Kepalsuan Itu Berbahaya

MUSTANIR.net – Segala yang palsu itu berbahaya. Seseorang mengambil keuntungan dari kepalsuan tersebut berupa pengaruh, kekuasaan, dan kekayaan. Sejak dahulu, selalu ada upaya memalsukan sesuatu demi kepentingan pribadi ataupun golongannya. Sejarah mencatat ada sederet kepalsuan yang melintasi kehidupan manusia.

Tuhan Palsu

Tercatat sejak zaman Nabi Nuh, ada patung patung orang orang shalih yang kemudian bertransformasi menjadi tuhan-tuhan yang disembah. Tradisi ini berlanjut hingga masa kini. Ketika zaman bergulir, manusia kemudian menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan palsu mereka. Bentuknya bisa berupa harta, tahta, bahkan wanita.

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Apakah kalian tidak memperhatikan, orang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan mereka.” (al-Jatsiyah: 23)

Nabi Palsu

Nabi palsu pun ada, bahkan sejak Nabi Muhammad ﷺ masih hidup. Mereka adalah Musailamah al-Kadzab, Aswad al-Unsi, Thulaihah al-Khuwailid dan Sajjah Binti al-Harits.

Hingga keberadaan mereka dimusnahkan di masa Abu Bakar Shiddiq. Akan tetapi nabi-nabi palsu ini tetap ada sepanjang sejarah kehidupan manusia hingga saat ini. Sebutlah nama Mirza Ghulam, Lia Eden, dan Ahmad Mushaddeq.

Al-Qur’an Palsu

Upaya menyesatkan umat dengan membuat al-Qur’an palsu pernah dilakukan oleh golongan tertentu. Ada kelompok Syiah membuat kitab al-Kafi, dan Ahmadiyah yang memiliki kitab Tadzkirah.

Semua dilakukan demi kepentingan kelompok tersebut, agar bisa mengedalikan pengikut dan memperkuat pengaruhnya.

Negara Palsu

Sejak kehancuran khilafah Islamiyyah tahun 1924, berdiri negera-negara palsu yang mengklaim diri mereka sebagai pemelihara urusan umat. Bentuknya berupa republik islam dan mamlakah Islam. Padahal hukum yang diterapkan jauh dari syariat Islam yang kaffah.

Para penguasa-penguasa ini tidak lebih dari hasil konspirasi para penjajah di dalam konferensi Syikes-Picot tahun 1917 yang membagi dunia Islam dalam sekat sekat nasionalisme.

Partai Politik Palsu

Partai politik sejatinya melakukan edukasi kepada umat akan pentingnya penerapan syariat Islam dalam sebuah negara. Tugas partai adalah melakukan amar maruf nahi munkar kepada penguasa dan mendakwahkan Islam.

ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر”

Artinya: “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang mengajak kepada Islam, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.” (Ali Imran: 104)

Akan tetapi lahirlah partai politik palsu yang mengelabui umat. Mereka datang setiap lima tahun sekali untuk mendapatkan suara, tetapi meninggalkannya setelah mereka berkuasa.

Bahkan yang lebih menyakitkan, mereka berkoalisi dengan orang-orang sekuler untuk mengaborsi hukum-hukum Islam. Bahkan Aktivitas politik mereka tidak ubahnya partai-partai sekuler.

Ulil Amri Palsu

Imbas dari adanya negara-negara palsu yang tidak menjalankan syariat Islam kaffah dalam sistem khilafah, lahirlah ulil amri palsu. Mereka membuat aturan-aturan tidak bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah, mereka memaksa umat agar taat dan tunduk di bawah hukum selain hukumnya Allah.

Ulil amri palsu ini menjalankan sebagian dari hukum Allah, dan meninggalkan sebagian lainnya. Karena ada keuntungan di dalamnya. Padahal cara-cara seperti ini dicela oleh Allah di dalam al-Qur’an.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Apakah kalian mengimani sebagian isi al-Kitab dan mengkufuri sebagian lainya, maka tidak ada balasan bagi mereka yang melakukan hal demikian kecuali kehinaan di dalam kehidupam dunia.” (al-Baqarah: 85)

Khatimah

Jika semua kepalsuan itu adalah bahaya, maka sudah semestinya yang palsu-palsu itu dihapuskan, karena mengelabui manusia. Mereka mengambil keuntungan dari kepalsuan itu. Termasuk ijazah palsu dari seorang mantan presiden. []

Sumber: Muhammad Ayyubi (Mufakkirun Siyasiyyun Community)

About Author

Categories