Menjaga Ukhuwah Islamiyyah

ukhuwah-islamiyyah

Menjaga Ukhuwah Islamiyyah

Bila ukhuwah Islamiyah telah bersemi, merekah dan tumbuh dengan subur, maka akan dapat membuahkan hasil, diantaranya :

• Terwujudnya persatuan Islam yang kokoh, karena diikat dengan aqidah Rabbaniyyah, dan tegak di atas landasan takwa, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Hujurat, yang artinya:

Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beriman itu bersaudara, (Al Hujurat:10)

dan juga firman Allah, yang artinya:

Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. [Al Hujurat:13].

Betapa besar dan kuatnya persatuan jika berjuta orang dari berbagai negeri terhimpun seluruhnya di bawah panji ukhuwah dengan beriman kepada Rabb yang sama, nabi yang sama dan syari’at yang sama, serta manhaj yang shahih.

• Tersebarnya Islam ke seluruh penjuru bumi.

• Terpencarnya peradapan Islam.

• Kuatnya solidaritas dalam masyarakat Islam.

• Menjadi pendukung majunya ilmu dan peradaban.

FAKTOR RAPUHNYA UKHUWAH DAN SOLIDARITAS DALAM ISLAM

Musuh paling utama ukhuwah adalah perpecahan. Atau disebut dengan istilah furqoh yang berasal dari lafazh mufaraqah, yang berarti berbeda, menyelisihi dan putus hubungan. Furqoh juga berasal dari lafazh syadz, yang berarti keluar dari asal-usulnya atau keluar dari jama’ah.

Sedangkan menurut istilah ulama aqidah, furqoh adalah sikap keluar dari Sunnah dan jama’ah dalam masalah ushuluddin, baik berkaitan dengan aqidah, atau syari’at amaliyah yang bersifat qath’i, atau berkaitan dengan maslahat umat yang sangat mendasar.

Disebutkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلَا يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلَا يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ

Barangsiapa keluar dari ketaatan dan menyelisihi jama’ah lalu mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah. Dan barangsiapa yang berperang di bawah panji-panji kesukuan, marah untuk membela suku atau mengajak kepada kesukuan atau membantu karena kesukuan lalu terbunuh, maka ia terbunuh dalam keadaan jahiliyah. Barangsiapa yang keluar dari kelompok umatku, lalu membunuh (secara membabi buta) orang yang baik dan yang buruk dan tidak menjaga diri dari orang beriman serta tidak menjaga perjanjian, maka ia bukan tergolong dariku, dan aku (berlepas diri) darinya. [HR Muslim].

Jadi, menyelisihi Ahli Sunnah Wal Jama’ah dalam perkara ushuluddin yang berkaitan dengan aqidah, maka demikian itu termasuk firqah. Begitu juga masuk ke dalam firqah, bila menyelisihi Ijma’ umat Islam. Juga termasuk ke dalam firqah, jika menyelisihi jama’ah kaum muslimin dan imam mereka, yang termasuk maslahat sangat mendasar ini.

PERBEDAAN ANTARA FIRQOH DENGAN IKHTILAF

Banyak orang yang belum mampu memilah antara perpecahan dengan perbedaan, padahal keduanya terdapat perbedaan yang sangat fundamental. Antara lain:

• Perpecahan, merupakan bentuk perbedaan yang sangat berat dan meruncing; karena terkadang perbedaan bisa mengarah kepada perpecahan, namun sebaliknya, tidak semua perbedaan secara otomatis dapat menimbulkan perbecahan.

• Tidak semua perbedaan dianggap perpecahan, namun setiap perpecahan pasti bisa dianggap perbedaan.

• Setiap perpecahan terjadi akibat perbedaan dalam masalah ushuluddin atau aqidah, yang tidak mungkin mengenal perbedaan seperti perkara agama yang bersifat qath’i atau ijma ulama. Sementara perbedaan sebatas masalah furu’ yang sangat berpeluang terjadi perbedaan dalam masalah tersebut karena secara dalil dan historis membuka peluang untuk berbeda.

• Perbedaan atau masalah khilafiyah, muncul akibat dari kemampuan seorang ulama dalam berijtihad yang dibarengi dengan i’tikad dan niat yang baik. Jika benar dalam ijtihadnya, ia mendapat dua pahala. Dan bila salah dalam ijtihadnya, maka Allah memberi satu pahala dan mengampuni kesalahan tersebut.

• Perpecahan biasanya seputar masalah agama yang sudah jelas sanksi dan ancamannya. Dan siapa saja yang menyelisihinya, pasti dianggap aneh dan mengalami kehancuran. Adapun perbedaan tidaklah seperti itu. karena, apapun yang terjadi dalam masalah khilafiyah, seorang muslim tidak boleh saling menyesatkan apalagi mengkafirkan, namun semua harus mencari pendapat yang paling kuat dalilnya dan paling dekat dengan kebenaran. Bahkan diharamkan talfiq (memilih-milih pendapat yang lemah) atau mencari-cari pendapat yang ganjil, disebabkan karena kesalahan ulama dalam berijtihad.

KEPASTIAN ADANYA FIRQAH DALAM TUBUH UMAT

Dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, banyak ditemukan dalil-dalil yang memberi penjelasan adanya furqoh atau perpecahan dalam tubuh Umat Islam. Allah berfirman, yang artinya:

Jikalau Rabb-mu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu. [Hud: 118,119].

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud, ia berkata: Suatu hari Rasulullah membuat garis lalu bersabda,”Inilah jalan Allah,” kemudian (Beliau) membuat garis-garis dari arah kanan dan kirinya, lalu bersabda,”Ini adalah jalan-jalan, dan setiap jalan itu terdapat syetan yang mengajak kepadanya,” kemudian Beliau membaca firman Allah: Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. [Al An’am:153].

Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Kaum Yahudi terpecah penjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan di Surga dan tujuh puluh golongan di Neraka. Dan kaum Nashrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu golongan di Neraka dan satu golongan di Surga. Dan demi jiwa Muhammad ada di tanganNya, ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu golongan berada di Surga dan tujuh puluh dua golongan berada di Neraka.” Beliau ditanya: “Wahai, Rasulullah. Siapakah mereka?” Beliau bersabda,”Al Jama’ah.” [HR Ibnu Majah].

Dari Abdullah bin Amr, bahwa Rasulullah bersabda:

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga agama, semua masuk Neraka kecuali satu agama”. Beliau ditanya,”Wahai, Rasulullah. Siapakah mereka?” Beliau bersabda,”Golongan yang meniti jalan hidupku dan jalan hidup sahabatku. [HR Tirmidzi].

Nash-nash di atas, secara gamblang menjelaskan bahwa Umat Islam akan berpecah belah, maka perpecahan dalam tubuh umat pasti akan terjadi. Namun perpecahan tersebut, oleh Rasulullah dianggap sebagai suatu adzab dan kehancuran. Oleh sebab itu, perpecahan tersebut tidak harus dibuat dan bukan suatu hal yang dipuji, tetapi muncul sebagai bentuk ujian dan cobaan; sehingga banyak anjuran, baik dari Allah dan RasulNya untuk bersatu berada di atas kebenaran dan menghindar dari segala sumber perpecahan. Sebab, perpecahan itu tidak akan terjadi, bila umat berada di atas ilmu dan pemahaman yang benar, serta mengetahui secara baik kebenaran dari Al Qur’an, Sunnah dan manhaj yang benar.

PEMICU TIMBULNYA PERPECAHAN UMAT

Perpecahan bukanlah semata-mata takdir dan sunnatullah, akan tetapi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor manusiawi. Adapun faktor-faktor yang dominan menjadi pemicu perpecahan di kalangan umat Islam, antara lain ialah:

  1. Bercampurnya ajaran kemusyrikan dan penyimpangan syari’at dengan ajaran Islam, sehingga sebagian umat Islam tidak mampu membedakan antara ajaran yang haq dengan ajaran yang bathil.
  2. Kurangnya pemahaman yang benar sebagian umat Islam terhadap ajaran Islam, dan lemahnya semangat mereka untuk mempelajari ajaran Islam.
  3. Fanatis, dan taklid buta serta lebih senang mengedepankan keinginan hawa nafsu dengan mengorbankan nilai-nilai keimanan.
  4. Lebih mengutamakan dan mendahulukan akal serta logika belaka daripada kepada nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah Rasulullah Sahallahu ‘Alaihi Wasallam

Categories