Menyadari Tipu Daya Musuh

Menyadari Tipu Daya Musuh

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمُ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

“Orang-orang yang telah kami berikan Kitab kepadanya, mereka mengenal (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).” (Al-An’âm: 20)

Golongan Ahli Kitab mengetahui tabiat din ini. Karena itu, mereka memeranginya dengan cara yang sangat cerdik. Mereka mencari celahcelah yang mungkin dapat mereka masuki. Mereka mencari-cari pusat kekuatan yang ada dan kemudian menikamnya. Mereka mencari faktorfaktor dan figur-figur yang mungkin dapat memenangkan din ini. Mereka pun kemudian memerangi dan menyerang mereka tanpa kenal lelah.

Oleh karena itu, ketika mereka mengetahui bahwa yang menggerakkan din ini adalah para ulama, yang melindunginya adalah pedang, dan yang membentenginya dengan kokoh adalah jihad, maka mereka memutar otak. Jika senjata telah diturunkan, mereka akan lebih mudah untuk melancarkan tipu daya. Jika dinding yang mengelilingi sebuah rumah telah hilang, pencuri akan mudah memasuki dan menyatroninya.

Sebaliknya, jika sebuah rumah dipagari dengan dinding dan dijaga oleh lelaki yang kuat, pencuri pun akan segan memasukinya. Jika di dalam rumah itu ada orang-orang muda yang kuat dan pemberani, pencuri akan gentar untuk menyatroninya. Demikian juga, jika di rumah tersebut ada senjata, pencuri takut untuk memasukinya. Jadi, pencuri-pencuri itu mencari rumah yang tidak ada senjatanya dan tidak ada kaum lelakinya.

Musuh-musuh Allah mempunyai obsesi yang besar. Mereka sibuk memikirkan bagaimana cara melucuti din ini dari senjata dan penjaganya. Bagaimana cara meruntuhkan sifat kejantanan yang ada di dalamnya. Coba kita menengok Al-Azhar. Musuh-musuh Allah mendapati bahwa Al-Azhar, sejak seribu tahun yang lalu, telah menjadi benteng keilmuan Islam.

Dari sana menyebar ulama-ulama ke segenap penjuru dunia. Maka mereka memusatkan tipu daya mereka untuk meruntuhkan benteng tersebut. Atau berupaya mengosongkan benteng tersebut dari isinya sehingga jadilah ia seperti jasad mati tanpa ruh dan seperti orang tanpa kehidupan. Mereka telah meraba denyut nadi Al-Azhar sejak permulaan abad XIX.

Napoleon masuk negeri Mesir menyerbu Al-Azhar dengan kudanya sendiri, karena ia mendapati bangunan kuno yang berumur seribu tahun inilah yang menggerakkan Mesir. Maka ditiuplah genderang perang oleh ulama-ulama Al-Azhar. Mereka menyerukan jihad terhadap colonial Salibis. Syaikh Al-Azhar berdiri di atas mimbar dan memfatwakan kekafiran Napoleon dan para pengikutnya, serta memaklumatkan jihad fi sabilillah.

Maka bergeraklah umat Islam mengangkat senjata, sehingga memaksa Napoleon untuk memakai surban dan jubah, serta menyatakan keislamannya agar reda kemarahan para pemuda Al-Azhar. Ia turut menghadiri pertemuan-pertemuan dalam majelis ulama Al-Azhar.

Kemudian muncul kesulitan dan problem di negeri Prancis, yang memaksa Napoleon untuk pulang kembali ke negerinya. Ia menunjuk Kléber untuk menggantikan kedudukannya. Sementara itu, ada pemuda pelajar Al-Azhar yang meminta fatwa kepada sekelompok ulama Al-Azhar untuk membunuh Kléber. Ia bukan orang Mesir, ia dari Halab (Allepo, Suriah) negeri kelahiran Sulaiman Al-Halabi.

Para ulama yang dimintai fatwa itu memberikan persetujuan kepadanya. Ia kemudian mengintai Kléber di luar Kairo dan menyembelihnya dengan kelewang. Dengan demikian, berakhirlah ekspedisi militer Napoleon di negeri Mesir. Setelah tewasnya Kléber, pasukan kolonial Prancis kembali ke negerinya.

Kejadian ini menyebabkan Napoleon berpesan kepada negara-negara Eropa yang lain, “Dengarkanlah! Apabila kalian hendak mengukuhkan cengkeraman kaki-kaki kalian di Dunia Islam, hal itu tidak akan mungkin selama Din Islam masih berjalan dalam urat nadi kaum muslimin. Kalian harus mampu mencabut Din ini dari hati mereka dan menanamkan pohon lain sebagai gantinya. Hapuskanlah pengaruh Din ini secara berangsur-angsur, dan sodorkan Din baru sebagai gantinya. Serukan kepada mereka nasionalisme, nasionalisme Arab.”

Bahkan, musuh pun telah menyadari bahwa Islam tidak akan pernah terkalahkan jika iman dan Islam terpatri di hati kaum muslimin. Solusi kebangkitan Islam hanya ada satu, yaitu kembali kepada Islam yang kaafah. Wallahu a’lam bi shawab. (kiblatnet/adj)

Categories