Konsep Akidah yang Membangkitkan Umat

MUSTANIR.net – Dulu sekitar tahun 2015 atau 2014, saat mendiskusikan bab Jalan Menuju Iman di dalam buku Nizhamul Islam karangan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, kawan diskusi ini mempertanyakan hal yang tidak terduga. Tidak saya duga pertanyaan ini akan diajukan. Dia bertanya, saat membahas Jalan Menuju Iman ini, di mana posisi tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah, dan asma wa sifat?

Saya yang bukan berlatar belakang pondok, dan hanya mengikuti pelajaran agama di sekolah umum yang sekuler, kaget dan merasa kebingungan. Di sisi lain, saya juga jadi bertanya pada diri sendiri: lantas di mana pula konsep akidah yang 50 yang banyak dikaji kalangan Aswaja? Ini akhirnya juga muncul di pikiran saya, setelah munculnya pertanyaan kawan saya ini. Namun kemudian saya katakan ke kawan saya tersebut.

Tauhid uluhiyah, rububiyah, asma wa sifat, ini adalah konsep akidah yang dicetuskan oleh saudara-saudara kita yang mengikuti pemikiran Syekh Ibnu Taimiyah, dan sekarang banyak diteruskan oleh saudara-saudara kita di tempat kajian Salafi atau Wahabi. Di sisi lain, di dalam pelajaran-pelajaran sekolah, kita juga mendapati pelajaran agama yang mengajarkan konsep akidah 50. Akidah 50 adalah konsep akidah kalangan aswaja, yaitu 20 sifat wajib Allah dan 20 sifat mustahil Allah, serta 1 sifat jaiz Allah, kemudian 4 sifat wajib Rasul dan 4 sifat mustahil Rasul, serta 1 sifat jaiz Rasul.

Baik konsep tauhidnya Syekh Ibnu Taimiyah, maupun konsep akidah 50 Aswaja, pada kenyataannya telah menimbulkan pergesekan pemikiran di antara dua kelompok tersebut. Pergesekan tersebut kemudian sampai pada ranah saling menyesatkan satu sama lain, sampai sekarang ini.

Jika ditilik jauh ke belakang, pergesekan kedua kelompok ini muncul sebagai akibat dari munculnya mutakalimin. Mereka memperdebatkan soal asma dan sifat Allah, soal ajal, rezeki, iradah Allah, takdir, qadha dan juga qadar, serta khalqul af’al atau pencipta perbuatan manusia.

Perdebatan dan pergesekan pemikiran tersebut terus berlangsung sampai sekarang, sehingga menimbulkan rasa sedih ketika kaum muslim melihatnya, karena terkadang justru menimbulkan konflik horizontal di antara sesama muslim. Namun, konsep akidah kedua kelompok ini pada kenyataannya, justru yang paling banyak dijumpai dan diajarkan di dalam buku-buku pelajaran dan berbagai kajian.

Ada pun konsep akidah yang ada di dalam pembahasan bab Jalan Menuju Iman, konsep akidah ini sama sekali berbeda dengan konsep kalompok Salafi maupun Aswaja. Konsep akidah Syekh Taqiyuddin an-Nabhani yang dijelaskan dalam buku Nizhamul Islam, lebih menitikberatkan pada pembahasan terkait akidah dan konsekuensi-konsekuensinya bagi seorang muslim yang dengan begitu maka dia akan menjadi seseorang yang berkepribadian islam (berpola pikir islami dan berpola sikap islami).

Atau dengan bahasa yang lebih mudah, yaitu bagaimana menjadi seorang muslim yang baik. Karena itu, di awal pembahasan bab Jalan Menuju Iman, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani mengaitkan pembahasan akidah ini dengan kebangkitan, yaitu bangkit dari yang semula tidak Islami menuju pribadi yang Islami. Bangkitnya manusia agar menjadi Islami, sangat terkait dengan akidahnya, yaitu pemahamannya mengenai alam semesta, manusia, kehidupan; apa yang ada sebelum kehidupan; apa yang ada setelah kehidupan; serta keterkaitan ketiganya.

Karena itu, di dalam bab Jalan Menuju Iman, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa manusia berasal dari (diciptakan oleh) Allah. Misi hidup manusia di dunia adalah menjalankan syariat Allah. Dan manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hari Kiamat, apakah mereka sudah menerapkan syariat Allah atau tidak? Jika tidak maka mereka akan berakhir di neraka, sedangkan jika menerapkan maka manusia akan berakhir di Surga. Begitu.

Jadi tidak ada pembahasan, bagaimana cara Allah bersemayam di atas ‘Arsy (istawa ‘alal ‘arsy), bagaimana cara Allah turun ke langit dunia, bagaimana cara Allah melihat, siapa yang menciptakan perbuatan manusia apakah Allah ataukah manusia sendiri, dan sebagaimana. Tidak ada pembahasan seperti ini. Sama sekali tidak disinggung.

Justru Syekh Taqiyuddin an-Nabhani memberikan catatan kritik terhadap konsep akidah 50 Aswaja dan ketauhidan Salafi di dalam buku Syakhshiyah Islamiyah jilid 1. Apa saja kritiknya? Bisa dibaca di dalam buku tersebut.

Pembahasan akidah 50 Aswaja dan ketauhidan Salafi, menurut saya justru lebih pas dibahas dalam pembahasan bab ke dua buku Nizhamul Islam, yaitu bab Qadha dan Qadar. Karena bab ini membahas topik-topik yang juga dibahas mutakalimin yang juga dibahas para ulama semisal Imam Abu Hasan al-Asy’ari yang banyak menjadi rujukan akidah Aswaja, juga Syekh ibnu Taimiyah yang juga membahas seputar asma dan sifat Allah.

Secara pribadi, saya berpendapat bahwa pembahasan konsep akidah yang ada dalam bab Jalan Menuju Iman, justru lebih relevan untuk materi kajian-kajian agama dan materi pelajaran agama di masa sekarang, yaitu masa di mana manusia dikuasai pemahaman-pemahaman Barat yang sangat bertentangan dengan Islam. Sehingga pendidikan agama yang diselenggarakan, tidak membuahkan individu-individu yang bertakwa.

Justru sebagian dari mereka malah menjadi penentang sebagian ajaran agama Islam. Ini tentu merupakan kemunduran. Mereka menganggap syariah Islam bertentangan dengan HAM, syariah Islam tidak cocok untuk negara Indonesia, dan sebagainya.

Ini bukan kemajuan. Ini keterpurukan. Maka harus dibangkitkan. Sehingga konsep akidah Syekh Taqiyuddin an-Nabhani inilah yang sungguh dibutuhkan umat ini, agar mereka dibangkitkan dari pribadi yang tidak Islami menuju pribadi yang Islami.

Inilah akidah yang membangkitkan umat, yang justru dibutuhkan umat sekarang ini. Bukan konsep akidah yang justru memecah belah umat, menjadikan mereka saling bertikai satu sama lain sehingga melupakan kerusakan pemikiran yang melanda umat Islam karena disibukkan dengan pertikaian-pertikaian antar sesama muslim.

Kembali pada pertanyaan kawan saya di atas. Di mana posisi akidah Aswaja dan ketauhidan Salafi? Saya katakan kepada kawan saya itu. Menurut saya pribadi, jawabannya sebagai berikut.

Sebagai sebuah ilmu yang telah diwariskan secara turun temurun dan diakui oleh para ulama, maka boleh saja saya katakan bahwa konsep kedua akidah tersebut merupakan “pembahasan lanjutan” bagi yang ingin mendalaminya. Hanya saja, tanpa mempelajarinya pun, maka tidak menjadi suatu masalah bagi kaum muslim, karena dengan konsep akidah Syekh Taqiyuddin an-Nabhani seharusnya sudah mencukupi untuk menjadikan seorang muslim memiliki akidah yang lurus yang akan membentuk pribadinya menjadi pribadi yang Islami.

Di sisi lain, konsep akidah yang cocok untuk diterapkan dalam sebuah negara, menurut saya adalah konsep akidahnya Syekh Taqiyuddin an-Nabhani ini. Hal ini akan lebih cenderung menyatukan umat, dan tidak memecah belah umat. []

Sumber: Agus Trisa

About Author

Categories