Islam Tidak Mengenal Liberal, Radikal, ataupun Moderat

MUSTANIR.net – Ketika Barat mengajari jenis-jenis karakter umat Islam yang mereka sukai dan tidak mereka sukai, maka banyak kaum pembebek yang mencari muka kepada Barat, agar mereka dapat hidup bersama sesuai apa yang mereka sukai di dalam ber-Islam. Barat memulai dengan stigma atau julukan bagi Islam, ada yang radikal atau fundamental, liberal, dan moderat.

Memang liberallah yang mendapat nilai A bagi Barat, tetapi di kalangan komunitas Islam dianggap sebagai kafir yang malu-malu sehingga kelompok ini di luar dari ajaran Islam, walaupun diberi nama “Islam liberal”.

Lalu yang ke dua ada kelompok fundamental bahkan dianggap ekstrem ataupun radikal. Barat melihat yang model ini sebagai penjahat di dalam beragama. Bahkan sering kali di-framing sebagai terorisme. Dikelompokkanlah jenis ini ke dalam proyek WOT (War on Terrorism).

Dari jebakan Barat terhadap dua kutub beragama di atas, muncul kelompok mencari muka agar bisa disukai Barat dan juga umat Islam. Inilah kelompok jalan tengah alias kaum moderat, sehingga kita kenal pola pikir kelompok ini memilik dua wajah manis bagi umat manusia. Ada pun jargon dakwahnya adalah moderasi beragama.

Bahaya konsep moderasi beragama dalam arti yang sering digunakan oleh pemerintah dan kalangan sekuler memang menyalahi Islam, jika diartikan sebagai menyesuaikan ajaran Islam agar “toleran” terhadap semua pemikiran, bahkan yang bertentangan dengan syariat Allah. Berikut penjelasannya:

1. Islam sudah sempurna dan tidak butuh dimoderasi. Allah ﷻ berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Kuridai Islam itu menjadi agamamu.” (QS al-Māidah: 3)

Artinya, Islam sudah sempurna dan seimbang (wasathiyyah) dari asalnya. Tidak perlu “dimoderasi” oleh manusia.

2. Moderasi beragama selaras dengan relativisme kebenaran. Konsep moderasi beragama yang digaungkan saat ini sering berarti:

• Semua agama dianggap sama.
• Umat Islam tidak boleh menganggap agamanya paling benar.
• Tidak boleh memperjuangkan penerapan syariat Islam secara kaffah.

Padahal Islam menegaskan kebenaran tunggal:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran: 19)

3. Islam itu wasathiyyah (seimbang), bukan moderat versi Barat. Islam memang mengajarkan keseimbangan (wasathiyyah), tetapi maknanya berbeda dengan “moderasi” versi sekuler. Wasathiyyah Islam selaras dengan adil, proporsional, tidak melampaui batas syariat. Moderasi beragama versi Barat selaras dengan mengurangi ketegasan Islam agar cocok dengan ide demokrasi, pluralisme, dan sekularisme.

4. Tujuan terselubung: Menghambat penerapan syariat.

Banyak pengusung “moderasi beragama” menolak ide khilafah, jihad, dan penegakan hukum Allah dengan alasan “radikal”. Padahal justru Islam memerintahkan umatnya menegakkan seluruh hukum Allah secara kaffah:

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah.” (QS al-Baqarah: 208)

Kesimpulan, konsep moderasi beragama seperti yang disebarkan oleh sistem sekuler saat ini menyalahi Islam, karena:

• Mengaburkan kebenaran Islam,
• Menolak penerapan syariat secara menyeluruh,
• Mendorong umat agar kompromi dengan sistem kufur.

Islam sudah sempurna dalam makna adil dan seimbang, tanpa perlu “dimoderasi” oleh manusia. []

Sumber: Akhukum Fiddin Maswin

About Author

Categories