Moderasi Beragama, Jalan Tengah Kaum Sekularisme

MUSTANIR.net Saat ini pemerintah memang masih menggencarkan wacana moderasi beragama pada seluruh aspek kehidupan, terutama saat ini yang menjadi pusat perhatian pemerintah adalah dunia pendidikan. Pemerintah mengatakan bahwa penguatan moderasi beragama masuk dalam tujuh program pokok Kementerian Agama.

Dari sini bisa kita pahami bahwa misi Kemenag yang harus terwujud dalam pemikiran dan perbuatan manusia yaitu menciptakan masyarakat Indonesia yang unggul dan moderat. Yang tentunya juga dibutuhkan output-nya adalah terciptanya SDM yang cerdas, sholih, dan berpegang teguh pada al-Qur’an dan hadits.

Namun apakah fakta di lapangan demikian?

Padahal faktanya, orang-orang yang menganut moderasi beragama justru toleran dalam segala hal, dari aspek ‘aqidah hingga syari’at. Misalnya dalam masalah pergaulan bebas, orang-orang tersebut justru membiarkannya dengan alasan urusan masing-masing individu.

Padahal yang sudah seharusnya kita ketahui bahwa sebagai umat muslim, kita tidak dibolehkan toleransi dalam hal ‘aqidah. Maka yang sebenarnya dihasilkan dari moderasi beragama ini adalah SDM yang apatis, liberal, dan alergi dengan hal-hal yang berbau agama. Sehingga tanpa sadar moderasi justru bisa merusak nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri.

Selain itu bila kita telaah lebih dalam lagi, di balik wacana “moderasi beragama” memiliki semangat jalan tengah yang sebenarnya bukan berasal dari Islam, melainkan berasal dari kapitalisme yang ‘aqidahnya sekularisme. Di sisi lain, haq dan batil ibarat air dengan minyak yang tidak bisa dicampuradukkan, maka memilih jalan tengah tidak ada bedanya dengan batil karena membiarkan kebatilan.

Pandangan Islam Mengenai Moderasi

Seperti yang sudah banyak kita ketahui bahwa umatan wasathan dalam al-Qur’an bermakna umat Islam adalah umat yang adil, bukan umat tengah-tengah seperti narasi kaum moderat. Sementara pengertian menempatkan dengan adil perihal bergama itu sendiri adalah dengan menempatkan antara haq dan batil sesuai dengan tuntunan syariat. Bukan mencampuradukkan antara satu agama dengan agama lain, sebab bagi umat Islam itu sendiri khawatirnya justru akan merusak ‘aqidah.

Seharusnya Kemenag sebagai lembaga pemerintah yang mengambil peran sebagai kementerian agama bisa  berpegang teguh pada al-Qur’an dan hadits artinya menjadikan al-Qur’an dan hadits sebagai pedoman dalam setiap aktivitas sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan berdasarkan tafsir yang shahih, bukan dengan tafsir yang disandarkan pada hawa nafsu.

Oleh karena itu, kaum muslim yang berpegang teguh pada al-Qur’an dan hadits akan menerapkan syari’at dalam segala aspek kehidupan yang hanya dapat direalisasikan dengan institusi khilafah Islamiyyah. Selain berperan sebagai pemerintah namun juga menjaga ‘aqidah umatnya.

Wallahua’lam bishshowab. []

Sumber: Darwati

About Author

2 thoughts on “Moderasi Beragama, Jalan Tengah Kaum Sekularisme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories