KTT OKI dan Solusi Hakiki untuk Yerussalem dan Palestina

Yerussalem | foto:nst.com


MUSTANIR.COM, Keputusan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan Yerussalem sebagai Ibukota Israel pada 06 Desember 2017 menuai banyak kecaman dari berbagai pihak, tak terkecuali dari pemimpin negeri-negeri Muslim. Rabu, 17 Desember 2017 para peminpin negara Islam berkumpul dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Istanbul, Turki membahas isu Palestina pasca dinyatakannya Yerussalem sebagai Ibukota Israel (detik.com/news).

Organisasi Kerjasama Islam(OKI) ini beranggotakan 57 negara muslim seperti Turki, Palestina, Yordania, Afghanistan, Aljazair, Malaysia, Lebanon, termasuk Indonesia dan lain sebagainya. OKI didirikan di Rabat, Maroko pada 25 September 1969. Namun dari 57 negara tersebut tidak semua hadir dalam KTT OKI 2017 di Turki. Sebagaimana terlansir dalam berita bbc.com bahwa sehari sebelum dilaksanakan OKI pihak Arab Saudi belum memberikan info jelas akan datang atau tidak, sedangkan Uni Emirat Arab dan Mesir hanya mengirimkan menteri luar negeri.

Pada kesempatan tersebut semua anggota OKI sepakat untuk membela Yerussalem sebagai Ibukota Palestina dan mengecam keras pernyataan Donald Trump yang menyatakan Yerussalem sebagai Ibukota Israel. “Saya mengajak semua negara mendukung undang-undang internasional untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota negara Palestina yang diduduki” tegas Recep Tayyip Erdogan presiden Turki. Presiden Jokowi juga menyatakan penolakannya “Ini adalah kesempatan pertama bagi negara-negara OKI untuk secara bersama dan tegas menolak keputusan Presiden Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” dan Presiden Jokowi menyodorkan 6 usulan soal Yerussalem (sindonews.com).

Allah SWT menjadikan Palestina sebagai tanah yang suci dan diberkati karena Baitul Maqdis (Yerussalem) adalah kiblat pertama kaum muslim sebelum Allah memerintahkan menghadap ke kiblat yang kedua Ka’bah . Palestina ditaklukkan pemerintahan Islam pada masa Kholifah yang kedua, Umar bin Khatthab di tahun 15 H ketika beliau menerima kunci kota Yerussalem dari Uskup Agung Saphranius. Mereka menyepakati sebuah Perjanjian Umariyah yang isinya –atas permintaan orang-orang nasrani yang tinggal di sana – “tidak boleh ada orang Yahudi pun tinggal, di daerah Palestina”. Jadi Palestina merupakan tanah yang dimiliki secara syah oleh kaum muslim sejak masa Khalifah Umar bin Khathab ra.

Kaum zionis yahudi yang dimotori oleh keluarga bankir Rothchilds dan pion mereka Theodore Hertzl, memang sejak awal berniat mendirikan negara untuk menampung kaum yahudi yang ditolak di berbagai tempat di dunia, dan tanah palestina yang mereka anggap sebagai tanah terjanji sejak awal telah mereka incar.

Hertzl, pemimpin Yahudi menawarkan bantuan keuangan kepada Khalifah Abdul Hamid II pada th 1901M untuk mengatasi krisis keuangan yang terjadi (sengaja diciptakan Yahudi dkk). Tawaran ini ditolak mentah-mentah oleh Sultan Abdul Hamid. Ada kedengkian yang amat nesar di hati kaum zionis Yahudi sehingga mereka berambisi ingin menguasai Palestina sepenuhnya ketika kekuatan kehilafahan Utsmani mulai melemah.

Puncaknya, pada 29 November 1947, PBB mengumumkan persetujuan berdirinya negara Israel yang diamini oleh AS, dengan wilayah Israel yang meliputi 55% tanah palestina, yang diikuti dengan deklarasi pendirian negara Israel oleh PM pertama David Ben-Gurion, yang segera melakukan pengusiran dan pembunuhan lebih besar lagi kepada kaum muslim di palestina. Dan setelah itu, hingga hari ini, Israel dengan brutal menginvasi hamper seluruh wilayah Palestina.

Pengakuan Yerussalem sebagai Ibukota Israel oleh Donald Trump merupakan kebijakan politik AS. Jika selama ini presiden-presiden hanya memberi bantuan sebatas militer, ekonomi dan dukungan politik atas Israel, maka AS melengkapi dukungannya dengan menetapkan Yerussalem sebagai Ibukota Israel.

Telah terbukti ternyata selama ini OKI hanyalah terdiri dari negara-negara yang pemimpinnya berkhidmat kepada kepentingan Barat. Penguasa Arab, Mesir, Yordan, bahkan Turki juga berhidmat dan tunduk kepada AS sebagai tuannya. Sudah bukan rahasia bahwa mereka hanyalah boneka yang digerakkan AS. Arab Saudi merupakan pembeli senjata perang terbanyak buatan AS, tetapi tidak pernah menggunakannya untuk kepentingan kaum muslim. Mesir mempunyai universitas paling terkenal di dunia Islam, tetapi memfatwakan jihad dan mengirim tentaranya saja tidak mampu. Perlu kita tahu sebagaimana yang diberitakan The Times yang menyatakan Israel dan Arab saudi sedang melakukan kerjasama bidang ekonomi dalam skala kecil termasuk mengizinkan perusahaan Israel beroperasi di Teluk dan maskapai Negeri Bintang Daud El Al menyambangi wilayah udara Arab Saudi (merdeka.com)

Pada tahun sebelumnya KTT OKI yang dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 06 Maret 2017 membahas perihal pembakaran masjid di wilayah Palestina. Solusi yang disepakati adalah penghentian kerjasama dengan Israel dan memboikot semua produk Israel. Namun solusi ini tak mampu menuntaskan masalah yang dibadapi Palestina, karena pada faktanya sampai hari ini Israel masih memerangi Palestina dengan segala cara.

Kutukan dan kecaman yang selama ini dilontarkan oleh pemimpin-pemimpin negeri tanpa mengirimkan bantuan militer tak akan mampu menyelesaikan masalah Palestina. Selama ini negara-negara OKI tidak pernah mengirimkan tentara-tentaranya untuk membantu permasalahan Palestina, padahal masalah palestina hanya bisa diselesaikan dengan senjata karena musuh juga menggunakan senjata.

Jika negeri-negeri muslim ini masih terpecah belah, maka permasalahan Palestina dan Israel takkan bisa terselesaikan. Tak ada negara yang mampu dengan real membantu Palestina berjuang melawan musuh-musuhnya. Peduli terhadap saudara seiman-nya bukan didasarkan atas manfaat namun karena kita saudara yang satu tubuh.

Maka seharusnya negara-negara Islam bersatu menyerukan jihad untuk memerangi kaum zionis yahudi. Tidak lagi terkotak-kotak dalam sekat nasionalisme yang hanya akan mementingkan individu saja. Jihad tak bisa dilakukan tanpa ada satu komando dari seorang Pemimpin. Maka dalam Islam pemimpin yang akan menyerukan jihad adalah khalifah. Maka seorang khalifah hanya ada dalam institusi khilafah.

Oleh : Riyanti (Mahasiswi, Ketua Komunitas Intelektual Muslimah Banten)

Categories