Oh Pemimpinku, akan ke Mana Negaraku Kau Bawa Pergi?

Oh Pemimpinku, akan ke Mana Negaraku Kau Bawa Pergi?

Oleh: Erie Sudewo, Pendiri Dompet Duafa

Di Ahad pagi, saya sudah duduk di kursi salah satu cafe di Citos Jakarta Selatan. Mata saya nanar pandangi yang nasibnya seperti saya. Pagi-pagi sudah cari tempat mojok. Alasan sih betul janjian dengan kerabat. Cuma sebenarnya, ya gitu deh. Mual dengan rutinitas rumah.

Tumben kedua, sebenarnya saya bukan penggemar kopi. Koq ya pesan kopi luwak. Kali ini saya maafkan diri, sesekali sruput kopi mahal. Demi kenikmatan. Cuma kopi luwak disaji di cangkir. Harapan kopi luwak dituang di gelas, seperti kesukaan saya akan es kopi, yang gelasnya ekstra jumbo, gak kesampaian. Cangkir kopi luwak, alamak. Setengah teguk ludes.

Begitulah lidah dan perut saya jenis proletar. DNA lidah kalangan bawah bukan penikmat. Maka perut rakyat, cuma butuh kenyang. Bukan jenis makanan yang hebring-hebring seperti tawaran wisata kuliner. Perut rakyat terisi singkong, tak usah ubi Cilembut, insya Allah negara aman.

Eh apa pula ini. Dari cafe nyerempet ke perut rakyat. Dari rakyat sekarang nyasar ke negara. Orang Jawa bilang, “utak atik gathuk”. Ya maafkan. Istilah dimanapun punya konteks.

Bicara penduduk bicara statistik. Bicara warga bicara kebangsaan. Bicara rakyat bicara hajat hidup banyak orang. Dan kehidupan rakyat Indonesia, ini soal besar kita.

“Assalamu’alaikum…”, pikiran saya buyar seketika. Sobat yang ditunggu-tunggu telah hadir.

“Dahi berkerut, lagi mikir apa Bro. Negara? Hehehe… Gak bosan mikirin negara. Emang negara pernah mikirin kita?” tanya Riwok Ndadari.

jebret… Jebreet… Jebreeet. Pagi-pagi di awal jumpa, saya sudah kena “skak mat”.

Sambil dudukkan pantat di kursi, Riwok lanjutkan bicara: “Kelola negara sesungguhnya mudah”.

Mata saya memincing. Sembarangan nih sobat, pikir saya. Enak aja omong kelola negara gampang. Cuma saya siapkan diri simak kata-katanya.

Sederhana koq kelola bangsa, katanya. Konsen saja pada rakyat. TITIK. Soalnya, ada gak pemimpin yang berani begini. Mental musti kuat. Sebelum bicara, lihat soal sebenarnya. Salah satu cara, terjunkan “tim malaikat”. Maksudnya? Ya orang baik-baiklah. Emang masih ada? Masih lah bro. Negeri ini masih banyak orang baik-baiknya.

Pasang mata dan kuping baik-baik. Tapi tak perlu lihat dan dengar semua hal. Sebelum bicara lagi, kunyah dengan sentuhan nurani. Nah kebijakan berbasis nurani, itu bicara rakyat. Bicara maslahat kayak gini, ini yang tak disukai. Di banyak negera sama. Siap-siap dijauhi. Politisi manapun meradang.

Negara adalah terminal kepentingan. Ingat, rakyat seperti karyawan. Rakyat atau karyawan bicara apapun. Sedang manajer atau pembantu presiden, seperti konsultan. Semua hal dibicarakan. Untuk apa? Untuk perlihatkan kehebatan mereka.

Sedang pemimpin tak perlu tahu dan tak perlu bicara semua hal. Pemimpin hanya harus tahu kemana organisasi atau negeri ini hendak dibawa.

Maka hal yang paling mengecewakan adalah saat pemimpin tak bisa jawab: “Hendak dibawa kemana negerinya”. Ketika kapal tak tahu kemana hendak berlayar, tak ada satu angin pun yang bisa mendorong.

Usai seruput teh pahit, Riwok lanjutkan bicara. Saat pemimpin diusung banyak kepentingan, entah sadarkah dia. Dirinya telah jeratkan diri. Disangka mudah lepas dari betotan pusaran kepentingan Bro.

Kita lupa pesan Rasulullah SAW. Terjemah bebasnya begini: “Pemimpin yang buat susah rakyat, pertanggungjawabannya kelak berat”.

Cewiwis wiiss wiiisss. Pesan Rasulullah SAW yang dikutip Riwok, kempesi niat saya. Belakangan saya mulai lirak lirik ingin jadi politisi. Enak banget jadi politisi. Mau di legislatif atau eksekutif, kemana-mana dibiayai negara. Fasilitas semua serba plus. Bantu rakyat juga dari uang negara. Nama melambung. Duit penuh. Belum lagi dapat… ehem eheeem…

“Tahu beda politisi dan negarawan, Bro?” Tanya Riwok. Saya menggeleng.

“Negarawan berkorban untuk negara. Tapi politisi, negara jadi korban”, jelas Riwok.

Saya mengangguk-angguk. Entah berapa puluh juta orang anggukan hal sama. Seiring anggukan warga yang paham, pertanyaannya: “Apa Indonesia hari ini berjalan di atas kehendak dan kepentingan rakyat?” (rol/adj)

Categories