Mengenal Kiab Kitab Fiqih Madzhab Hanafi (4)

fathul qadir

Mengenal Kiab Kitab Fiqih Madzhab Hanafi (4)

Muqaddimah

Dalam tradisi fiqih hanafiyah, hampir semua penulisan fiqih -jika ditelusuri jalurnya- akan merujuk kepada tulisan-tulisan yang diwariskan oleh Muhammad ibn Al Hasan As Syaibani dan Al Qadhi Yusuf yang keduanya adalah murid dari sang Pendiri Madzhab Hanafi; Imam Abu Hanifah rahimahullah.

Imam Abu Hanifah sebagai pendiri madzhab, hidup di sebuah masa dimana menulis buku belum menjadi tradisi intelektual yang melekat. Dalam banyak referensi biografis, beliau malah termasuk tabi’in yang sempat melihat dan bertemu dengan beberapa sahabat. Beliau hidup dalam atmosfir kufah yang ramai dengan diskusi, adu argumentasi dan juga debat. Beliau seringkali mematahkan dalil dan argumentasi kaum penggila ilmu kalam dan filsafat.

Oleh karena itulah, kita tidak menemukan warisan intelektual tertulis beliau dalam bidang fiqih. Meski beliau menulis buku dengan judul Fiqih Akbar, namun tentu kita tahu bahwa itu bukanlah fiqih. Selain Fiqih Akbar ini, beberapa kitab yang menuliskan biografi beliau, membawakan informasi bahwa beliau juga memiliki beberapa risalah yang merupakan hasil korespondensi beliau dengan Utsman Al Batti. Selain itu, ada juga pesan-pesan tertulis beliau kepada para muridnya. Hanya saja itu semua tidak bisa kita jumpai bentuk fisiknya hari ini.

Meski tidak menulis fiqih, namun metodologi beliau dalam bentuk dialog dan diskusi saat mengajar fiqih, mampu membuat dua muridnya menuliskan hasil diskusi tersebut. Murid yang paling produktif dalam hal ini adalah Muhammad ibn Al Hasan As Syaibani. Salah satu kitab beliau yang sering mendapatkan syarah dari para fuqaha adalah Al Jami’ As Saghir.

Selain Al Jami’ As Saghir, ada satu kitab fiqih lain yang menjadi matan terpenting dalam fiqih hanafi. Kitab tersebut lahir dari seorang faqih; Abu Al Husain Al Qadduri yang berhasil meringkas semua fiqih hanafi di zamannya menjadi satu kitab matan yang dikenal dengan Al Mukhtashar. Dalam banyak kitab fiqih hanafi, para fuqaha sering menyebutnya dengan Al Kitab. Maka jika terdapat kata Al Kitab dalam kitab-kitab fiqih hanafi, yang dimaksud adalah Mukhtashar Al Qadduri ini.

Melihat begitu besarnya perhatian banyak fuqaha terhadap dua kitab tersebut, Al Imam Al Marghinani berinisiatif untuk meraciknya menjadi satu kitab yang praktis namun memuat semua kandunganAl Jami’ As Saghir dan Mukhtashar Al Qadduri. Maka lahirlah kemudian dari tangan Al Marghinani ini sebuah kitab bernamaBidayah Al Mubtadi.

Setelah lahirnya Bidayah Al Mubtadi ini, Imam Al Marghinani merasa perlu untuk menuliskan syarahnya. Maka ditulislah kemudian oleh beliau sebuah syarah besar bernama Kifayah Al Muntahi. Ketika mendapati Kifayah Al Muntahi ini menurutnya terlalu besar, maka beliau menulis syarah untuk Bidayah al Mubtadi yang jauh lebih ringkas bernama Al Hidayah Syarh Bidayah Al Mubtadi. Kitab Al Hidayah inilah yang kemudian menjadi referensi primer untuk dihafal, dikaji, disyarah dan lain-lain. Dan tulisan ini ingin mengupas secara singkat seputar salah satu syarah terbaik dari Al Hidayah yaitu;Fath Al Qadir li Al ‘Ajiz Al Faqir.

Sekilas Tentang Penulis

Kairo memang sudah sejak lama melahirkan banyak ulama termasuk fuqaha. Kairo adalah saksi atas lahirnya Qaul Jadid dalam fiqih Madzhab Syafi’i. Apalagi semenjak runtuhnya Baghdad, ibukota peradaban itu seakan pindah ke Kairo. Banyak para ulama dan penuntut ilmu kemudian menjadikan kairo sebagai salah satu pusat destinasi studi dan ngangsu kaweruh. Kondisi ilmiah ini dan juga dukungan moral dan material dari para penguasa, cukup berpengaruh terhadap lahirnya para ulama termasuk Al Kamal ibn Al Humam, sang penulis Fath Al Qadir.

Nama lengkap beliau adalah Kamaluddin Muhammad ibn Humamuddin Abdul Wahid ibn Hamiduddin Abdul Hamid ibn Sa’duddin Mas’ud As Siwasi Al Iskandari Al Qahiri Al Hanafi. Lebih populer dengan panggilan Ibn Al Humam. Humamuddin adalah nama laqab ayahnya. Beliau lahir di penghujung abad delapan hijriyah. Yaitu pada tahun 790 H.

Ibn Al Humam kecil adalah anak cerdas yang ditinggal mati ayahnya saat masih sangat belia. Di umur sepuluh tahun, dia harus sudah menjadi yatim dan hidup dibawah asuhan neneknya yang penghafal Al Qur’an. Sang nenek kemudian membawa Ibn Al Humam kecil pindah dari Siwas menuju Kairo. Disanalah dia mulai menghafal Al Qur’an, hadits-hadits nabi, matan Al Fiyah dan dalam studi fiqih beliau menghafalkan kitab-kitab matan madzhab hanafi sepertimukhtashar al Qadduri dan Manar Al Anwarnya Imam An Nasafi
.
Tidak lama menetap di Kairo, ia ikut neneknya menuju Aleksandria. Disana aktivitas pencarian ilmu itu masih berlanjut. Di Aleksandria ia mengaji kepada beberapa ulama. Salah satunya adalah Yusuf Al Humaidi. Setelah itu ia kembali lagi ke Kairo untuk melanjutkan pengembaraan ilmiahnya dan juga mulai menunjukkan jatidirinya sebagai seorang alim yang layak diperhitungkan dalam jagat ulama kairo. Beliau mulai mengajar. Banyak sekali disiplin ilmu yang beliau pegang dalam banyak halaqah dan kajian. Disela-sela kesibukannya mengajar beliau juga sempat belajar ke Al Quds.

Beliau belajar dari banyak sekali guru dan masyayikh. Selain Syaikh Yusuf Al Humaidi diatas, guru-guru beliau yang lain adalah Syaikh Syihabuddin Al Haitsami, Badruddin Al Aini, Abu Zur’ah Al Iraqy, Ibn Jama’ah dan lain sebagainya yang bisa kita baca dalam kitab-kitab biografi ulama.

Hasil dari pengembaraan ilmiah dari banyak guru dan juga pengalaman mengajar itulah, kemudian lahir dari akal cerdasnya karya-karya terbaik yang bermanfaat bagi umat. Diantara karya-karya beliau adalah; Zaad Al Faqir, Fath Al Qadir, At Tahrir, Syarh Badi’ An Nadzam dan lain-lain. Dan Fath Al Qadir yang menjadi objek kajian tulisan ini adalah hasil analisa beliau saat mengajar Al Hidayah kurang lebih tiga puluh tahun di Kairo.

Beliau meninggal pada hari jum’at tanggal tujuh ramadhan 861 H. Di awal-awal ramadhan tersebut sebenarnya beliau baru saja pulang dari I’tikafnya di Mekkah. Sebab setelah selesai menunaikan manasik haji, beliau tidak langsung pulang. Namun menetap hingga awal ramadhan itu.

Pada saat kembalinya beliau dari Mekkah ke kampung halaman masyrakat merasa sangat amat senang dan banyak sekali para pelajar selama beberapa waktu selalu mengelilingi beliau membentuk majilis ilmu. Mereka kemudian menyadari bahwa lingkaran ilmu yang cuma beberapa hari itu adalah rangkaian penutup dari aktivitas ilmiah sang Imam. Al Kamal Ibn Al Humam.

Fath Al Qadir

Nama Kitab
Nama lengkap kitab ini sebagaimana diberikan oleh penulisnya adalah Fath Al Qadir li Al ‘Ajiz Al Faqir. Kitab ini -seperti yang sudah disinggung sebelumnya- adalah syarah dari kitab Al Hidayah. Meski kitab ini adalah syarah, namun akan keliru jika kita menyebutnyaSyarah Fath Al Qadir. Kekeliruan ini kadang terjadi pada pelajar fiqih madzhabi (hanafi) khususnya dan lebih banyak pada pelajar fiqih muqaran yang non hanafi. Bahkan kekeliruan ini ternyata secara latah juga diikuti oleh beberapa penerbit yang menerbitkan kitab ini tanpa tahqiq.

Menyebut Fath Al Qadir dengan nama Syarah Fath Al Qadirdianggap keliru karena beberapa alasan. Pertama, penulis tidak pernah memberikan kata ‘syarah’ dalam penamaannya. Kedua, penyebutan semacam itu akan mengesankan kepada para pembaca bahwa ada kitab bernama Fath Al Qadir dan ini adalah syarah dari kitab tersebut. Ketiga, dari banyak kitab biografi dan bibliografi, tidak ditemukan satupun data yang menginformasikan bahwa Fath Al Qadir yang merupakan Syarah dari kitab Al Hidayah telah disyarah oleh seorang faqih Ibn Al Humam, atau faqih lain dari madzhab hanafi dan madzhab lainnya.

Terbitan Daar Al Fikr
Sebuah kitab syarah biasanya hanya tercetak dengan kitab matannya saja. Namun dalam kitab terbitan Daar Al Fikr, Fath Al Qadir tidak hanya dicetak dengan matannya (Al Hidayah). Bersama dengan Fath Al Qadir -sebagai salah satu syarah-, Daar Al Fikr mencetak kitab tersebut sekaligus dengan syarah lain dari Al Hidayah yaitu Al Inayah, yang ditulis oleh Akmaluddin Muhammad ibn Mahmud ibn Ahmad Al Hanafi. Dibawah syarah kedua tersebut, Daar Al Fikr menyertakan sebuah hasyiyah terbaik untuk kitab Al Hidayah dan juga Al Inayah, Yaitu Hasyiyah Sa’di (Sa’dullah) yang ditulis oleh Sa’ad ibn Isa ibn Amir Khan.

Jadi, kitab terbitan Daar Al Fikr tersebut adalah satu eksemplar kitab yang memuat didalamnya empat kitab karya empat ulama. Atau lebih tepatnya enam kitab karya enam ulama. Karena Fath Al Qadir yang ditulis oleh Ibn Al Humam adalah syarah yang belum lengkap. Dan lengkapnya syarah tersebut karena hasil tambahan dari Qadhi Zadah yang menulis takmilah (pelengkap) atas Fath Al Qadir dengan nama kitab pelengkap Nataij Al Afkar fi Kasyf Ar Rumuz wa Al Asrar. Begitu juga hasyiyahnya Sa’dullah. Ia juga belum lengkap. Kemudian dilengkapi dengan tatimmah (pelengkap) oleh muridnya; Ibn Abdurrahman.

Penjelasan posisi masing-masing kitab dalam cetakan Daar Al Fikr ini adalah sebagai berikut; Kitab Al Hidayah -sebagai kitab matan dalam hal ini- diletakkan pada posisi paling atas. Posisi kedua tentu akan ditempati oleh kitab yang dianggap sebagai syarah terbaik Al Hidayah yaitu Fath Al Qadir. Posisi ketiga adalah syarah yang lain dari Al Hidayah yaitu Al Inayah. Baru pada urutan keempat atau yang paling bawah dalam cetakan ini, adalah Hasyiyah Sa’dullah.

Untuk kitab Nataij Al Afkar fi Kasyf Ar Rumuz wa Al Asrar baru mulai kita dapati pada pembahasan seputar Da’wa (klaim). Sebab, Ibn Al Humam terlebih dahulu meninggal ketika beliau sedang menulis bab Al Wakalah. Sedangkan tatimmah (pelengkap) atas hasyiyah Sa’dullah yang ditulis oleh Ibn Abdurrahman, cukup susah untuk ditentukan dimulai dari mana. Sebab, muqaddimah hasyiyah tersebut yang terdapat dalam cetakan Daar Al Fikr ini ternyata juga ditulis oleh Ibn Abdurrahman.

Referensi
Dalam menuliskan Fath Al Qadir ini, Ibn Al Humam merujuk ke sejumlah besar kitab-kitab dalam berbagai disiplin ilmu. Untuk disilin ilmu fiqih tentu saja kitab-kitab yang paling banyak dijadikan rujukan adalah kitab-kitab fiqih hanafi. Baik yang berupa matan, syarah, hasyiyah ataupun taqrir. Yang paling utama adalah kitab-kitab yang berkaitan dengan Al Hidayah.

Untuk kitab-kitab fiqih misalnya, beliau merujuk ke syarah Al Hidayah yang ditulis oleh Badrudin Al Aini. Atau syarah Al Hidayah yang ditulis oleh Akmaluddin Muhammad yang tercetak persis dibawah Fath al Qadir dalam cetakan Daar Al Fikr. Dan tentu saja beliau merujuk kepada kitab-kitab fiqih yang ditulis dan diriwayatkan langsung oleh para murid-murid pendiri madzhab.

Dalam takhrij hadits yang terdapat dalam Al Hidayah, beliau bersandar pada hasil takhrij Al Hafidz Az Zaila’i dalam karyanya yang sangat bagus; Nashb Ar Rayah fi Takhrij Ahadits Al Hidayah. Selain juga merujuk kepada kitab-kitab hadits yang lain, seperti kutub As Sittah dan lain-lain.

Dalam ushul fiqih, beliau lebih banyak merujuk kepada kitab-kitab Thariqah Al Fuqaha yang memang merupakan methodologi ushuli yang didominasi oleh madzhab hanafi. Namun, beliau juga merujuk kepada kitab Ar Risalahnya Imam As Syafi’i. Dan cukup sering juga disebut adalah dua kitab ushul fiqih beliau sendiri; At Tahrir dan Syarh Badi’ An Nadzam.

Gaya Penulisan
Sebagai seorang ushuli (pakar ushul fiqih) dan penulis kitab At Tahrir fi Ushul Fiqh, beliau kadang melakukan pendekatan secara ushuli di dalam menyusun kitab fiqih Fath Al Qadir ini. Apalagi dalam madzhab hanafi, bangunan ushul mereka adalah hasil dari analisa dan penggalian mendalam terhadap kasus-kasus furu fiqhiyyah. Menariknya beliau mampu memadukan methode fuqaha (hanafiyah) dan mutakallimin (jumhur) dalam proses Takhrij Al Furu’ ‘ala Al Ushul.

Meski demikian, beliau mampu menyajikan semua itu dalam bahasa yang cukup mudah dicerna, dipahami, dan detail namun pembagian tema-temanya tetap sistematis. Yang menarik adalah beliau terkadang menghubung-hubungkan antara satu tema atau bab dengan tema atau bab sebelumnya. Ini mirip dengan cara para mufassir dalam mengkaji munasabah (korelasi) antara satu ayat atau satu surat dengan ayat atau surat sebelumnya (atau sesudahnya).

Dalam menuliskan Fath Al Qadir, beliau juga tidak hanya menuliskan madzhab hanafi saja. Tapi menampilkan juga pendapat-pendapat dari madzhab lain dan kemudian melakukan diskusi terhadap dalil-dalil madzhab tersebut sekaligus proses istidlalnya. Maka, dalam konteks ini Fath Al Qadir juga bisa disebut sebagai kitab Fiqh Muqaran (Fiqh Perbandingan).

Kandungan Kitab
Dalam terbitan Daar Al Fikr, kitab Fath Al Qadir tampil dalam sepuluh jilid besar. Semua pembahasan fiqih yang terdistribusi dalam sepuluh jilid itu, terdiri dari lima puluh tiga kitab. Dua puluh empat kitab adalah hasil tulisan Ibn Al Humam yang disebut Fath Al Qadir itu, sedangkan sisanya dua puluh sembilan kitab adalah tulisan Qadhi Zadah yang merupakan takmilah yang dikenal denganNataij Al Afkar fi Kasyf Ar Rumuz wa Al Asrar itu.

Dua puluh empat kitab hasil tulisan Ibn Al Humam adalah pembahasan-pembahasan besar sehingga memakan jumlah jilid hingga hampir delapan jilid. Dua jilid lebih sisanya berisi pembahasan-pembahasan kecil meski jumlah kitabnya lebih banyak.

Secara umum sistematika penulisan kitab dan bab-babnya tidak ada perbedaan dengan kitab-kitab fiqih lain. Yang membedakan hanyalah ada beberapa istilah nama kitab yang jarang dipakai oleh banyak fuqaha. Sebagai contoh misalnya, Ibn Al Humam membahas fiqih peperangan tidak dengan nama Kitab Al Jihad, tapi menggunakan istilah Kitab As Siyar.

Contoh lain yang jarang juga ditemui dalam kebanyakan kitab fiqih adalah tema Kitab Al Karahiyah. Dan masih ada lagi beberapa karakteristik khas yang tidak ditemui dalam banyak kitab, yang akan kita temui jika kita membuka lembar demi lembar dan halaman demi halaman kitab Fath Al Qadir li Al ‘Ajiz Al Faqir ini.

Categories