Kisah Abdullah Bin Al-Mubarak

Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadhih, Abu Abdurrahman Al-Handzali. Namun, beliau lebih dikenal dengan namanya “Ibnul Mubarak”. Ayahnya berasal dari Turki dan ibunya dari Khawarizmi. Beliau dilahirkan pada tahun 118 H. Gelar beliau sangat banyak, di antaranya: Al-HafizhSyekh Al-IslamFakhr Al-Mujahidin, pemimpin para ahli zuhud, dan masih banyak gelar lainnya. Beliau habiskan usianya untuk melakukan safar dalam rangka berhaji, berjihad, dan berdagang. Karena itu, beliau dikenal dengan “As-Saffar” (orang yang rajin melakukan perjalanan).

Guru dan murid Abdullah bin Al-Mubarak

Beliau sering melakukan perjalanan dan petualangan dalam mencari hadis, sehingga beliau memiliki guru yang sangat banyak. Di antara guru beliau adalah Sulaiman At-Taimi, `Ashim Al-Ahwal, Humaid Ath-Thawil, Rabi` bin Anas, Hisyam bin `Urwah, Al-Jariri, Ismail bin Abi Khalid, Khalid Al-Hadza`, Barid bin Abdillah, dan masih banyak deretan ulama lainnya. Bahkan, beliau juga menulis hadis dari orang yang lebih muda atau lebih rendah tingkatan ilmunya dibanding beliau.

Murid beliau juga sangat banyak; tersebar di berbagai negeri yang tak terhitung jumlah mereka, karena dalam setiap Ibnul Mubarak bersafar, banyak orang yang menimba ilmu dari beliau. Di antara murid senior beliau adalah Abdurrahman bin Mahdi, Yahya bin Ma`in, Hibban bin Musa, Abu Bakr bin Abi Syaibah, Utsman bin Abi Syaibah, Ahmad bin Mani`, Ahmad bin Jamil, Al-Husain Al-Maruzi, Hasan bin `Arafah, dan masih banyak ulama besar lainnya.

Pujian ulama untuk Ibnul Mubarak

Para ulama memberikan banyak pujian untuk beliau karena kemuliaan dan ilmu beliau. Berikut ini beberapa pujian yang disampaikan para ulama untuk beliau:
1. Ibnu Mahdi mengatakan, “Pemimpin (agama) ada empat: Malik, Ats-Tsauri, Hammad bin Zaid, dan Ibnul Mubarak.” Ibnu Mahdi lebih memuliakan beliau daripada Ats-Tsauri.
2. Ahmad bin Hambal mengatakan, “Belum ada orang yang sezaman dengan beliau yang lebih rajin dalam menuntut ilmu melebihi Ibnul Mubarak.”
3. Abbas bin Mus’ab mengatakan, “Abdullah bin Mubarak mengumpulkan ilmu hadis, fikih, bahasa Arab, sejarah, keberanian, kedermawanan, dan kecintaan dari semua kalangan.”
4. Hasan bin Isa bin Masirjis mengatakan, “Para murid Ibnul Mubarak berkumpul, kemudian mengatakan, ‘Mari kita sebutkan kelebihan Ibnul Mubarak.’ Mereka menyebutkan, ‘Dalam dirinya terkumpul ilmu, fikih, adab, nahwu, bahasa, sifat zuhud, keberanian, syair, kefasihan dalam berbicara, kebiasaan rajin bertahajud, kebiasaan rajib beribadah, haji, perang, kepiawaian dalam menunggang kuda, sifat diam untuk hal yang tidak penting, keadilan, dan sifat jarang berselisih dengan orang di sekitarnya.’”
5. Ibnu Ma`in mengatakan, “Beliau adalah ulama yang tsiqah dan kuat hafalannya. Kitab yang pernah beliau sampaikan dalam menyampaikan hadis memuat 20.000 hadis.”
6. Yahya bin Adam mengatakan, “Jika saya mencari permasalahan yang terperinci dan tidak saya temukan di kitab karya Ibnul Mubarak maka saya putus asa untuk mencarinya.”
7. Syu’aib bin Harb mengatakan, “Andaikan saya mencurahkan seluruh kemampuan saya selama tiga hari dalam setahun, untuk melakukan usaha sebagaimana yang dilakukan Ibnul Mubarak, saya pasti tidak mampu.”
8. Dari Nu’aim bin Hammad, bahwa Ibnul Mubarak menceritakan bahwa ayahnya pernah berpesan kepadanya, “Sungguh, jika aku menemukan kitabmu, akan aku bakar!” Ibnul Mubarak mengatakan, “Tidak ada masalah bagiku. Semua sudah tersimpan di dadaku.”

Masih banyak sederet pujian yang diberikan para ulama untuk beliau. Sampai, ketika Imam Adz-Dzahabi menyebutkan biografi beliau, Adz-Dzahabi mengatakan, “Demi Allah, saya mencintainya karena Allah. Saya mengharapkan kebaikan dengan mencintainya, karena Allah telah memberikan kenikmatan kepadanya berupa ketakwaan, sifat rajin beribadah, keikhlasan, jihad, ilmu yang luas, ketelitian dalam ilmu, dan sifat-sifat terpuji lainnya.”

Di antara bukti kedermawanan beliau adalah beliau menginfakkan, kepada fakir miskin, 100.000 dirham (sekitar 2,8 milyar rupiah) setiap tahunnya.

Karya Ibnul Mubarak

Beliau meninggalkan banyak karya tulis yang sangat berharga, di antaranya adalah:
1. Tafsir Al-Qur`an. Merupakan kitab tafsir yang ditulis oleh Ibnul Mubarak.
2. Ad-Daqaiq fi Ar-Raqaiq. Buku ini mengumpulkan beberapa hadis-hadis yang menggugah hati.
3. Riqa` Al-Fatawa.
4. Al-Musnad. Sebagaimana kitab musnad lainnya, kitab ini merupakan kumpulan hadis bersanad lengkap yang sampai kepada Ibnul Mubarak.
5. Al-Jihad. Buku ini, secara khusus, mengupas fikih jihad dan aturan-aturannya. Buku ini juga membahas tentang tata cara shalat khauf. Penjelasan yang disampaikan dalam buku ini berbentuk pembawaan hadis yang disertai sanadnya.
6. Az-Zuhd. Berisi kumpulan hadis tentang zuhud dan keutamaanya.

Wafatnya Ibnul Mubarak

Beliau meninggal di ranjang, sepulang dari peperangan melawan Romawi. Tepatnya, di daerah Hait, pada bulan Ramadan tahun 181 H. Semoga Allah merahmati Imam Abdullah bin Al-Mubarak. (Adz-Dzahabi, Tadzkirah Al-Huffazh, Al-Maktabah Asy-Syamilah, volume 1, hlm. 275)

Pertaubatan Abdullah bin Mubarak

Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi lahir pada tahun 118 H/736 M. Ayahnya seorang Turki dan ibunya seorang Persia. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka dan seorang zahid termasyhur. Abdullah bin Mubarak telah belajar di bawah bimbingan beberapa orang guru, baik yang berada di Merv maupun di tempat-tempat lainnya, dan ia sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam gramatika dan kesusastraan. Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat pada tahun 181 H/797 M. Banyak karya-karyanya mengenai Hadits, salah satu di antaranya dengan tema “Zuhud masih dapat kita jumpai hingga waktu sekarang ini.”

Abdullah bin Mubarak sedemikian tergila-gila kepada seorang gadis dan membuat ia terus-menerus dalam kegundahan. Suatu malam di musim dingin ia berdiri di bawah jendela kamar kekasihnya sampai pagi hari hanya karena ingin melihat kekasihnya itu walau untuk sekilas saja. Salju turun sepanjang malam itu. Ketika adzan Shubuh terdengar, ia masih mengira bahwa itu adalah adzan untuk shalat ‘Isya. Sewaktu fajar menyingsing, barulah ia sadar betapa ia sedemikian terlena dalam merindukan kekasihnya itu. “Wahai putera Mubarak yang tak tahu malu!”. Katanya kepada dirinya sendiri. “Di malam yang indah seperti ini engkau dapat tegak terpaku sampai pagi hari karena hasrat pribadimu. tetapi apabila seorang imam shalat membaca surah yang panjang engkau menjadi sangat gelisah.”

Sejak saat itu hatinya sangat gundah. Kemudian ia bertaubat dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah. Sedemikian sempurna kebaktiannya kepada Allah sehingga pada suatu hari ketika ibunya memasuki taman, ia lihat anaknya tertidur di bawah rumpun mawar sementara seekor ular dengan bunga narkisus di mulutnya mengusir lalat yang hendak mengusiknya.

Setelah bertaubat itu Abdullah bin Mubarak meninggalkan kota Merv untuk beberapa lama menetap di Baghdad. Di kota inilah ia bergaul dengan tokoh-tokoh sufi. Dari Baghdad ia pergi ke Mekkah kemudian ke Merv. Penduduk Merv menyambut kedatangannya dengan hangat. Mereka kemudian mengorganisir kelas-kelas dan kelompok-kelompok studi. Pada masa itu sebagian penduduk beraliran Sunnah sedang sebagiannya lagi beraliran fiqh. Itulah sebabnya mengapa Abdullah disebut sebagai toko yang dapat diterima oleh kedua aliran itu. Ia mempunyai hubungan baik dengan kedua aliran tersebut dan masing-masing aliran itu mengakuinya sebagai anggota sendiri. Di kota Merv, Abdullah mendirikan dua buah sekolah tinggi, yang satu untuk golongan Sunnah dan satu lagi untuk golongan Fiqh. Kemudian ia berangkat ke Hijaz dan untuk kedua kalinya menetap di Mekkah.

Di kota ini ia mengisi tahun-tahun kehidupannya secara berselang-selang. Tahun pertama ia menunaikan ibadah haji dan pada tahun kedua ia pergi berperang, tahun ketiga ia berdagang. Keuntungan dari perdagangannya itu dibagikannya kepada para pengikutnya. la biasa membagi-bagikan kurma kepada orang-orang miskin kemudian menghitung biji buah kurma yang mereka makan, dan memberikan hadiah satu dirham untuk setiap biji kepada siapa di antara mereka yang paling banyak memakannya.

Abdullah sangat teliti dalam kesalehannya. Suatu ketika ia mampir di sebuah warung kemudian pergi shalat. Sementara itu kudanya yang berharga mahal menerobos ke dalam sebuah ladang gandum. Kuda itu lalu ditinggalkannya dan meneruskan perjalanan-nya dengan berjalan kaki. Mengenai hal ini Abdullah berkata: “Kudaku itu telah mengganyang gandum-gandum yang ada pemiliknya”. Pada peristiwa lain, Abdullah melakukan perjalanan dari Merv ke Damaskus untuk mengembalikan sebuah pena yang dipinjamnya dan lupa mengembalikannya.

Suatu hari Abdullah melalui suatu tempat. Orang-orang mengatakan kepada seorang buta yang ada di situ bahwa Abdullah sedang melewati tempat itu. “Mintalah kepadanya segala sesuatu yang engkau butuhkan!” “Abdullah berhentilah!”, orang buta itu berseru. Abdullah lalu berhenti. ” Doakanlah kepada Allah untuk mengembalikan penglihatanku ini!”, ia memohon kepada Abdullah. Abdullah menundukkan kepala lalu berdoa. Seketika itu juga orang buta itu dapat melihat kembali.

Categories