Ketika Kader Mahasiswa Islam Melakukan Ulah

rusuh-hmi

Ketika Kader Mahasiswa Islam Melakukan Ulah

Kongres Himpunan Mahasiswa Islam di Pekanbaru, Riau, tercoreng. Sejumlah kader organisasi itu berulah di kampung orang.

Peristiwa itu terjadi sejak Sabtu (21/11) malam. Saat itu, sekitar 3.000-an kader HMI dari Sulawesi Selatan dan Barat terlantar di Kota Pekanbaru. Mereka protes karena tidak dapat penginapan. Namun, mereka malah merusak sejumlah fasilitas di dalam GOR Pekanbaru.

“Makan kami tidak teratur, dari Tanjung Priok, tidak dikasih makan selama dalam perjalanan. Ada yang makan ada yang tidak. Kalau pun ada, itu yang punya duit pribadi,” kata Gazali, mahasiswa HMI dari Makassar, saat berbincang dengan merdeka.com, usai aksi bakar ban di jalan jenderal Sudirman Pekanbaru, Riau.

Gazali merasa kedatangannya jauh-jauh dari Sulawesi Selatan diabaikan oleh panitia Kongres HMI Pekanbaru. Gazali mengaku tidak meminta banyak, hanya makan dan tempat tidur.

“Tapi itu panitia kongres dapat Rp 3 miliar dari Pemerintah Riau, ditambah Rp 4 miliar dari senior HMI, tapi kami ditelantarin, padahal kami disuruh datang,” ujar Gazali.

Sementara itu, Direktur Intelijen Polda Riau, Kombes Djati Witoyo Abadi, menyesalkan kondisi itu. “Panitia ini enggak siap menerima peserta dari Sulawesi yang banyak. Mereka datang dari jauh, sampai sini panitia enggak ada dilihat,” kata Djati.

Djati menambahkan, mereka kecewa lalu cari perhatian, kemudian aksi di jalan protokol Jenderal Sudirman, tepatnya di depan Gedung Olah Raga (GOR).

“Kita sudah nego, mereka setuju untuk redam, kita cari panitia kongresnya, dan mereka janji akan mencari solusi penginapan. Ada ribuan mahasiswa dari Sulawesi pakai bus, difasilitasi, tapi sampai sini tidak mendapat perhatian,” ucap Djati.

Selain merusak fasilitas umum halte bus, mereka menghancurkan lampu taman hias Gelanggang Olahraga Remaja, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru. Massa ini melempari kaca halte, bahkan sempat memblokir ruas jalan dengan cara membakar tempat sampah yang terbuat dari ban.

Bahkan, mereka sempat mengancam akan menghancurkan Gelora Olahraga (GOR) Pekanbaru jika permintaannya tak dipenuhi. Massa sudah lebih dulu merusak sejumlah fasilitas umum, lampu-lampu taman dan kaca-kaca GOR.

“Kami mendesak penyelenggara segera memberikan penginapan! Kalau enggak diberikan GOR akan akan dihancurkan,” teriak Panitia HMI dari Makassar, Ahmad.

Ahmad melanjutkan, rombongan kader HMI asal Makassar ini sudah mendapatkan janji dari panitia untuk menyediakan makanan dan penginapan sejak pagi. Namun belum dipenuhi hingga malam ini hingga membuat sebagian besar rombongan resah.

“Panitia janjikan tiga menit disediakan, sampai sekarang belum ada penginapan,” keluh Ahmad.

Komentar Mustanir.com

Ketika mahasiswa Islam kehilangan ruh perjuangannya dan tidak bisa membedakan mana yang harus dilakukan dan mana yang seharusnya tidak dilakukan. Jika ada ricuh dan rusuh bisa dipastikan ada kesalahan dalam kaderisasi organisasinya. Anarkisme bukanlah ciri dari perjuangan Islam. Tapi lebih kepada perjuangan kaum kiri. Apa yang sebenarnya HMI ini perjuangkan?

Mainstream perjuangan mahasiswa Islam lebih tertarik kepada solusi dari Ideologi kiri dibandingkan Ideologi Islam. Masihkah perlu menempelkan embel-embel Islam dibelakang organisasinya jika sikap kader2 HMI masih anarkis? Atau tetap mempertahankan embel-embel Islam, tapi perjuangkanlah Islam dan formalisasi Syariat.

Categories