Mengenal Kitab Kitab Fiqih Madzhab Maliki (3)

bidayatul-mujtahid

Mengenal Kitab Kitab Fiqih Madzhab Maliki (3)

H المؤلف : ابن رشد – 595

اسم الكتاب : بداية المجتهد ونهاية المقتصد

اسم المؤلف : محمد بن أحمد بن محمد بن رشد ض الاندلسي، أبو الوليد

Mustanir.com – Orang yang menekuni bidang studi syariah, atau lebih spesifik lagi, ia menekuni bidang fiqih perbandingan madzhab, pastilah ia mengenal kitab Bidayah Al-Mujtahida wa Nihayah Al-Muqtashid [بداية المجتهد ونهاية المقتصد]karangan Imam Imam Ibnu Rusyd Al-Qurthubi Al-Andalusi (595 H).

Bahkan bukan hanya tahu ada kitab itu, akan tetapi ia mempelajarinya dan membukanya lembar per-lembar, halaman per-halaman dan membacanya. Sepertinya itu sebuah hal yang pasti bagi para pelajar atau mahasiswa syariah, khususnya bida studi fiqih perbandingan madzhab.

Karena memang kitab Imam Ibnu Rusyd, walaupun beliau bermadzhab Fiqih Maliki, beliau tidak hanya menyediakan pendapat-pendapatnya sebagai bagian dari punggawa ulama-ulama Malikiyah, akan tetapi beliau uraikan semua pendapar madzhab, dari Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyyah, Zohiriyah, Zaidiyah, dan Hanabilah.

Bahkan pendapat-pendapat para madzhab fiqih sahabat serta Tabi’in pun dimuat dalam kitabnya ini, seperti sayyidah ‘Aisyah, sahabat Ibn Mas’ud, sahabat Ibnu Umar, sahabat Ibn Abbas. Kalau dari kalangan Tabi’in ada Hammad bin Abi Sulaiman, Ibrahim Al-Nakho’i dan yang lainnya.

Jadi setiap kali beliau memulai penjabaran masalah, beliau juga mengurai pendapat masing-masing madzhab. Kemudian beliau menarik benang merah perbedaan antara madzhab-madzhab tersebut, “Apa sih yang membuat mereka berbeda pendapat?”, sehingga orang yang mempelajarinta tahu sumber masalah, kamudian barulah beliau mengurai dalil masing-masing madzhab.

Dan kalau ada orang yang mengaku mempelajari fiqih, dan menekuninya, aneh kalau ia tidak mengenal dan tidak mempelajari kitab ini. Karena bagaimanapun, kitab ini dipelajari dan menjadi muqorror resmi semua fakultas syariah di sejagad raya ini. Apapun negaranya, kalau itu fakultas syariah studi Fiqih, pastilah kitab ini yang dipakai.

Faidah

Dengan kitab ini, sejatinya orang mempelajarinya paham dan mengerti dan mendapat setidaknya 4 faidah:

  • Pendapat masing-masing madzhab
  • Benang merah perbedaan
  • Dan dalil masing-masing madzhab
  • Wijhat Nadzor (sudut pandang) seorang faqih (ahli fiqih) dalam menyimpulkan hukum dari sebuah teks syariah

Dan memang 4 poin ini yang mnejadi bekal utama seorang ahli fiqih, baik mereka yang mau berijtihad atau juga mereka yang sudah dalam taraf mujtahid. Dalam kitabnya ini memang Ibnu Rusyd terlihat sekali ingin membentuk jiwa seorang mujtahid dalam diri seorang pembelajar yang meneliti kitabnya tersebut.

Susunan Kata Seorang Filosof

Dan poin yang sangat menonjol juga dalam kitab ini ialah, bahwa Ibnu Rusyd sering sekali memakai susunan bahasa yang sepertinya tidak mudah dan agak sulit memahaminya. Ini berhubungan dengan latar belakang beliau yang seorang filosof, jadi memang banyak sekali istilah-istilah bahasa yang tidak bisa dipahami hanya dengan sekali lewat saja.

Beliau sering menuturkan bahasa yang singkat, padat, yang kalau itu diurai bisa memakn 2 samapi 3 lembar halaman. Tapi karena memang beliau seorang filosof yang punya kematangan bahasa dalam penuturannya, sehingga makna yang panjang bisa beliau ungkapkan dengan kalimat yang singkat.

Dan memang seorang pembelajar yang masih dalah taraf baru akan sulit mendapati pemahaman yang instan dari kitab ini kecuali dengan bimbingan seorang guru yang memang juga ahli dalam bidang muqoronah al-madzhahib(pembandingan madzhab).

Karena kemahirannya tersebut, mungkin terasa aneh jika ada kitab yang menerangkan pendapat-pendapat seluruh madzhab fiqih dalam seluruh masalah fiqih, tapi hanya dalam 2 jilid kitab. Malah dalam cetakan baru, seperti Daar Al-Kitab Al-‘Arobi –yang ada di tangan penulis- kitab ini hanya 1 jilid kitab.

Padahal tidak satupun bab Fiqih yang terlewat dibahas dalam kitabnya ini, mulai dari bab Thaharah (Bersuci) sampai bab Al-Uqdiyah (pengadilan).    

Beradab Adabnya Ulama

Tapi ada satu poin lagi yang Imam Ibnu Rusyd ajarkan dalam kitabnya, yang jarang sekali bahkan mungkin tidak ada dan tidak kita temukan pada kitab-kitab lain, dan sayangnya juga banyak yang tidak menyadari.

Yaitu poin Adab yang selalu Imam Ibnu Rusyd gambarkan dalam setiap baris tulisan yang beliau tulis dalam kitabnya; Adab beliau sebagai ulama yang banyak orang mengambil ilmu darinya, dan adab beliau sebagai pembelajar juga penuntut ilmu yang mengambil ilmu dari ulama-ulama yang telah mendahuluinya.

Bidayatul-Mujtahid adalah kitab yang mengurai semua pendapat fiqih dari Imam dan madzhab-madzhab fiqih yang masyhur, tapi sepanjang telaah penulis yang minim ini, penulis tidak pernah mendapati Imam Ibnu Rusyd mendeskreditkan pendapat ulama lain atau madzhab lain yang bersebrangan dengan madzhab beliau; Maliki.

Karena beliau oaham siapa dirinya yang memang tidak terlahir instan sebagai ulama kecuali melalui bimbingan para masyayikh, dan tidak mungkin ia mendeskriditkan para ulama itu dalam kitabnya. Beliau juga sadar bahwa kitabnya akan menjadi santapan para penunut ilmu sesudahnya, yang pasti akan diikuti gayanya, maka beliau sangat mempertimbangkan hal tersebut. Dengan demikian, kitab ini bersih dari caci maki dan menyalah-nyalahkan ulama lain.

Tidak pernah sekalipun Imam Ibnu Rusyd menyindir dan mencela pendapat madzhab lain yang itu bersebrangan dengan pendapat beliau. Dengan fair dan bijak beliau urai semua, beliau juga jelaskan kenapa fulan mengambil kesimpulan seperti itu dan beliau tidak menutupi.

–       Tidak [Pernah] Men-Tarjih

Dan di akhir pembahasan, setelah memaparkan pendapat-pendapat silang madzhab yang ada, tak sekalipun beliau melakukan Tarjih (proses pengunggulan) pendapat antar pendapat yang lain. Justru beliau malah membiarkan masalah begitu saja tanpa mengatakan bahwa yang satu lebih benar dari yang satu. Lihat bagaimana adab beliau kepada para ulama. Tak pernah menghina, tak pernah mencela.

Beliau sadar, beliau bukan satu-satunya ulama, beliau sadar besarnya jasa dan usaha ulama yang mendahuluinya dalam upaya mencerdsakan umat. Dan beliau sadar, beginilah fiqih yang tidak lepas dari perbedaan pendapat.

Satu-satunya masalah yang ia tarjih ialah masalah nabidz, yaitu perasan buah atau sejenisnya selain kurma dan anggur, yang kemudian menjadi barang yang memabukkan. Dalam masalah ini, jumhur ulama mengatakan itu tetap haram baik sedikit atau banyak, akan tetapi madzhab Hanafi tidak melihat itu sebagai keharaman kecuali jika itu memabukkan. Di sini Imam Ibnu Rusyd melakukan proses “pembelaan” untuk madzhabnya Malikiyah. Hanya masalah ini saja dari sekian ribu masalah yang ada dalam kitab beliau! (mungkin ada juga masalah lain, tapi penulis hanya mendapati di masalah ini, Ibnu Rusyd begitu kuat membela madzhabnya)

Lihat bagaimana adab seorang ulama besar seperti Imam Ibnu Rusyd, punya ilmu mumpuni akan tetapi tak sekalipun mendeskriditkan ulama lain. Tidak merasa benar, tidak meresa paling mengikuti Nabi saw.

–       Takut Ghibah

Tak bisa kita pungkiri bahwa dalam masalah fiqih, ada saja pendapat yang memang terkesan nyeleneh dan tidak masuk akal, bahkan tak berdasarkan dalil atau bahkan berdasar hawa nanafsu saja. Akan tetapi Imam Ibnu Rusyd tetap saja menaruh dan menulis pendapat tersebut.

Tapi lihat bagaimana adabnya Imam Ibnu Rusyd! Setiap kali beliau menuliskan pendapat, beliau sandingkan pendapat itu kepada si empunya pendapat; Syafiiyah kah, Hanafiyah kah atau Zohiriyah kah. Tapi ketika ada pendapat yang nyelenah, beliau menyebutkan itu tapi tidak beliau sandingkan kepada si empunya qoul, beliau hanya mengatakan [قال به قوم] Qoola bihi Qoum (Ini pendapatnya salah satu kaum), atau [ذهبت إليه طائفة] Dzahabat Ilaih Thoifah (ini pendapat salah satu kelompok).

Beliau tidak sandingkan si empunya qoul, karena beliau sadar, ini pendapat yang kurang masuk akal dan agak jauh dari dalil,, kalau disebutkan juga si empunya, baliu takut jatuh pada dosa Ghibah. Yang nantinya akan diikuti oleh penuntut ilmu setelahnya yang mempelajari kitabnya tersebut, dan teruslah kebiasaan ghibah itu berlanjut.

Beliau seperti ini, tidak lain karena memang mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Imam-imam Madzhab sebelumnya, yang memang tak sekalipun menghina atau mencela ijtihad ulama lain. Semua saling menghargai dan saling menutupi aib, bukan malah menghamburnya agar diketahui oleh orang lain.

Dua poin diatas adalah salah dua dari sekian banyak sisi adab yang diajarkan oleh seorang filosof muslim ini.

Tentang Ibnu Rusyd

Nama Asli beliau Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd, Abu Al-Walid Al-Qurthubi Al-Andalusi, lahir di kota Cordova, Andalus (Sekarang Spanyol) di tahun 520 H / 1126 M, yaitu tahun dimana kakeknya Muhammad bin Rusyd meninggal dunia.

Karena itu beliau sering dijuluki setelah nama beliau dengan kata Al-Hafid,yang berarti cucu. Ini untuk membedakan antara beliau dan kakeknya Ibnu Rusyd (520 H) yang juga terkenal sebagai ahli Filsafat dan juga ulama fiqih dari kalangan madzhab Maliki.

Orang-orang Eropa mengenalnya dengan sebutan Averroes. Beliau memang lebih terkenal sebagai filosof dibanding ahli fiqih, tapi sejatinya beliau adalah seorang ahli fiqih ulung yang banyak menuliskan kitab-kitab fiqih serta ushul, tapi sayangnya banyak kitab yang beliau susun itu hilang, tidak terjaga, sebagaimana disebutkan dalam Muqqaddimah kitab Bidayah ini.

Beliau juga yang menterjemahkan buku-buku filsafat Arestoteles, dan memang karena beliau senang dengan ilmu Filsafat. Dan karena ini pula beliau lebih dikenal dengan filosof dibanding seorang ahli fiqih. Padahal selain itu, beliau juga seorang ahli kedokteran.

Banyak yang sudah beliau tulis dan menjadi kitab dari berbegai disiplin ilmu yang beliau tekuni, yaitu fiqih dan ushul, filsafat, serta kedokteran. Diantara kitab-kitab tersebut ialah:

ü  Filsafat: Filsafat Ibnu Rusyd [فلسفة ابن رشد], Jawami’ Kutub Aristhatheles [جوامع كتب أرسطاطليس], Tahafut Al-Tahafut [تهافت التهافت]

ü  Fiqih dan Ushul: Al-Tahshil [التحصيل], Al-Dhoruri [الضروري], Minhajul-Adillah [منهاج الأدلة]

ü  Kedokteran: Al-Kulliyat [الكليات], Syarhu Arjuzah Ibni Siina [شرح أرجوزة ابن سينا], Talkhis Kitab Al-Nafs [تلخيص كتاب النفس].

 Ibnu Rusyd meninggal pada tahun 595 H / 1198 dan meninggal banyak sekali khazanah-khazanah kelimuan islam yang sayangnya banyak yang tidak terbukukan. Beliau juga meninggalkan beberapa anak, sayangnya tidak semua dari mereka dikenal kecuali Abu Muhammad Abdullah bin Abu Al-Walid yang mengambil banyak ilmu kedokteran dari sang ayah.

Yang kemudian diangkat menajdi dokter kesultanan pada masa Muhammad Nashir yang memimpin dan menggantikan jabatan sultan setelah saudaranya yaitu Al-Manshur.

Wallahu A’lam

Categories