Mengenal Kitab Kitab Fiqih Madzhab Maliki (4)

dakhiroh

Mengenal Kitab Kitab Fiqih Madzhab Maliki (4)

H المؤلف : القرافي – 684


اسم الكتاب : الذخيرة


اسم المؤلف : أحمد بن إدريس أبو العباس القرافي


Muqaddimah

Madzhab Maliki sebagai salah satu dari empat madzhab yang masih eksis hingga hari ini di sebagian besar wilayah arab barat, sebenarnya terlahir di Madinah. Bahkan tradisi keagamaan masyarakat Madinah awal-awal yang terwariskan dari kehidupan Rasulullah SAW, para sahabatnya dan kemudian para Tabi’in setelahnya, sampai teradopsi menjadi salah satu Hujjah atau Dalil di dalam Syariah. Tradisi itulah yang kemudian dikenal sebagai Amal Ahli Madinah, salah satu dalil syariah yang hanya dikenal dalam tradisi Fiqih Malikiyah.

Karena beberapa faktor, Fiqih Maliki kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah. Dan fiqih tersebut di Madinah justru semakin menghilang. Bahkan saat ini, kita sama sekali tidak bisa mengatakan kalau Madinah berfiqih Maliki. Dan Fiqih Maliki semakin bersinar di dunia Islam Barat semenjak penyebaran Al Mudawwanah versi pertama dilakukan oleh Asad ibn Al Furat (w. 213 H) di wilayah Qairawan. Dari kota inilah Fiqih Maliki tersebar di wilayah Islam Maghrib (barat).

Salah satu kitab fiqih maliki terbaik adalah kitab Ad Dzakhirah yang ditulis oleh Al Imam Al Qarafi. Kitab yang lahir di Mesir ini bisa disebut sebagai Ensiklopedi Fiqih Maliki. Meski, di dalamnya Sang Penulis juga memaparkan pendapat dari madzhab-madzhab yang lain secara seimbang. Sehingga Ad Dzakhirah juga merupakan kitab Fiqih Muqaran (perbandingan).

Sekilas Tentang Penulis

Sebagaimana dikatakannya sendiri, beliau terlahir dan tumbuh besar di Mesir. Hanya saja, nenek moyang beliau adalah asli Sunhajah, sebuah daerah di Maghrib. Beliau pernah mengklarifikasi bahwa popularitas beliau dengan nama Al Qarafi sebenarnya bukan karena beliau berasal dari suku Qarafah.

Suatu saat, ketika Qarafi kecil belum hadir di Madrasah Sahibiyyah, semacam penulis absensi atau daftar santri di madrasah tersebut tidak tahu harus menulis apa untuk namanya. Dan karena Qarafi kecil selalu datang dari arah Qarafah, ditulislah nama itu. Semenjak di Madrasah Sahibiyyah inilah beliau populer dengan nama Al Qarafi.

Nama asli beliau adalah Ahmad ibn Idris. Beliau juga dikenal dengan kunyah Abu Al ‘Abbas dan gelar Syihabbudin. Namun beliau lebih populer dengan nama Al Qarafi.

Meski beliau lebih pupuler dalam bidang Fiqih, Ushul Fiqih dan juga Ushuluddin, sebenarnya beliau memiliki segudang keilmuan lain yang bisa kita baca dalam karya-karyanya.

Keilmuan yang beliau miliki adalah hasil pengembaraan ilmiah dari guru ke guru, terutama para masyayikh yang terdapat di kairo saat itu. Dengan datangnya Ibn Al Hajib dan Syaikh Al Islam Izzudiin ibn Abdisalaam dari Syam, Qarafi muda mendapatkan secercah cahaya keilmuan yang luar biasa. Dan pada Sulthon Al Ulama (gelar untuk Ibn Abdissalam) lah beliau banyak berkhidmah dan lama bersuhbah.

Beliau menimba ilmu dari Sang guru utamanya itu semenjak umur tiga belas tahun. Bahkan beliau selalu membersamainya dalam belajar hingga sang Guru wafat pada tahun 660 H. Kalau dihitung, kurang lebih Al Imam Al Qarafi belajar dengan Al Imam Izzuddin sekitar dua puluh satu tahun.

Kitab Ad Dzakhirah

Barangkali Ad Dzakhirah merupakan pamungkas dari Ummahat Al Kutub (kitab-kitab induk) dalam madzhab maliki. Sebab kalau kita baca dalam sejarah penulisan fiqih maliki, setelah munculnya Ad Dzakhirah ini belum ada ulama yang menuliskan fiqih secara independen. Para ulama baik yang sezaman ataupun setelahnya lebih banyak melakukan penulisan syarah, hasyiyah ataupun ikhtishar atas kitab-kitab fiqih yang sudah ada.

Yang menarik dari Imam Qarafi dalam Ad Dzakhirahnya ini adalah gaya bahasanya yang memikat, pilihan katanya yang akurat, referensinya yang padat, dan sistematika penulisan atau pengelompokkan kitab-kitab, bab-bab, serta pasal-pasalnya yang cukup cermat.

Kitab Ad Dzakhirah diawali dengan kata pengantar penulis yang cukup informatif mengenai hal ihwal penulisan kitab tersebut. Beliau mengatakan bahwa penulisan Kitab Ad Dzakhirah merujuk pada kurang lebih empat puluhan kitab-kitab maliki. Baik kitab matan ataupun syarah. Kitab-kitab tersebut belum termasuk kitab hadits, bahasa Arab dan lain-lain.

Adapun referensi primer yang dijadikan Imam Qarafi di dalam menulis Ad Dzakhirah adalah lima kitab yang beredar di kalangan malikiyah dan populer sebagai kitab-kitab yang sering ditekuni dalam banyak lingkar studi oleh para ulama maliki baik di timur maupun di barat. Lima kitab tersebut adalah : Al Mudawwanah, Al jawahir, At Talqiin, Al Jilab dan Ar Risalah. Dengan melihat referensi-referensi tersebut, kitab ini layak dijadikan representasi dari madzhab maliki dalam menisbatkan sebuah pendapat fiqih ketika terjadi ikhtilaf.

Usai menuliskan kata pengantarnya, Imam Qarafi menuliskan dua muqaddimah (pendahuluan) penting. Pendahuluan pertama berisi tentang Fadhilah (keutamaan) Ilmu dan Aadab (etika) bagi para penuntutnya. Dalam memaparkan keutamaan ilmu, beliau membaginya kedalam tiga kelompok berdasarkan sumbernya. Pertama, keutamaan menurut Al-Qur’an. Kedua, keutamaan ilmu dalam Sunnah atau Hadits Nabi. Ketiga, Keutamaan ilmu berdasarkan makna.

Sedangkan mengenai Adab para penuntut ilmu, beliau mengawalinya dengan pembahasan seputar keikhlasan. Dalam pandangan beliau keikhlasan adalah etika paling agung bagi seorang penuntut ilmu. Menurut beliau, sebuah ilmu jika tidak disertai dengan keikhlasan maka ia bisa berubah status dari ibadah atau ketaatan yang paling utama menjadi kemaksiatan yang paling hina.

Selain pembahasan tentang keikhlasan, beliau juga menerangkan tentang ketenangan, kewibawaan, rasa takut (kepada Allah), dan peneladanan atas kesalihan para ulama salaf. Dan masih ada lagi beberapa pembahasan seputar etika yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu.

Muqaddimah (pendahuluan) kedua adalah pembahasan tentang kaidah-kaidah syariah. Baik kaidah-kaidah fiqih maupun kaidah-kaidah ushul. Namun sisi ushulnya jauh lebih terasa daripada sisi kaidah fiqihnya. Dan pada saat mengupas Ushul fiqih dalam pendahuluan kedua ini, tampak sekali beliau ingin memperlihatkan keunggulan ushul fiqih madzhab maliki.

Pendahuluan kedua yang berisi ushul fiqih ini, terdiri atas dua puluh bab. Kurang lebih ada sekitar sembilan puluh limaan halaman khusus untuk membahas ushul fiqih. Kalau saja pendahuluan ini dijadikan terpisah dari isi Ad Dzakhirah, tentu ia akan menjadi kitab ushul fiqih tersendiri yang memang sudah mencakup semua pembahasan ushul fiqih. Namun, kita tentu sudah tahu bahwa beliau sendiri sudah pernah menulis beberapa kitab Ushul Fiqih. Salah satu kitab ushul fiqih beliau adalah Syarh Tanqih Al Fushul yang terdiri dari sekitar empat ratus lima puluhan halaman.

Setelah pengantar dan dua pendahuluan diatas, Imam Qarafi baru mulai masuk dalam pembahasan fiqihnya. Sebagaimana tradisi kitab-kitab fiqih yang lain, beliau memulai pembahasan dengan menuliskan Kitab At Thaharah. Kemudian kitab tentang Shalat, Puasa, zakat, Haji, Jihad, Nadzar, makanan, minuman, sembelihan, kurban, aqiqah, berburu, nikah, jual beli, kitab-kitab tentang berbagai bentuk transaksi muamalah, pembebasan budak dan hal ihwal budak, kriminalitas, dan terakhir kitab faraid atau mawarits (ilmu waris).

Ada yang berbeda dari kitab terakhir (kitab Faraid atau Mawarits) Ad Dzakhirah ini. Pada kitab-kitab sebelumnya, Imam Qarafi tidak memberikan nama untuk masing-masing kitab. Tapi untuk kitab ke empat puluh tujuh yang membahas tentang fiqih mawarits ini, beliau memberikan nama “Ar Raidh Fi Al Faraidh”. Dan beliau mempersilahkan bagi siapapun yang ingin memisahkan bagian ini sebagai sebuah tulisan atau buku tersendiri dengan nama tersebut. Menurutnya, pemisahan tersebut cukup bagus dan akan sangat bermanfaat dalam pembahasan fiqih mawarits.

Kalau kita hitung jumlah kitab-kitabnya, maka pembahasan fiqih dalam Ad Dzakhirah ini terdiri dari empat puluh tujuh kitab sampai pada kitab faraidh atau mawaris. Dan masing-masing kitab terdiri dari beberapa bab. Lalau masing-masing bab terdiri dari beberapa pasal. Setelah selesai membahas faraidh, beliau menutup kitab Ad Dzakhirah ini dengan Kitab Al Jami’ sebagai kitab ke empat puluh delapan.

Kitab Al Jami’ adalah sebuah kitab penutup yang berisi kumpulan aneka tema pembahasan. Baik tema aqidah, akhlaq, mimpi, amar ma’ruf nahi munkar, dan tema-tema fiqih tertentu.

Terakhir, yang perlu diketahui oleh pembaca Ad Dzakhirah adalah istilah dan kode khusus yang dipakai Imam Qarafi dalam penulisan kitab tersebut. Untuk mempersingkat kalimat dalam menuliskan perbandingan pendapat lintas madzhab, beliau menggunakan huruf (ش) dan (ح). Huruf pertama beliau gunakan untuk Imam Syafi’i, sedangkan huruf kedua untuk Imam Abu Hanifah. Sedangkan untuk Imam Ahmad beliau langsung menyebutkan nama. Dalam banyak tempat di Ad Dzakhirah, akronim tersebut juga kadang tak terpakai.

Jika Imam Qarafi menyebutkan kata “Al Aimmah”, maka yang dimaksud adalah tiga imam pendiri madzhab selain Imam Malik. Kata “Al Kitab” yang sering beliau ulang dalam Ad Dzakhirah merujuk kepada Al Mudawwanah karya Imam Malik. Adapun maksud dari kata “As Sihah” yang juga banyak dijumpai dalam kitab ini adalah Sahih Bukhari, Sahih Muslim dan Al Muwattho’nya Imam Malik.

http://www.rumahfiqih.com/maktabah/x.php?id=33&=adz-dzakhirah

Categories