Mengenal Kitab-Kitab Fiqih Madzhab Hanafi (3)

badai-shonai

Mengenal Kitab-Kitab Fiqih Madzhab Hanafi (3)

Mustanir.com – Diantara kitab fiqih yang cukup terkenal di kalangan madzhab Hanafi adalah kitab Badaai’ Asshanaai’ fi Tartiib Assyaraa’i’ (بدائع الصنائع في ترتيب الشرائع) yang ditulis oleh Imam Alauddin Abi Zakariya bin Mas’ud Al Kasanani. Kitab ini merupakan syarah (penjelasan) dari kitab Tuhfah karya guru beliau sendiri, yaitu Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Abi Ahmad Assamarqandi.

Ada cerita menarik dalam kitab ini tentang si penulis yaitu imam Al-Kasani. Diceritakan bahwasannya guru beliau, yaitu   Imam Assamarqandi telah menikahkan putrinya dengan sang penulis kitab ini, dengan menjadikan buku Badaai’ As-Shanaai’ ini sebagai maharnya.

Putri sang guru disebutkan berrnama Fathimah, adalah salah seorang wanita terbaik dalam ilmu agama pada saat itu. Sang puteri adalah hasil didikan langsung dari sang ayah yang memang seorang ulama besar. Wajar bila sang puteri mewarisi ilmu dari ayahnya. Bahkan diantara keistimewaan sang puteri, dia hafal luar kepala kitab Tuhfah yang ditulis oleh ayahnya sendiri.

Wajar bila banyak laki-laki yang tertarik mempersuntingnya. Bahkan termasuk para raja dari dinasti Romawi, berebutan ingin meminangnya.

Namun tidak ada satu pun yang berkenan di hati sang ayah. Sampai suatu hari datanglah seorang murid yang belajar tekun pada beliau. Meski bukan dari kalangan orang kaya atau bangsawan, namun sang murid adalah seorang yang rajin, tekun dan serius menuntut ilmu.

Di kemudian hari, murid yang tidak lain bernama Imam Al-Kasani,  berhasil menulis kitab syarah (penjelasan) yang amat baik dari kitab Tuhfah karya sang guru. Kitab syarah itu tidak lain adalah kitab yang sedang kita bicarakan saat ini, yaitu Badaai’ Asshanaai’ .

Betapa bahagianya sang guru melihat karya murid mampu berkarya. Alih-alih bermantukan para pembesar dan bangsawan, sang guru lebih suka bila puterinya dipersunting oleh muridnya sendiri. Maka jadilah kitab itu sebagai mahar pernikahan.

Materi Penulisan

Meskipun mensyarahi kitab Tuhfah, akan tetapi imam Al-Kasani datang dengan pengaturan kitab yang baru dengan tetap menjaga keutuhan kitab Tuhfah itu sendiri.

Menarik untuk dicatat bahwa walau pun penulisnya seorang ulama dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah, namun kitab ini tidak melulu hanya menuliskan tentang fiqih Hanafi. Tetapi juga menuliskan pendapat dari mazhab-mazhab lainnya, sehingga bisa juga dikelompokkan sebagai salah satu kitab yang bergenre fiqih muqaran (perbandingan).

Selain itu, di antara kelebihan kitab ini adalah pada susunannya yang dibuat sistematis seperti kitab-kitab fiqih lainnya. Dimulai dari kitab Thaharah dan diakhiri dengan kitab Qard.

Keistimewaan lain yang saya dapat dari kitab ini adalah sebelum memasuki bab pertama, terlbih dahulu penulisnya memberikan gambaran singkat tentang sejarah madzhab Al-Hanafiyah dan juga istilah-istilah dalam madzhab tersebut, sehingga kita tidak akan menemukan kesulitan lagi ketika membacanya.

Selain itu penulis juga menyuguhkan dalil-dali dari masing-masing madzhab berikut segi pendalilannya. Ditunjang dengan bahasa yang ringan dan mudah untuk difahami, menjadikan kitab ini salah satu kitab fiqih muqaran yang layak untuk dibaca.

Cetakan Sekarang

Kitab yang ditulis abad keenam hijriyah ini sepanjang zaman tentu sudah dicetak dan diterbitkan berkali-kali oleh banyak penerbit. Dan di abad kelima belas hijriyah ini, salah satu cetakannya ada di tangan saya saat menuliskan resensi ini.

Diterbitkan oleh penerbit Darul Hadits Cario pada tahun 1426 H  – 2004 M. Terdiri dari 10 jilid dan tebalnya total mencapai 5.772 halaman.

Tentu ada beberapa macam versi dan jilid tergantung penerbit dan tahun berapa dia diterbitkan.

http://www.rumahfiqih.com/maktabah/x.php?id=19&=badai

Categories