PON Jabar untuk Kepentingan Siapa?

PON Jabar untuk Kepentingan Siapa?

Oleh : Fauzi Ihsan Jabir *)

Mustanir.com – Pekan Olahraga Nasional XIX/2016 adalah ajang olahraga nasional yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat, dari 17 sampai 29 September 2016. Diikuti oleh 34 Provinsi di Indonesia, PON XIX/2016 terdiri dari 44 cabang olahraga, dengan menghadirkan sekitar 8403 atlet diluar atlet tuan rumah. PON merupakan ajang yang paling ditunggu bagi segenap pecinta olahraga maupun atlet yang sudah berlatih keras siang dan malam hingga mempertaruhkan sebagian hidup asa dan pikirannya untuk mengikuti ajang bergengsi ini. Agenda besar ini sebagai juga ajang unjuk gigi bagi provinsi agar sorot mata para pencari bakat tertuju pada Provinsinya dan menaikan drajat provinsi yang melahirkan para hero-hero atau jawara-jawara olahragawan.

Pada  12 mei 2014 jauh sebelum diadakannya kegiatan besar atas nama Provinsi Jawa Barat, Pemprov Jabar menggelontorkan dana awal sebesar Rp 277 miliar dari dana APBD Provinsi Jawa Barat. Anggaran itu dialokasikan Rp 140 miliar untuk pembangunan fasilitas baru dan Rp 137 miliar untuk perbaikan fasilitas yang ada. Sebanyak 59 venue pertandingan yang direncanakan akan digunakan untuk PON XIX/2016, 42 venue merupakan lama yang direnovasi, 9 venue sewaan, dan 8 venue baru, antara lain: GOR Bandung (Bulu tangkis dan tarung derajat), Lapangan Futsal ITB Jatinangor (untuk cabang olahraga futsal), Graha Laga Satria ITB Jatinangor (pencak silat), Kolam Renang Si Jalak Harupat (polo air), Gedung Serba Guna Tinju Pelabuhan Ratu (tinju), dan Arena Panjat Tebing Cikole Lembang.

Untuk akomodasi atlet dan ofisial di hotel dengan fasilitas minimal bintang tiga, PB PON bekerja sama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Jawa Barat telah menginventaris dan menyiapkan sekitar 800 hotel. Dalam hal penyiaran PB PON dan PT MNC TV menandatangani kesepakatan pada 12 Juli 2016 untuk penyiaran PON XIX/2016 di tiga stasiun TV di grup PT MNC TV, yaitu: MNCTV, MNC Channels (TV berbayar), dan iNews TV dengan fokus pada tiga cabang olahraga yaitu: Bulu tangkis, Sepak bola, dan Futsal.

Pembukaan dan penutupan PON XIX/2016 pada awalnya direncanakan akan dilaksanakan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GLBA), Kota Bandung, namun setelah dilakukan uji kelayakan berkaitan dengan adanya kasus korupsi dalam pembangunan stadion ini ternyata terkendala konstruksi bangunan yang kurang layak. Pihak PB PON dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil melakukan diskusi dengan pihak Polri yang menghasilkan kembali terpilihnya GLBA sebagai pembukaan dan penutupan PON.

Untuk membantu pendanaan PON XIX/2016 yang telah menghabiskan biaya Rp 2,3 triliun, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengeluarkan kebijakan mengalihkan dana bantuan desa masing-masing sebesar Rp 100 juta untuk 5.319 desa di Jawa Barat dengan total Rp 531,9 miliar untuk PON XIX/2016. Setelah mendapat reaksi penolakan dari sejumlah kepala desa se-Jawa Barat, pengalihan dana dilakukan dengan tetap membayar dana desa sebesar Rp 50 juta untuk tahun 2016 dan Rp 50 juta digunakan untuk membantu pembiayaan PON XIX/2016, dan akan dibayarkan ke masing-masing desa pada tahun 2017. (Tribun Jabar 22/3/2016)

Gurihnya Dana Rakyat

Jika kita perhatikan dari 2 tahun silam proyeksi penyiapan PON sungguh tidak ragu-ragu, baik dalam tahap persiapan hingga menjelang hari H pelaksanaan pembukaan. Terbukti, dari gelontoran dana yang terbilang bukan seratus duaratus juta saja tapi Rp 2,3 triliun. Penggunaan dana rakyat khususnya APBD juga tidak luput demi percantikan venue maupun new venue guna diselenggarakannya PON Jabar. Sosok Aher jelas tidak main-main masalah nama baik Jabar hingga berani mempertaruhkan hak rakyat. Harusnya, dana ini masuk untuk pendidikan rendah Jawa Barat yang menurut IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Jabar ada diurutan ke 15 se-nasional membuktikan tingkat kualitas pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat Jawa Barat masih rendah (BPS 2014). Atau angka kemiskinan Jawa Barat per september 2015 terdapat 4.485.654 orang 9,57 persen (BPS Jabar).

Prestasi dana rakyat belum berhenti sampai disini, alih-alih untuk membantu pembiayaan PON dana desa juga dikorbankan guna kelangsungan agenda tuan rumah. Pemerintah Jabar sudah ‘gelap mata’ hingga mengorbankan kepentingan rakyat yang sering di elu-elukan saat kampanye. Jelas korban ini tidak sebanding dengan apa yang nantinya akan di dapat di PON Jabar. Apakah kembali umat harus di perjudikan dalam permainan gambling? Ataukah hanya sepucuk dua pucuk orang yang mampu menikmatinya?

Salah satu komisi DPR RI mengunjungi ketua PB PON XIX Jabar Ahmad Heryawan terkait penyelenggaraan PON. Salah satunya mengimbau PB PON agar transparan dalam pemakaian anggaran. Karena pemberian dana APBN sangat minim di acara besar kali ini, jangan sampai perhelatan ini menyisakan masalah hukum, pungkas Abdul Fikri Faqih wakil ketua komisi.

Rakyat butuh kepastian penghidupan, nyaman tanpa cekikan dana pajak, tidur nyenyak tanpa gangguan rentenir pelit bukan tontonan lomba-lomba yang hanya sebagai kesenangan semu. Rakyat juga ingin adanya pengelolaan keuangan negara yang pasti-pasti di atur dalam syariat Islam bukan dilempar dan dialihkan untuk agenda yang bisa jadi mendatangkan murka Allah.

Rebutan Sekeping Emas, Gunung-Gunung Emas Dilepas

Ajang ini memperebutkan sekeping emas kebanggaan dan segepok uang untuk sanak keluarga dirumah. Semakin banyak kepingan emas yang dimiliki semakin juga provinsi itu mendekati juara umum. Pemerintah dibutakan oleh ajang ajang hiburan dan perlombaan dimana masalah urgent demi kemaslahatan umat sesungguhnya ditinggalkan. Ummat dibuat lupa akan kekayaan yang dimiliki sesungguhnya, yang jelas menjadi hak milik ummat bukan diserahkan ke pihak asing maupun korporasi. PT.Freeport ibarat burung yang terbang bebas dengan intrik tameng atas nama Amerika, pemerintah tak berkutik akibat hutang yang melilit.

Gunungan emas atau limpahan minyak bukan menjadi milik negara lagi, rakyat diberi rebutan piala kayu dan sekeping dua keping emas. Menurut beberapa tokoh dikatakan bahwa PON adalah ajang mempersatukan bangsa, esensinya bukan dalam piala atau uang yang didapat namun olahraga adalah cara berkompetisi dalam semangat perdamaian. Justru tanpa adanya Islam sebagai tolak ukur dalam pertandingan banyak terjadi kericuhan yang ada bukan perdamaian.

Hal ini terbukti di PON Jabar tahun ini. Kasus POLO air yang baku hantam, pertandingan futsal saling serang supporter, ajang bela diri yang juga ricuh, isu wasit yang membela salah satu pihak. Hal ini, tanpa didasari dengan ikatan Aqidah Islamiyyah maka ashobiyyah lah yang terjadi. Masyarakat menjadi pembela-pembela yang berjuang tanpa keimanan, menyerang tanpa aturan dan dasar keimanannya. Jelas tidak ada ikatan yang paling kuat selain ikatan Aqidah Islamiyyah. Allah telah berfirman dalam QS al-Maidah : 3, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmatKu kepadamu dan telah Kuridhai Islam menjadi agamamu.”

PON dengan Kesejahteraan Masyarakat Jabar

Pada dasarnya peluang usaha dan peningkatan taraf hidup masyarakat dalam penyelenggaraan PON Jabar dapat membawa keuntungan maupun membuka peluang usaha baru bagi masyarakat yang hidup di dekat venue-venue PON Jabar. Namun disini tidak akan dibahas mengenai seberapa keuntungan yang akan diperoleh masyarakat Jabar tetapi peluang ini tidak akan menyelesaikan permasalahan mendasar mengenai kesejahteraan umat secara luas. Ini hanyaah selingan jika ada gula maka ada semut.

Permasalahan mendasarnya terletak pada sistem demokrasi yang hanya menguntungkan pihak tertentu dan menggendutkan para borjuis. Ini yang harus dipangkas dan diganti dengan sistem yang shohih yaitu Islam deng sistem pemerintahannya Khilafah. Dan tidak ada lagi upaya upaya tambal sulam mengakibatkan kokohnya sistem demokrasi yang sudah rusak sejak kelahirannya.
Olahraga dalam Pandangan Kapitalis

Ketika kehidupan umat Islam dipimpin oleh ideologi kapitalisme, dengan asas manfaat sebagai pandangan hidupnya, maka orientasi hidup kaum Muslim pun berhasil disesatkan. Mereka bukan hidup untuk Islam dan umatnya, apalagi persiapan untuk kehidupan akhirat. Tetapi, mereka hidup untuk kesenangan duniawi dan materi. Dunia olahraga pun disulap menjadi industri untuk mewujudkan ambisi materi, duniawi dan polularitas.

Para olahragawan dan atlet pun telah menjelma menjadi selebritas, yang diburu oleh media dan penggemar, kemudian diikuti dengan iklan dan pendapatan yang melimpah. Inilah industri olahraga yang telah keluar dari konteksnya untuk menjaga kebugaran tubuh agar tetap sehat dan melatih kekuatan fisik untuk persiapan berjihad di jalan Allah. Di negara-negara Barat, olahragawan dan atlet pun terlibat skandal seks, minuman keras, kecanduan obat dan moralitas.

Fenomena kehidupan mereka pun telah menyihir kaum Muslim. Mereka mengikuti berita dan agenda olahraga dengan mendalam, sementara mereka nyaris tidak tahu urusan agama dan umat mereka. Semuanya ini telah menyeret mereka dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Inilah musibah yang dihadapi oleh kaum Muslim saat ini. Bahkan, olahraga telah digunakan sebagai sarana untuk meracuni mereka dan menghalang-halangi mereka dari zikir, shalat dan jihad di jalan Allah, serta membuang-buang potensi mereka untuk bermain siang dan malam, tanpa peduli terhadap peristiwa atau kondisi yang menimpa kaum Muslim. Ini jelas dilarang oleh Islam.

Olahraga dalam Pandangan Islam

kegiatan olahraga dan non-olahraga, bahkan semua urusan kehidupan manusia, karena merupakan bagian dari kehidupan manusia, harus diatur, baik dengan Alquran maupun Assunnah Rasulullah SAW. Baik dalam bentuk perbuatan, perkataan, termasuk motivasi dan tindakannya. Pengaturan itu bukan karena tradisi dan budaya atau karena populer dan digandrungi, jika ternyata bertentangan dengan syariat Allah harus dilarang. Sebab, syariatlah yang menjadi pemutus atas individu, jamaah dan negara. Syariat pulalah yang menjadi penentu perasaan dan perilaku. Syariat pulalah yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

Nabi memerintahkan agar kita mengajarkan renang, berkuda dan memanah kepada anak-anak kita, konteks perintah tersebut ada dua: Pertama, menjaga kebugaran tubuh agar tetap sehat; Kedua, melatih kekuatan fisik untuk persiapan berjihad di jalan Allah. Tidak lebih dari itu. Maka, olahraga diperlukan dalam dua konteks ini. Bukan untuk olahraga itu sendiri, juga bukan untuk mendapatkan dan mengumpulkan harta, bukan pula untuk mendapatkan popularitas dan ketenaran, yang diikuti dengan arogansi, kesombongan serta sikap destruktif lainnya, sebagaimana yang banyak ditunjukkan oleh olahragawan dan atlet saat ini.

Dengan kata lain, olahraga ini di-set up sedemikian rupa sebagai bagian dari aktivitas politik dan ideologis. Inilah tujuan dan konteks olahraga, yang di era permulaan Islam dikenal dengan istilah Furusiyyah (latihan berkuda untuk menjadi kesatria), yaitu untuk memberikan, membela dan mengembalikan hak-hak yang dirampas dari pemiliknya. Dalam konteks inilah, olahraga ini disyariat. Allah berfirman, “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang mampu kalian upayakan.” (Q.s. al-Anfal [8]: 60). (KH.Hafidz Abdurrahman dalam artikelnya)

Olahraga bukan ajang bisnis atau agenda tradisi yang sampai membawa obar keliling kota Karena tradisi perlombaan seperti ini tidak ada dalam budaya Islam. Budaya ini merupakan budaya Yunani, dengan gimnasiumnya, dan ada sebelum Islam. Ketika Islam berkuasa, budaya dan tradisi seperti ini tidak pernah ditemukan dalam kehidupan Islam. Karena itu, apa yang kini berlangsung di tengah-tengah kaum Muslim, sesungguhnya bukan warisan budaya Islam dan bertentangan dengan cita-cita Islam.  (rol/adj)

*) BE Badan Koordinasi Lembaga Dakwah kampus (BKLDK) Jabar

Categories