Merasa Ditebus Yesus, Kristen tak Butuh Amal Shalih

Merasa Ditebus Yesus, Kristen tak Butuh Amal Shalih

Mustanir.com – Lembaga Penginjilan Kedar Ministry (LPKM) makin ugal-ugalan meneror akidah umat Islam. Dalam artikel berjudul “Dapatkah Amal Ibadah Menyelamatkan Orang Islam?” yang diposting dalam website muslim-murtad###.com, ia mengajarkan bahwa dalam Islam sama sekali tidak ada jaminan keselamatan surgawi. Ayat Al-Qur’an diselewengkan pengertiannya untuk menyatakan bahwa segala ibadah dan amal shalih umat Islam akan sia-sia karena Al-Qur’an memastikan mereka masuk neraka. LPKM menulis:

“Setiap umat Muslim berharap mendapat pengampunan dosa melalui usaha mereka sendiri. Mereka berpendapat, “Kita diharuskan beribadah sebanyak mungkin guna memperbanyak amal. Sebab di akhirat kelak, amal perbuatan manusia akan ditimbang”

Pertanyaannya: Bilakah ibadah seseorang akan dianggap cukup? Apakah dengan usaha tersebut seorang Muslim sudah dapat pasti selamat?

Sulit untuk dipastikan! Sebab ayat lain dalam Al-Quran berkata, “Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan” (Qs Maryam:71).

Rujuklah ayat di atas! Ternyata banyak-sedikitnya amal dan ibadah seorang Mukmin, tetap tidak dapat menjamin kepastian keselamatan.”

Setelah jungkir-balik menuduh ibadahnya umat Islam sia-sia tak bisa mengantar kepada keselamatan surgawi, Penginjil Kedar Ministry mengemukakan doktrin Alkitab (Bibel) tentang keselamatan.

Menurutnya, untuk dapat benar-benar lepas dari dosa, manusia tak terlalu butuh ibadah dan amal shalih, tapi hanya membutuhkan pertolongan Juruselamat. Dengan Juruselamat Yesus, maka orang Kristen tidak ada yang mengandalkan ibadah dan amal shalih untuk meraih keselamatan surga. Ia menulis:

“Janji indah Isa Al-Masih bagi pengikut-Nya: Allah tidak menimbang dosa. Allah menghapus dan mengampuni dosa. Sehingga, setiap pengikut Isa Al-Masih, tidak ada yang mengandalkan ibadah amal untuk keselamatan. Mereka bersandar penuh pada pengorbanan Isa Al-Masih yang sempurna.”

Ajaran islamologi racikan Penginjil Kedar Ministry itu omong kosong semua! Sama sekali tidak sesuai dengan konsep Al-Qur’an maupun aqidah Islam. Hanya bermodal terjemahan Al-Qur’an yang dikutip sepotong, para penginjil itu jauh dari spirit ilmiah, nampak jelas kepandirannya.

Bantahan terhadap kesimpulan penginjil bahwa banyak-sedikitnya amal dan ibadah seorang Mukmin tidak dapat menjamin keselamatan, bisa dilihat artikel “Surga Halusinasi Penginjil Kedar Ministry” (Suara Islam edisi 155).

Tidak ada yang salah dengan aqidah Islam. Super sekali umat Islam yang memurnikan iman dan memperbanyak amal shalih. Karena Allah menyatakan bahwa iman dan amal shalih itulah yang bisa menyelamatkan manusia menuju surga.

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan” (Qs As-Sajdah 19).

“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan” (Qs. Az-Zukhruf 72; baca juga: An-Nahl 32, Ath-Thuur 17-19, Al-Waaqi’ah 24).

Dalam ayat-ayat tersebut Allah menggaransi bahwa orang mukmin yang beramal shalih kelak sukses masuk surga karena amalnya (bima kuntum ta’malun, bima kanu ya’malun).

Huruf ba’ dalam kedua pada ayat di atas disebut ba’ sababiyah, yaitu menunjukkan arti sebab, sehingga harus diterjemahkan: “Oleh sebab amal-amal yang telah kalian kerjaka.” Dengan kata lain, segala amal shalih menjadi sebab pelakunya masuk ke dalam surga.

Meski demikian, umat Islam tidak akan takabur, menafikan Allah dan menganggap surga sebagai pengganti amal shalih mereka. Karena Rasulullah SAW mengingatkan: “Tidaklah seseorang masuk surga dengan amalnya. Ditanyakan, “Sekalipun engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Sekalipun saya, hanya saja Allah telah memberikan rahmat kepadaku” (HR. Bukhari dan Muslim).

Surga bukanlah sebagai ganti harga amal shalih manusia, tapi karena kemurahan, rahmat, dan karunia Allah. Manusia bisa beriman dan beramal shalih itu semata-mata karena Allah telah memberi karunia taufiq untuk beriman dan beramal shalih. Tanpa taufiq dari Allah, mustahil manusia bisa beriman dan beramal shalih.

Anggapan penginjil bahwa mereka tidak terlalu butuh ibadah karena sudah pasti masuk surga hanya dengan menerima doktrin Penebusan dosa oleh kematian Yesus di tiang salib adalah halusinasi di siang bolong.

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka”
(Qs. Al-Baqarah 111).

Akidah para penginjil itu sungguh aneh. Tanpa mengandalkan amal shalih mereka bersandar pada doktrin penebusan dosa dan ketuhanan Trinitas yang ditopang oleh ayat-ayat palsu. Tapi mereka mengklaim sudah yakin pasti masuk surga dan berani memvonis umat Islam bertauhid yang beramal shalih sebagai ahli neraka. Inilah khayalan teologi kelas tinggi!!

KRISTEN AKAN BERLUTUT DI NERAKA

Secara culas, Penginjil Kedar Ministry mencomot sepotong ayat Maryam 71 untuk memvonis umat Islam tak ada yang selamat ke surga. Ayat 71 tersebut sengaja dikutip terlepas dari ayat sebelum dan sesudahnya, supaya terkesan bahwa semua orang tanpa kecuali akan masuk neraka semua.

Salah besar jika dari ayat 71 itu dituduhkan bahwa semua orang Islam masuk neraka, karena dijelaskan dalam ayat berikutnya:

“Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”
(Qs Maryam 72).

Perlu digarisbawahi, ayat 71 itu dinyatakan “wariduha” yang berarti mendatangi atau melewati (pass over it), bukan “dakhiluha” (memasukinya, enter).

Dinyatakan “wariduhaa” yang berarti mendatangi atau melewati neraka untuk semua manusia. Dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri RA disebutkan semua manusia akan mendatangi neraka dalam arti meniti/melewati jembatan Ash-Shirath yang terbentang di atas permukaan neraka Jahanam. Hanya orang beriman yang bisa selamat dari neraka, sementara para penghuni neraka akan terjatuh di dalamnya.

Kadar amal shalih dan ketakwaan akan sangat berpengaruh dalam proses melewati jembatan Ash-Shirath ini. Semakin banyak amal shaleh seseorang di dunia, maka ia akan semakin cepat dalam menyeberanginya. Allah Ta’ala menyelamatkan orang-orang yang bertakwa kepada-Nya sesuai dengan amal mereka. Ada yang melewatinya secepat kedipan mata, atau secepat angin, secepat jalannya kuda terlatih maupun seperti kecepatan larinya hewan ternak. Ada yang menyeberangi Shirath dengan berlari-lari, berjalan dan merangkak. Sebagian yang lain tersambar dan terjerumus jatuh di dalam neraka. Rasulullah Saw bersabda:

“Manusia akan mendatangi neraka, lalu mereka terselamatkan darinya dengan amalan-amalan mereka. Yang pertama di antara mereka lewat seperti kilat, yang berikutnya seperti angin, lalu seperti langkah kuda, seperti berkendaraan dalam perjalanannya, seperti orang berlari, dan seperti orang yang berjalan”
(HR. At-Tirmidzi dan Ad-Darimi, dari Abdullah bin Mas’ud RA).

Memang ada mufassir lain yang menyebut kata “wariduha” berarti memasuki neraka, karena kata “wurud” bermakna memasuki ini disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur’an, antara lain surat Al-Anbiya’ 98-99 dan Hud 98.

Tapi meskipun semua orang akan masuk ke dalam neraka, tapi orang mukmin tidak merasakan bahaya dan panasnya neraka. Api neraka akan terasa dingin sebagaimana mukjizat Nabiyullah Ibrahim ketika dibakar api, sama sekali tidak merasakan kepanasan.

Meski berbeda penafsiran mengenai makna “wariduha,” apakah mendatangi, melewati, mendekati atau memasuki, tapi para mufassir sepakat bahwa semua orang mendatangi neraka tapi tidak semuanya menghuni neraka dan merasakan azab neraka. Hanya orang kafir yang disiksa di neraka, sedangkan orang mukmin diselamatkan dari azab neraka (Maryam 72). Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw bahwa umat Islam yang bertauhid akan terbebas dari azab neraka.

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka orang yang mengatakan ‘La ilaha illallah’ karena mengharapkan wajah Allah” (Muttafaq ‘alaihi dari Itban bin Malik RA).

Bagaimana nasib umat Kristen di akhirat?

Mereka juga disebut kafir dan zalim karena mempersekutukan Allah dengan mengimani doktrin ketuhanan Yesus Kristus. Maka Allah mengharamkan surga bagi mereka, dan tempat yang paling pantas dan pasti bagi kafir Ahli Kitab di akhirat kelak adalah neraka Jahanam yang kekal (Qs. Al-Ma’idah 17, 72, Al-Bayyinah 6).

Sebagai orang yang zalim, mereka terancam surat Maryam 72, Allah membiarkan mereka di dalam neraka Jahanam dalam keadaan berlutut.[]

SUMBER

Categories