yang didakwa selaku penyebab maraknya musisi subkultur berhijrah. Tidak pula bermaksud menggugat perbedaan pendapat terhadap hukum atas musik menurut Islam. Karena masing-masing ikhtilaf memiliki hujjah tersendiri. Lagipula tidak bisa disamaratakan hukum mengenai musik secara umum tanpa merinci unsurnya. Bagi yang meyakini bahwa musik pada dasarnya mubah, bukan berarti hukumnya menjadi mutlak seperti itu ketika terkait perkembangan unsur siyasah. Hukum atas musik yang ditampilkan oleh Mehteran pada masa Daulah Utsmaniyah sebagai penyemangat bagi Yanisari yang berangkat menuju futuhat ke negeri kafir (Barat), tentunya berbeda dengan hukum atas musik yang ditampilkan oleh majalah waralaba Rolling Stone melalui Café-nya sebagai perangkat korporat bagi hegemoni budaya Barat di negeri mayoritas muslim.

Tulisan ini berupaya mengungkapkan jalinan kekufuran antara kaum sekuler dan kuffar di balik antipatinya terhadap fenomena musisi hijrah. Ikatan bathil yang menjalin kesatuan batin pada kedua kaum tersebut perlu diungkap untuk menyadarkan muslim agar tidak terpikat tipudaya kaum sekuler dan kuffar yang dengan licik menyiasati perbedaan pendapat atas musik guna mencari celah pembenaran untuk subkultur yang sesungguhnya mereka wujudkan sebagai zona nyaman bagi penghujat syariat dan pembentukan generasi penolak otoritas agama dengan kedok ‘kebinekaan’.

Dalam menyikapi fenomena musisi hijrah, ada sejumlah pihak yang kemudian mempertanyakan; “Apakah tidak bisa beragama Islam dan sekaligus jadi pegiat (scenester) di subkultur musik?” Jawabannya tentu bisa, kalau beragama sekadar status di kartu identitas ataupun sebatas aktivitas ritual individual. Apalagi bila seseorang menganut agama selain Islam, maka tak ada halangan signifikan baginya untuk beragama sambil menekuni subkultur musik. Namun bagi yang beragama Islam dengan keimanan, niscaya akan mengalami benturan ideologis di lingkungan tersebut.

Kenapa benturan itu bisa terjadi? Perlu dipahami di satu sisi bahwa sejatinya Islam berbeda dengan agama-agama lain yang sekadar menata perkara spiritual dan ritual secara personal. Setiap muslim yang beragama dengan penuh keimanan akan memiliki kesadaran ideologis bahwa Islam bukanlah sekadar agama spiritual tetapi juga merupakan sistem keyakinan yang mengatur segala aspek kehidupan secara integral. Kesadaran inilah yang menggugah karakter setiap mukmin untuk melakukan perlawanan kepada ideologi-ideologi kufur yang menghalangi terwujudnya sistem Islam. Akibat rusaknya ilmu yang diajarkan melalui pendidikan sekuler, kebanyakan muslim mengira agama yang mereka anut ini sebatas mengatur perkara ritual dan moral dalam kapasitas individual. Dengan pemahaman keliru itu maka mereka mudah sekali dijejali nilai-nilai yang merusak dari luar Islam sampai tanpa disadari merasuki jatidiri.

Pada sisi lain, masyarakat muslim perlu menyadari pula bahwa subkultur musik yang berakar dari budaya Barat ini sesungguhya tidak bebas nilai, sebab di dalamnya terkandung muatan ideologis yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Subkultur ini bukan hanya dihidupi dari sesatnya humanisme, tapi pelaku dan pegiatnya secara naluriah telah terpikat untuk ikut menghidupi ideologi kufur yang melebur bersama pola pikir dan gaya hidup yang mereka anut.

Meski sejatinya merusak manusia, namun humanisme justru mendapat tempat terhormat di kalangan awam berkat merasuknya paham ini melalui berbagai kemasan budaya memikat yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan secara netral agama (sekuler). Humanisme merupakan akar kerusakan masyarakat Barat tetapi justru ditularkan ke muslim oleh kaum sekuler selaku para pengidap nifaq yang kemudian menjadi sekutu dalam ideologi kufur bersama kuffar.

Barat melalui humanisme telah memproklamirkan diri untuk menentang dan menghadang segala upaya yang akan membuka jalan bagi berkuasanya otoritas agama terhadap seluruh bidang kehidupan. Celakanya, ada pula sebagian muslim bermental inferior dan latah hingga mereka pun terjangkiti ideologi kufur ini. Padahal itu bertentangan dan bertolak belakang dengan Islam yang sesungguhnya justru memberlakukan otoritas agama ini bagi segala perkara.

Islam sudah sesuai fitrah manusia tanpa perlu dihakimi melalui humanisme, dan Islam sanggup membuat umatnya memahami hakikat manusia dengan bertauhid tanpa perlu menjalani sekularisasi yang dimainkan Barat guna menipu umat menuju kemanusiaan netral agama. Islamlah satu-satunya agama yang manusiawi karena berasal dari Allah SWT sendiri selaku pencipta manusia. Adakah yang lebih memahami manusia selain syariat dari Sang Pencipta?

Alih-alih menjadi faham penyempurna agama seperti diklaim kaum sekuler, humanisme sejatinya adalah sampah ideologis yang mencemari akidah. Mukmin sejati bukanlah humanis. Mustahil ada mukmin yang sekaligus humanis. Setiap mukmin meyakini Islam sebagai agama yang sempurna dan tidak perlu disempurnakan dengan humanisme. Sedangkan humanis meyakini bahwa Islam belum sempurna sehingga perlu disempurnakan lagi dengan humanisme.

Kemanusiaan dalam Islam adalah fitrah yang menghamba secara kaffah kepada Allah dengan berakidah dan bersyariah menurut ketentuanNya. Pernyataan bahwa humanisme tidak bertentangan dengan agama dan Tuhan hanyalah dusta. Karena sejatinya cita-cita humanisme adalah mewujudkan otoritas kemanusiaan netral agama yang dilandasi kedurhakaan dan pembangkangan terhadap otoritas Tuhan untuk mengatur manusia secara menyeluruh.

Salah kaprah pada sebagian masyarakat yang meyakini humanisme sejalan dengan Islam diantaranya adalah akibat tabiat kalangan awam yang sering sembarang menisbatkan istilah secara netral agama dengan mengiranya sebagai terminologi bebas nilai dari Barat. Sebenarnya perlu dipahami bahwa setiap kata mengandung makna, setiap makna mengandung konsep, dan tiap konsep mengandung worldview, sehingga tidak setiap kata bisa diadopsi secara netral agama. Dengan demikian maka kita bisa memahami bahwa sesungguhnya tidak ada yang disebut ‘Islam-humanis’ atau ‘Islam-nasionalis’, seperti halnya tak ada pula ‘Hindu-salafi’ atau ‘Kristen-jihadi’, karena masing-masing kata bertumpu pada worldview yang bukan hanya berbeda antara satu dengan lainnya tetapi bahkan saling bertentangan.

Tanpa disadari mayoritas muslim, humanisme kini menjelma bagaikan agama superior yang telah merambah akidah dengan seolah-olah menjadi pelengkap dan penyempurna bagi muamalah. Padahal nilai-nilai humanis ini sejatinya hanyalah kemasan pembenaran bagi kehidupan hedonis berbasis kemanusiaan netral agama. Menguatnya arus utama pembiadaban dari Barat ke negeri muslim seperti Indonesia sekaligus menumbuhkan keyakinan semu di masyarakat awam bahwa humanisme lebih utama dan unggul bila dibandingkan nilai-nilai keagamaan formal yang mereka anut.

Sebagai contoh betapa humanisme menjadi keyakinan dominan di kalangan subkultur adalah sikap seorang jurnalis musik nasional terhadap fenomena hijrah dengan mengatakan, “Saya mencoba menelisik dari sisi kemanusiaan saja, karena ranah agama adalah ranah yang selalu membuat saya terangsang untuk kritis, skeptis dan mungkin sinis”. Atau bisa juga kita telaah dari sikap seorang ekspatriat feminis asal AS yang menyusupkan misi kesetaraan gender di Indonesia melalui intervensi kreatif ke skena musik lokal dalam proyek bersama sejumlah musisi dan wartawati pribumi dengan mengatakan, “…seni adalah simbol dari kemanusiaan. Esensinya kita bisa saling menikmati, dan dari itu kita bisa mengalami empati, yang juga menjadi strategi untuk mencapai rasa kemanusiaan. Buat aku sebagai humanis, kita akan mencoba melalui medium komunikasi, yaitu seni untuk membahas persoalan secara kolektif”.

 

Dampak dari faham kemanusiaan yang kian dominan kini adalah rusaknya akidah dan ukhuwah di antara pemuda muslim saat mereka hanyut ke pergaulan multikultural, terutama dalam kawasan budaya urban di mana pembaratan gaya hidup menguasai pembentukan sudut pandang para pelakunya. Sehingga mereka kemudian malah berbalik arah menuntut muslim yang lain supaya menyesuaikan diri ke nilai-nilai kemanusiaan netral agama dengan aneka manipulasi dan pembenaran agar seolah-olah Islam tampak sejalan dan tak bertentangan dengan doktrin humanisme.

Begitulah cerminan dekadensi generasi muslim yang terbaratkan sampai jatidirinya tergila-gila kepada kultur Barat demi diakui sebagai humanis seperti idola-idola mereka yang toleran terhadap kemunkaran. Maka kita pun kerap mendapati mereka sebagai manusia yang berhobi cacimaki penuh benci kepada ormas-ormas Islam pelaksana nahi munkar. Mereka seolah-olah membenci kekerasan, padahal dalih itu hanyalah dusta guna membungkus pembelaan mereka pada kemunkaran, sebab kehidupan dan pergaulan diantara mereka pun merupakan bagian dari kemunkaran.

Mereka sejatinya bukan benci kekerasan tapi mereka pembenci nahi munkar. Islam bagi mereka hanya tersisa secara ritual atau sekadar status formal, sedangkan dalam hal bermasyarakat mereka menjadi manusia netral agama tanpa loyalitas mewujudkan otoritas Islam. Sifat seperti itu berinduk ke panutan mereka dari Barat yang meyakini bahwa agama tidak akan bisa mengatur kehidupan secara menyeluruh. Sehingga tumbuhlah mental sekuler yang rendah diri sebagai muslim karena merasa syariat Islam tidak akan adil bila diberlakukan di masyarakat. Ketidakyakinan akan Islam sebagai pengatur kehidupan merupakan warisan kolonial yang ditanamkan lewat pendidikan di negeri jajahan.

Sesungguhnya proses pembaratan terhadap generasi muslim telah berlangsung sangat lama di nusantara sejak masa kolonial. Saat itulah para kafir penjajah mulai memperalat pemuda pribumi dalam kaum elit guna dibentuk menjadi sekuler lewat pendidikan modern untuk mencemari dan mengebiri generasi muslim dari jatidiri dan ideologi Islam. Upaya membentuk kaum elit-modern yang terbaratkan telah dirintis para aktivis humanis dari negeri Belanda guna membendung aspirasi Islam dalam kehidupan bermasyarakat di nusantara. Politik budaya kala itu diterapkan oleh para penjajah kepada pribumi untuk meminimalisir rasa khawatir mereka terhadap perlawanan dari kaum muslimin.

Hindia Belanda pada masa Politik Etis memang memiliki proyeksi jangka panjang melalui investasi ideologi netral agama di kalangan pribumi guna menjaga kelangsungan penjajahan, sekaligus menjinakkan perlawanan umat Islam. Investasi ini terbukti berbuah keuntungan bagi penjajah sampai kini dengan lumpuhnya militansi generasi muslim. Hasilnya sekarang bukan hanya dinikmati Belanda, namun Barat sebagai entitas kuffar ikut mendapat manfaat dari sekularisasi yang dirintis dan dibina elit pribumi hasil didikan Belanda dulu yang menumbuhkan kebangsaan netral agama (nasionalisme) sehingga secara tidak langsung turut menjaga kepentingan imperialis kuffar di negeri muslim.

Pertalian antara kaum sekuler dan kuffar sudah terjalin lama pula sejak masa penjajahan fisik sampai kini menjadi penjajahan sistemik. Mereka pun saling saling mendukung dalam upaya menentang Islam selaku ideologi pribumi. Persekutuan jahat di antara mereka membentuk semacam barikade netral agama guna menghadang ideologi Islam. Melalui proses penyingkiran ideologi Islam selama hampir seabad, humanisme lalu menjadi narasi dominan yang menjangkiti sebagian muslim sebagai agama kemanusiaan yang dianut tanpa sadar sebagai akibat dari pendidikan dan kebudayaan yang mereka jalani. Muslim yang terjangkiti racun sekuler menjadi antipati terhadap ideologi Islam. Sedangkan muslim yang mempertahankan ideologi Islam akan ditentang dan diserang dalam lingkungan sekuler.

“Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” [QS 4:61]

Demikian pula di skena musik, saat ada indikasi seorang scenester menyatakan keberpihakan dia terhadap otoritas Islam, maka dirinya harus siap dikucilkan dari pergaulan subkultur sampai dicacimaki dengan hujatan‘sok suci!’, ‘fasis!’, ‘bigot!’, dsb. Tapi sebaliknya, kaum sekuler dan kuffar yang gemar menyuarakan pesan anti-agama atau bahkan anti-Tuhan justru diberi panggung dan disanjung oleh para penggembira (hipster). Sikap macam ini menjadi suatu bukti bahwa memang yang secara dominan menjiwai subkultur tersebut adalah sentimen anti-otoritas agama. Mereka sekadar mengakui agama sebatas ritual tapi alergi bila agama tampil selaku otoritas yang mengatur budaya.

Akibat terhanyut oleh pergaulan seperti itu, lambat laun pun terjalin simbiosis mutualistik di antara mereka untuk saling sambut dalam melecehkanIslam. Misalnya, saat sekelompok kuffar dengan kurang ajar menjadikan ulama serta fatwa sebagai sasaran olok-olok, maka kaum sekuler dengan gembira menyambut pelecehan itu sebagai bahan canda bersama mereka. Atau kaum sekuler saat membela maksiat juga gemar mengolok-olok dan menjuluki ‘lemah iman’ atau ‘iman manja’ bagi muslim yang menolak peredaran miras. Ironisnya kaum sekuler ini mendukung kuffar agar miras beredar luas karena mereka terbiasa menikmatinya bersama orang-orang kafir itu. Padahal di dalam Islam justru manusia yang tidak membenci kemunkaran itulah yang derajatnya lebih rendah dibanding lemah iman.

Muslim memang tidak dilarang untuk sekadar bermuamalah dengan orang kafir selama memegang teguh kaidah al wala’ wal bara’. Pertemanan dapat bersifat maksiat bukan hanya pada perkara kasat mata seperti menjadi penikmat miras bersama-sama, tapi bisa pula tersesat dalam batin saat pergaulan muslim dengan teman-temannya yang kafir lalu menumbuhkan suatu keyakinan bahwa, meski berbeda agama secara formal, namun sejatinya agama-agama yang mereka anut itu setara, sama-sama benar, dan sama-sama menuju Tuhan yang satu. Inilah kesesatan pluralisme.

Bagaimanapun juga, interaksi seorang muslim dengan temannya yang kafir tetap ada batasnya, dan posisi hakiki di antara keduanya tidak bisa disetarakan secara mutlak melalui persepsi humanis yang memandang hubungan kemanusiaan secara netral agama. Seseorang yang berfaham netral agama bisa jadi masih beragama secara ritual atau formal, tetapi dia meyakini posisi netral dengan menyingkirkan Islam sebagai aturan serta pandangan hidup (worldview) saat menghadapi realita bermasyarakat dan bernegara dalam sistem kufur, sehingga menjadi sekuler.

Mewabahnya penganut ideologi kufur dalam pergaulan subkultur adalah dampak dari banyaknya pemuda/remaja muslim sendiri yang tak memahami ajaran Islam secara utuh dan menyeluruh. Sehingga mereka pun mudah tersesat menjadi sekuler. Itulah akibat betapa bias batas ideologis ketika seorang muslim berteman dengan kawan-kawannya yang berbeda agama. Akibatnya dia tidak tersinggung saat syariat Islam dilecehkan oleh orang-orang kafir karena dia tidak memahami bahwa itu sesungguhnya bagian dari agama dia yang seharusnya dijaga kehormatannya. Nabi Muhammad SAW bahkan telah memperingatkan umatnya supaya sangat berhati-hati dalam menjalin pertemanan:

“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya. Maka hendaklah masing-masing kamu memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR Tirmidhi)

Mengikuti memang tidak selalu berarti pindah agama secara formal akibat pertemanan dengan umat agama lain. Tapi berteman beda agama tanpa mewaspadai budaya dan pikirannya akan membuat pandangan hidup seorang muslim berangsur-angsur mengikuti arah teman-temannya yang kafir dalam menilai serta menyikapi Islam. Bisa jadi secara formal dia tidak tampak seperti pindah agama karena masih sholat atau puasa, tapi secara fikriyyah dia sudah seperti kuffar yang meyakini Islam sebatas untuk ritual dan personal, sedangkan saat bermasyarakat menganut sekularisme.

Dengan demikian, keberpihakan dia secara ideologis ke Islam akan pudar akibat worldview-nya terlanjur bercampur dalam daur baur ideologi kufur. Rusaknya worldview kerap terjadi pada muslim yang mengabaikan peringatan dari Allah SWT mengenai sifat dasar kuffar yang tidak rela bila umat Islam belum mengikuti pandangan hidup mereka, seperti terungkap di QS 2:120. Perlahan tapi pasti muslim yang rusak worldview-nya akan merasa asing pada Islam dan sebaliknya merasa nyaman menjadi sekuler dengan melihat dunia seperti sudut pandang orang kafir yang lalai akan konsekuensi ukhrowi. Inilah pangkal terseretnya seorang muslim menuju sekuler saat pandangan dia ke agamanya sendiri tanpa disadari bergeser menjadi searah dengan sudut pandang kuffar dalam menilai Islam menurut selera beragama mereka hingga meyakini agama sebatas pribadi, agama cukup ritual, agama jangan berpolitik, dsb.

Perhatikan saja keakraban kaum sekuler dan kuffar ketika bersenda gurau dalam mengolok-olok umat Islam yang menyuarakan penegakkan syariat. Seperti halnya saat kaum sekuler berlagak bijak dengan seolah-olah menjadi pembela minoritas, tanpa mereka menyadari keberadaan golongan kafir harbi di negeri ini yang telah menjadi tirani minoritas selama setengah abad lebih dengan memanipulasi opini serta menyandera muslim selaku umat mayoritas agar tidak memberlakukan syariat Islam. Begitulah kejinya internalisasi racun ideologi sekuler di jiwa muslim sampai tanpa sadar membuatnya berbalik menyerang otoritas agamanya sendiri dengan dalih membela minoritas.

Sebagian pemuda yang menekuni subkultur rela menjejali persepsi mereka sendiri dengan fiksi paranoia terhadap dystopia sehingga otoritas Islam yang akan memberlakukan syariat akan mereka hadang seperti menentang fasisme. Ketika mukmin meyakini eskatologi Islam, maka kaum munafik itu justru beriman ke ramalan Orwellian seperti narasi profetik yang menjadi pedoman mereka dalam melindungi ilusi kebebasan duniawi yang mereka yakini.

Bila seorang muslim tidak peduli mengenai adanya muatan ideologis dalam subkultur musik, maka dia menekuni ini dengan santai karena sebagian jatidirinya tanpa disadari telah melebur bersama ideologi kufur yang menguasai pola pikir dia. Muslim yang terjerat ideologi kufur dalam subkultur ini memang ada sedikit yang masih beragama secara ritual, tapi banyakyang sudah lalai dan bahkan enggan untuk sekadar menunaikan sholat 5 waktu. Dan lebih banyak lagi di antara mereka yang tidak peduli ketika syariat agamanya dihujat, dicacimaki, atau dilecehkan oleh kuffar.

Sejatinya beriman dalam Islam bukan sekadar keyakinan spiritual atau ketekunan ritual, namun juga menyangkut kesadaran serta keberpihakan secara ideologis terhadap Islam dan otoritasnya untuk dapat memberlakukan syariat bagi seluruh aspek kehidupan. Seiring tumbuhnya kesadaran ideologi Islam di antara pemuda muslim yang masih beraktivitas di subkultur musik, kaum sekuler dan kuffar tampak merasa gerah terhadap fenomena itu karena mereka menilainya selaku potensi ‘gangguan’ terhadap kebersamaan mereka dalam kekufuran yang selama ini telah terjalin. Sehingga siapapun yang mereka pandang sebagai ‘gangguan’ itu pasti mengalami benturan ideologis di subkultur.

Benturan ideologis bisa kita ambil contoh dari kasus yang dialami Al a.k.a Ucay semasa bersama Rocket Rockers dan sekaligus menjadi aktivis gerakan #IndonesiaTanpaJIL (ITJ). Ucay sempat dihujat saat terunggah foto dia bersama aktivis ITJ yang memakai kaos bertulisan “Pluralisme, Injak Saja!”. Foto itu pun menuai kecaman dari scenester dan hipster yang memang salah kaprah dalam memaknai pluralisme. Dengan dukungan dan keterlibatan di ITJ, Ucay secara tidak langsung menunjukkan keberpihakan terhadap otoritas agamanya (Islam), dan itu dipandang oleh kaum sekuler dan kuffar sebagai ‘gangguan’ yang berpotensi ‘merusak’ jalinan kekufuran di antara kaum itu.

Sikap itu otomatis menjadi tiket bunuh diri bagi reputasi Ucay dalam lingkungan dan pergaulan subkultur. Bisa kita bayangkan betapa tak nyaman lagi berada di dalamnya ketika terjadi penghakiman dari kaum yang konon menganut kebebasan berekspresi itu ke sosok semacam Ucay yang mereka beri stigma ‘sok suci’ hanya karena menyuarakan aspirasi menurut Islam. Tak lama setelah itu, Ucay mengundurkan diri dari bermusik. Keputusan ini adalah resiko dari sikapnya selaku frontman sebuah band independen yang berani menyatakan diri sebagai penentang ideologi ‘sepilis’ (sekularisme-pluralisme-liberalisme) yang memang tumbuh subur dalam subkultur itu. Setelah beranjak dari subkultur, Ucay kini lebih leluasa berdakwah dan memotivasi remaja muslim untuk berhijrah secara ideologis.

Ketika subkultur musik ini mulai tumbuh di Indonesia sekitar era 80/90-an, awalnya sikap anti otoritas di kalangan itu masih sebatas diarahkan secara frontal ke negara dengan kecaman terhadap birokrat serta aparat rezim Orde Baru yang memang sangat otoriter pada masa tersebut. Tapi pasca Reformasi, sikap anti-otoritas yang mereka sebar kian menjalar dengan liar sampai menyerang otoritas agama, seiring berkembangnya liberalisasi agama melalui budaya.

Inilah rangkaian dampak ideologis ketika masyarakat di negeri muslim membiarkan generasi mudanya mengadopsi budaya Barat tanpa dibekali kewaspadaan pemikiran. Sejak kanak-kanak hingga remaja terbiasa menikmati musik dan menekuni subkulturnya dengan sekadar motivasi mengisi waktu luang agar terhindar dari perilaku negatif. Meski berdalih klise, “tergantung orangnya”, tapi kreativitas yang seolah-olah mengalir wajar hingga dewasa itu pada akhirnya mencemari jatidiri sampai terbentuk sudut pandang seperti sosok dari Barat yang menjadi inspirasi.

Wabah xenosentris telah membuat latah para remaja serta pemuda yang salah kaprah dalam menganut budaya Barat secara 1 paket utuh dengan muatan ideologinya. Seusai berproses dan berhasil meruntuhkan otoritas agama Kristen pada kalangan muda di Barat, maka kini Islam selaku agama mayoritas di Indonesia menjadi target mereka untuk berproses seperti itu. Pada gilirannya kini negeri mayoritas muslim ini menghadapi tumbuhnya generasi milenial berkarakter anti-otoritas agama sebagai dampak imperialisme kultural melalui lajunya penyatuan budaya global.

Di antara fitnah keji dari kaum sekuler terhadap fenomena muslim dalam subkultur ini adalah stigma bahwa seolah-olah mereka yang hijrah merupakan bagian dari gerakan takfiri atau rekruitmen teroris. Tuduhan ini menunjukkan bahwa kaum itu sejatinya tidak memahami tipologi gerakan Islam yang berkembang di masyarakat. Sehingga karena paranoid maka mereka pun menyamaratakan penilaian terhadap dakwah di luar arus utama sebagai penyimpangan.

Memang ada beberapa gerakan sempalan yang direkayasa melalui operasi intelijen dari rezim sekuler yang melayani kepentingan kuffar guna membuat masyarakat takut terhadap upaya penegakkan syariat. Tapi harus disadari bahwa pada dasarnya itu juga merupakan fitnah yang keji bagi Islam untuk menimbulkan kesan seolah-olah bila Indonesia menjadi Negara Islam maka akan ada banyak pihak yang dirugikan. Padahal sejatinya yang paling dirugikan dari dampak pemberlakuan syariat Islam justru pihak Asing (Barat) yang akan terhalang untuk mencengkram negeri ini.

Tentu sangatlah naïf dan tidak adil bila disamaratakan bahwa gerakan ideologis yang berkesan keras itu seluruhnya menyimpang dan tidak ada yang benar-benar memperjuangkan Islam. Sebab dengan meyakini stigma tersebut maka seorang muslim tanpa sadar telah menjadi jubir gratis bagi musuh Islam guna menyebar fobia kepada cita-cita umat menuju penegakkan syariat yang sejatinya merupakan kunci perlawanan terhadap cengkraman imperialis kuffar.

Intinya jangan bersikap paranoid dengan mencurigai musisi yang hijrah sebagai bagian dari gerakan menyimpang. Ironi bagi muslim bila gelisah melihat jumlah saudaranya yang hijrah semakin bertambah tetapi malah tidak resah melihat kuffar berkoar-koar untuk memukul rata bahwa segala gerakan berbasis ideologi Islam adalah ‘ancaman’, seperti aroma Islamofobia yang dulu ditiupkan para kafir penjajah guna menjinakkan perlawanan dari pribumi.

Menguatnya kesadaran ideologi Islam di masa pancaroba globalisasi ini seperti prediksi Prof. Robert A Scalapino mengenai terjadinya reorientasi jatidiri pada generasi awal abad 21 yang mempertanyakan kembali; “Apa yang saya percayai?”, “Siapa saya ini sebenarnya?”, dan “Kemana saya?”. Pemuda muslim pada masa sekarang mulai menyadari rancunya nilai kebersamaan yang selama ini dianut pendahulunya dengan orang yang berbeda agama.

Fenomena hijrah ini adalah pertanda baik ketika para musisi muslim mulai beramai-ramai meninggalkan gagasan humanisme akibat tumbuhnya kesadaran bahwa selama ini ternyata mereka diperalat lewat politik budaya oleh Barat untuk menentang otoritas agamanya sendiri (Islam) melalui imperialisme kultural yang nyaris menjadikan mereka bermental budak kolonial. Kini mereka kian menyadari dan mewaspadai humanisme sebagai narasi dominan yang dimainkan kuffar guna memperalat sebagian umat lewat tipuan pemikiran berbungkus nasionalisme, pluralisme, dsb.

Dalam beberapa tahun ke depan in syaa Allah fenomena musisi hijrah ini akan kian marak, seiring peralihan zaman menuju terbelahnya manusia menjadi 2 golongan (fusthathain); yakni golongan ke-1 terdiri dari orang beriman yang tidak tercampur nifaq, sedangkan golongan ke-2 terdiri dari orang munafiq (sekuler) yang tidak memiliki keimanan. Kita doakan saudara-saudara kita yang berhijrah semakin istiqomah, dan semoga kita pun selaku muslim terlindungi dari musibah di masa fitnah duhaimah’ serta terhindar dari tipudaya golongan sekuler yang celaka dan menyesatkan. Wallahul musta’an. []

Sumber: Amir Mustanir

Categories