
Malapetaka Modernisme
MUSTANIR.net – Apa yang ditawarkan modernisme? Itulah hubudunya. Kecintaan pada dunia, dan menanggalkan akhirat sebagai orientasi. Modernisme dibentuk berdasarkan aqidah qadariyya, di mana manusia wajib percaya bahwa ‘segala sesuatu adalah perbuatan manusia.’ Bukan ‘perbuatan Tuhan.’
Ini beririsan dengan munculnya sains era modern. Seolah dengan sains yang meledak, membuktikan ‘perbuatan manusia’ adalah mutlak. Tuhan hanya sebagai penyebab sekunder. Bukan penyebab primer.
Ini dimulai dari ajaran Descartes yang menggiring supaya manusia percaya ‘hanya yang masuk akal’ sebagai ‘being.’ Kemudian Kant mendoktrin perihal empirisme agar dijadikan acuan tunggal. Einstein menegaskan bahwa ‘dia yang melempar.’ Tak ada ‘perbuatan Tuhan.’ Ditambah Einstein seolah dengan teori ‘atom’-nya berhasil menyihir manusia agar percaya itu adalah ‘ciptaannya.’ Tak ada kehendak Tuhan di sana.
Ini pula yang digemborkan Atatürk kala membubarkan Daulah Utsmaniyya. Dia teriak lantang, “Perbuatan siapa sekarang, kita (manusia) atau Tuhan?”
Abad modernisme, pertarungan antar dua aqidah. Antara jabariyya yang usang, dan qadariyya yang gagal. Tiga abad berjalan, buah dari modernisme ini hanya melahirkan posmodernisme. Karena terbukti peradaban ini malah menyengsarakan umat manusia. Karena manusia semakin jauh meninggalkan ‘kebenaran eksistensialis,’ seperti kata Heidegger.
Manusia terjebak pada ‘kebenaran esensialisme.’ Paspor, uang kertas, sertifikat, dan lainnya itulah aturan ala manusia yang berupa ‘kebenaran esensiali’ yang kerap dianggap sebagai ‘kebenaran’. Ujungnya manusia justru kehilangan ‘kebenaran’.
Jalan lain yang ditawarkan modernisme tentulah hubudunya. Karena dengan cinta dunia, dengan berpatokan pada dzahir semata, maka manusia akan mudah tersihir pada alam dunia –yang dulunya adalah padang tandus dan gersang.
Begitu manusia menyatakan seolah ‘segala sesuatunya adalah materi’ –maka banyak yang tersihir untuk mempercantik dan memperindah alam materi. Seolah tiada alam lain –malakut, jabarut, lahut– yang sejatinya merupakan bagian dari alam. Karena materialisme membuat manusia lupa akan efektifitas alamul akhirat, dan seolah berfokus pada alam dunia semata. Inilah tawaran pahit modernisme.
Tak heran, para pengusung modernisme memaksa umat manusia untuk mengikutinya. Pemaksaan itu ditandai dengan menggoda keindahan alam ‘material’ bahwa seolah itulah kehebatan manusia, dengan menganggap tiadanya ‘perbuatan Tuhan.’ Inilah malapetaka modernisme.
Maka antitesa modernisme tentulah kembali pada paham ‘ahlul sunnah wal jamaah.’ Asy’ariyyah menegaskan bahwa ‘qudrah dan iradah’ adalah tegas merupakan domain perbuatan Tuhan. Bukan perbuatan manusia.
Kurikulum modermisme, mulai dari positivisme, kapitalisme, sekulerisme, sampai liberalisme bisa mencuat akibat manusia tersihir paham ‘being’ adalah perbuatan manusia. Bukan perbuatan Tuhan. Itulah kemusyrikan pemikiran yang digodok sejak era renaissance. Dan diekspor ke berbagai belahan dunia hingga menjadi paham tunggal kini: modernisme. []
Sumber: Irawan Santoso Shiddiq
