Ahmad Hanafi Rais: Saya Mundur dari DPR, Konsekuensi Akidah

MUSTANIR.net – Ahmad Hanafi Rais menyatakan dirinya mengundurkan diri dari jabatan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Periode 2019-2024 karena konsekuensi dari akidah yang diyakininya.

Saya mundur itu adalah konsekuensi akidah yang saya yakini,” ujarnya dalam Bincang Hangat Fokus Spesial: Hijrah dan Politik, Ahad (30/6/2024) di kanal youtube.com/uiyofficial

Menurutnya, keputusan itu diambil karena aktivitasnya DPR memang sudah tidak sesuai dengan standar yang telah Allah tetapkan di dalam al-Qur’an maupun apa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Bukan Apolitik

Ia mengatakan, dirinya mundur dari politik, bukan lantas apolitik. “Tapi saya ingin mengatakan juga bahwa bukan berarti kalau mundur dari politik lantas apolitik, bukan juga,” tegasnya.

Karena, menurutnya, hal itu tergantung pada pemahaman seseorang terhadap politik itu apa. “Kita mendefinisikan politik itu apa,” jelasnya.

Ia mengungkapkan keputusan finalnya untuk mundur dari anggota dewan sudah mantap, karena ia telah menemukan pemahaman politik yang menurutnya sudah menyelesaikan segala kegelisahannya, “Sudah ketemu jawabannya, madep mantep,” tandasnya.

Menurutnya, pemahaman politik itu berubah kalau pengertian atas politik itu sendiri berubah. Kalau yang tadinya memahami politik ‘who gets what and how’ (tentang siapa dapat apa dan bagaimana cara mendapatkannya), belakangan (setelah dirinya memilih jalan baru), politik tidak seperti itu.

Definisi Politik

Ia menjelaskan, definisi politik dari tradisi Islam dan berdasarkan pengetahuannya, bahwa politik itu adalah as siyasah. “Itu adalah ri’ayatus su’unil ummah bil Islam dakhiliyan wa kharijiyan. Politik itu mengurusi urusannya masyarakat dengan cara Islam, baik dalam urusan domestik maupun luar negeri,” jelasnya.

Jadi, simpulnya, ini pengertian yang tidak tergantung orang, tidak tergantung waktu dan juga tidak tergantung punya kekuasaan atau tidak. “Karena ngurusin umat itu, ngurusin masyarakat itu day to day sifatnya,” tandasnya.

Problem Judol

Ia mencontohkan problem judi online (judol) yang terjadi di negeri ini.

“Jadi, ketika sekarang yang saya pahami, ketika kita melihat masyarakat terkena problem judi online. Ini semua lapisan masyarakat, katanya dari eksekutif, legislatif, sampai penegak hukum maupun masyarakat biasa aja terjerat judi online. Inilah problem nyata, ini problem nyata,” ujarnya menegaskan.

Solusi

Ia memandang yang namanya problem, tentu harus dicarikan solusinya. Sehingga untuk menemukan solusinya maka harus mempelajari faktanya dulu, akar masalahnya itu apa.

“Untuk kemudian membaca fakta, menemukan akar masalahnya kemudian menghadirkan solusi dan membuat solusi itu menjadi efektif, itu adalah politik,” terangnya.

Hanafi menjelaskan, untuk mengedukasi bahwa judol itu merusak, kemudian harus ada solusi yang sifatnya juga sistemik karena ini problem tidak individual tapi problem sistemik, hampir semua orang, banyak lapisan masyarakat, maka tentu solusinya sistemik, tidak bisa individual.

“Dan yang harus dikemukakan adalah menyelesaikan sebabnya, bukan menyelesaikan akibatnya,” ungkapnya.

Ia mencontohkan ada wacana perlu bansos untuk korban judol. “Nah, ini kan namanya menyelesaikan akibat, tapi sebabnya dibiarkan saja,” sesalnya.

Menurutnya, menyelesaikan judol tidak perlu menunggu ada pemilu, tidak perlu menunggu presiden baru, tidak perlu menunggu dilantiknya anggota DPR yang baru, karena problem ini ada nyata.

“Maka, ya siapa pun punya kewajiban untuk kemudian bersama-sama memberikan solusi atas ini,” ucapnya.

Hingga suatu saat kelak, lanjutnya, kalaupun nanti ada yang punya kekuasaan atau sudah punya jabatan, itu harusnya digunakan untuk menyelesaikan problem yang sistemik semacam ini. Dan dari situ kemudian politik menjadi twenty-four hours, urusan masyarakat itu 24 jam.

“Itulah, kenapa saya kira, definisi ini menjadi lebih membuat semangat justru, dan mestinya ini yang kemudian menggeser, menggusur definisi lama, karena kalau definisi lama ini kan soal orangnya, soal ‘apa caranya, dapat apa’, makanya, perlu kita sebarkan pemahaman politik,” pungkasnya. []

Sumber: ‘Aziimatul Azka

About Author

Categories