Masalah Umat: Bukan Hanya Kurang Iman, Tapi Juga Salah Cara Berpikir

MUSTANIR.net – Banyak orang hari ini keliru dalam mendiagnosis penyakit umat. Setiap kali umat terpuruk, yang dituding pertama kali adalah kurang iman. Maka solusi yang ditawarkan pun berputar di situ: tambah zikir, perbanyak ibadah sunnah, kuatkan spiritualitas personal.

Semua itu benar—namun tidak cukup. Sebab persoalan utama umat bukan semata lemahnya iman di hati, melainkan rusaknya manhaj berpikir.

Para ulama salaf tidak pernah memisahkan iman dari akal, keyakinan dari cara pandang, dan ibadah dari realitas. Iman dalam Islam bukan sekadar perasaan batin yang hangat di sajadah, tetapi ‘aqidah yang melahirkan cara berpikir, menilai, dan mengambil sikap terhadap kehidupan. Imam Hasan al-Bashri رحمه الله pernah berkata:

لَيْسَ الإِيمَانُ بِالتَّمَنِّي وَلَا بِالتَّحَلِّي، وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَّقَهُ الْعَمَلُ

“Iman itu bukan angan-angan dan bukan pula hiasan, tetapi sesuatu yang menetap di hati dan dibenarkan oleh amal.”

Amal di sini bukan hanya shalat dan puasa, tetapi juga cara berpikir, cara memutuskan, dan cara menyikapi problem kehidupan.

Iman yang Terpenjara di Hati

Hari ini kita menyaksikan fenomena aneh: umat rajin ibadah, tetapi gagap membaca realitas. Lisan fasih menyebut ayat, namun akal tunduk pada logika selain wahyu. Iman hanya disimpan di hati, sementara akal diserahkan kepada cara berpikir sekuler.

Akibatnya, ketika menghadapi masalah ekonomi, solusi yang dicari adalah solusi kapitalistik. Ketika menghadapi masalah sosial, ukurannya psikologi Barat. Ketika menghadapi kezaliman, jawabannya “realistis”, “aman”, dan “pragmatis”.

Padahal Islam tidak turun hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan masjid,
tetapi juga hubungan manusia dengan kehidupan. Allah ﷻ berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Tidakkah mereka mentadabburi al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?” (QS Muhammad: 24)

Ayat ini tidak hanya mencela hati yang keras, tetapi juga akal yang enggan berpikir dengan wahyu.

Salah Pikir Melahirkan Salah Sikap

Ulama salaf memahami bahwa kerusakan amal bermula dari kerusakan pemahaman. Karena itu mereka sangat keras dalam menjaga manhaj berpikir umat. Ibnu Taimiyyah رحمه الله menjelaskan:

فَسَادُ الْأَعْمَالِ نَاشِئٌ عَنْ فَسَادِ التَّصَوُّرِ

“Rusaknya amal itu lahir dari rusaknya cara memandang (memahami).”

Ketika cara berpikir umat dibangun di atas asas sekuler—memisahkan agama dari kehidupan—maka jangan heran jika solusi yang lahir pun tidak islami, meski dibungkus dengan dalil dan istilah agama.

Zikir dijadikan pelarian, bukan pendorong perubahan. Sabar dijadikan tameng pasif, bukan kekuatan ideologis. Tawakal dipahami sebagai pasrah tanpa sikap. Inilah iman yang lumpuh, bukan karena kurang kuat, tetapi karena salah arah.

Islam: aqidah yang menentramkan hati, memuaskan akal dan menggerakkan jiwa. Islam datang bukan hanya membawa perintah “percaya”, tetapi juga kerangka berpikir. Aqidah Islam adalah qaidah fikriyyah—landasan berpikir—yang darinya lahir sistem nilai, hukum, dan sikap hidup.

Para sahabat tidak hanya dikenal kuat ibadahnya, tetapi juga tajam cara berpikirnya, karena mereka menimbang realitas dengan wahyu, bukan wahyu dengan realitas. Maka kebangkitan umat tidak cukup dengan seruan “Ayo perbanyak zikir” tetapi harus disertai seruan “Ayo luruskan cara berpikir dengan Islam”.

Penutup

Masalah umat hari ini lebih banyak lahir dari salah pikir, bukan sekadar kurang zikir. Zikir tanpa manhaj berpikir Islam hanya akan melahirkan umat yang saleh secara personal, tetapi kalah secara peradaban.

Sedangkan iman yang hidup adalah iman yang berpikir, bersikap, dan bertindak dengan Islam secara utuh. Dan di situlah letak jihad terbesar umat hari ini: mengembalikan Islam sebagai cara berpikir, bukan sekadar identitas. []

Sumber: Kyai Anwar Abdul Jabbar

About Author

Categories