Muslimah Jerman Di Uji dengan Kewajiban Ikhtilat

Muslimah Jerman Di Uji dengan Kewajiban Ikhtilat

Dalam Republika Online, tertulis  Pengadilan tinggi Jerman mewajibkan pelajar Muslimah mengikuti kelas renang campuran pria dan wanita di sekolah (rol)

Komentar Mustanir.com

  1. Pengadilan Jerman tersebut jelas menganggap bahwa kedudukan wanita dan pria di mata publik memiliki hak dan kewajiban yang sama, sehingga itulah dasar dari kebijakan pencampuran antara renang pria dan wanita. Ini jelas merujuk pada keyakinan dasar dari Hak Asasi Manusia.
  2. Tentu saja Islam memiliki pandangan berbeda. Ketidakbolehan pencampuran antara pria dan wanita dalam beberapa hal dilandaskan pada wahyu, yakni Hadits Nabi tentang dilarangnya khalwat dan kebiasaan Nabi serta Shahabat yang memisahkan antara kehidupan pria dan wanita (infishol). Inilah standar yang benar dalam Islam. Karena Islam sesuai fitrah, maka seharusnya apa yang diperintahkan Islam akan menjaga fitrah manusia.
  3. Maka jangan kita heran jika akibat dari kebijakan pengadilan semacam ini, dan juga kebiasaan orang-orang Barat dengan kehidupan campur baur antara pria dan wanita, menyebabkan banyak kerusakan moral dan kehidupan sosial. Pelecehan seksual, freesex (zina), impotensi, perselingkuhan dan sebagainya muncul karena pengaturan kehidupan pria dan wanita yang tidak sesuai tuntunan Pencipta manusia, Allah Rabbul’Izzati.

Categories