eci.gov.in

Pandemi Corona dan Kematian Negara Bangsa

MUSTANIR.net – Menjangkitnya wabah corona hampir di seluruh belahan dunia, serta abainya penguasa negeri ini dalam menangani pandemi corona, menyadarkan kita, bahwa negara bangsa (nation state) merupakan bentuk negara yang rapuh, reyot, dan salah konstruksi sejak awal.

Jika diibaratkan sebuah rumah, nation state adalah rumah yang dibangun di atas fondasi dan rancang bangun yang lemah, berbahan baku murahan, salah konstruksi sejak dini, serta rentan rusak dan roboh. Rumah yang menjadikan penghuninya selalu was-was, tidak nyaman, terancam, dan selalu memicingkan mata dari bahaya yang mengintai setiap saat.

Keadaan semakin memburuk, saat penguasa di negara-negara bangsa mengadopsi paham kapitalis-sekuler untuk mengatur kehidupan masyarakat. Paham ini sejak dicetuskan dan diterapkan di negara-negara Barat, menyebabkan munculnya ketimpangan pendapatan, dikuasainya aset-aset vital oleh korporasi asing yang berkolaborasi dengan penguasa komprador, regulasi “hanya untuk kepentingan pengusaha”, mata uang tak stabil, dan bankir-bankir setan yang acapkali mengacaukan perekonomian negara.

Rakyat harus pasrah dan semakin terpuruk dalam jurang penderitaan akibat dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang berhaluan “emang gue pikiran” (laissez faire), berlepas tangan dalam kegiatan ekonomi rakyat, memalak rakyat dengan mengatasnamakan pajak dan iuran wajib jaring pengaman sosial, dan menjual aset-aset vital milik umum kepada korporasi asing di bawah payung undang-undang privatisasi buatan dewan perwakilan rakyat yang telah tersandera.

Sanksi hukum yang lembek, adanya aparat penegak hukum keparat yang bisa dibeli dengan recehan, serta sistem penegakkan hukum yang ruwet dan tumpang tindih, semakin melanggengkan korupsi, kolusi, dan “kejahatan-kejahatan” terstruktur lainnya.

Negara bangsa yang lahir dari nasionalisme tidak saja bertentangan dengan Islam. Lebih dari itu, ia merupakan sistem kenegaraan tidak manusiawi, high cost, dan dalam banyak hal menghambat terjadinya transfer teknologi, manusia, barang, dan jasa yang menjadi faktor penentu kesejahteraan dan kemakmuran dunia. Sebagaimana dinyatakan para pakar, negara bangsa dipercaya menjadi penyebab dasar munculnya beberapa problem kemanusiaan; diantaranya;

Pertama, meningkatnya jumlah negara yang hanya mementingkan kemajuan dan kepentingan dirinya sendiri dengan mengesampingkan bahkan cenderung mengorbankan kepentingan pihak lain.

Kedua, lahirnya rasialisme, teritorialisme, dan ultranasionalisme yang telah mengeleminasi nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan. Ini didasarkan pada kenyataan, bahwa nasionalisme ditunjang oleh berbagai faktor, seperti teritorial, bahasa, budaya dan keunggulan ras. Atas dasar itu, nasionalisme pasti berdampak pada rasialisme-teritorialisme, teritorialisme, bahasaisme, dan cara pandang lain yang “tidak manusiawi”.

Ketiga, nasionalisme memecah belah kesatuan umat Islam dalam ikatan-ikatan yang bermutu rendah. Lebih dari itu, nasionalisme menempatkan manusia ke dalam sekat-sekat maya yang menjadikan mereka terasing dan diasingkan dari nilai-nilai kebersamaan dan kemanusiaan. Contohnya, betapa umat Islam di negeri-negeri Islam tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolong saudara-saudaranya di Palestina, India, Suriah, dan negeri-negeri muslim lain yang ditindas oleh orang-orang kafir. Padahal, mereka bersaudara dan diikat dengan ideologi yang sama. Sayangnya, mereka tidak mampu mengulurkan tangannya untuk membantu saudara-saudaranya; dikarenakan dinding maya yang memisahkan mereka. Dinding maya itu bernama nasionalisme.

Keempat, nasionalisme sendiri berasal dari gagasan orang Kristen dan Yahudi Arab untuk memecah belah dunia Islam, agar kaum muslim bertikai satu dengan yang lain. [Sardar, 1979] Selain didesain untuk memecah belah persatuan dan kesatuan kaum muslim, negara bangsa (nation state) juga ditujukan untuk mempermudah proses imperialisasi Barat di dunia Islam.

Nasionalisme juga melahirkan konflik, permusuhan, dan persaingan tidak sehat. Lebih dari itu, nasionalisme memberikan kontribusi besar atas lahirnya kondisi ‘psikologis’ yang acuh dan tak acuh terhadap persoalan-persoalan negara-negara lain. Dengan alasan mempertahankan kedaulatan dan kepentingan bangsanya sendiri, nasionalisme telah mencerabut sifat-sifat kemanusian –memperhatikan nasib orang lain–, bahkan telah menanamkan benih saling menerkam dan menikam.

Nasionalisme terbukti gagal dan sudah tidak relevan lagi untuk membangun peradaban masa depan. Sebagaimana dikutip dari Kalim Shiddiqui, paham nasionalisme dinyatakan sebagai paham yang menuntut adanya kesetiaan kepada bangsanya melebihi segalanya.

Menurut Sardar, nasionalis merupakan indikator destruktif bagi peradaban masa depan. Paham ini telah berimplikasi buruk bagi umat manusia; (1) meningkatnya jumlah negara yang hanya mementingkan dirinya sendiri dengan mengesampingkan bahkan cenderung mengorbankan kepentingan pihak lain, (2) munculnya rasialisme yang bersifat massal, (3) nasionalisme telah memecah belah umat manusia, bahkan menutup trend dunia global yang saling menopang dan mendukung. Data di lapangan menunjukkan; sejak PD II, 20 juta jiwa hilang karena konflik-konflik yang berdimensi nasionalistik. 29 konflik dari 30 konflik terjadi pada dimensi domestik. Di Soviet lebih dari 20 konflik terjadi dan menelan korban raturan ribu bahkan hingga mencapai jutaan.

Cost-cost ekonomi yang tidak perlu, timpangnya distribusi, dan terhambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, serta tersendatnya transfer teknologi dan sumber daya, merupakan konsekuensi logis dari paham nasionalisme. Arus barang-barang dan manusia tidak bisa masuk dengan mudah disebuah negara akibat pemberlakuan tarif cukai yang melangit.

Anda bisa membayangkan, seandainya cukai tidak ada tentu arus barang dan orang akan lebih lancar. Selain itu, dengan dicairkannya sekat-sekat nasionalistik cost-cost yang tidak perlu itu bisa dipangkas bahkan dieleminasi. Harga barang dan jasa tentu akan lebih murah.

Pada tahun 1990-an, di Asia dan Afrika, lebih dari 60% penduduknya tidak mampu memenuhi keperluaan kalori minimum yang diperlukan untuk hidup sehat. Padahal, kekurangan nutrisi ini bisa ditutup hanya dengan 2% dari total produksi padi-padian dunia.

Hal ini bertentangan dengan pendapat umum yang menyatakan bahwa kelaparan dunia disebabkan karena terbatasnya produksi pertanian. Mengapa ini terjadi, karena masing-masing negara bangsa tidak peduli dan acuh terhadap nasib bangsa lain.

Negara bangsa (nation state), meminjam istilah EF Schumacher, terbukti terlalu besar untuk masalah-masalah lokal yang lebih kecil, dan terlalu kecil untuk masalah-masalah global yang besar. (EF Schumacher, 2002)

Kita telah menyaksikan, bagaimana jatuhnya mata uang baht Thailand telah menyeret hampir seluruh negara Asia ke dalam krisis moneter yang berlarut-larut. Saat ini, munculnya wabah corona, krisis kemanusiaan di India, berlarut-larutnya masalah Palestina, Suriah, dan negara-negara muslim lain, menyadarkan kita bahwa nasionalisme beserta derivatnya telah gagal mengatasi problem-problem dunia.

Praktek negara bangsa harus segera diakhiri, dan sesegara mungkin umat Islam kembali kepada sistem kenegaraan dan hukum yang telah digariskan Dzat Maha Sempurna, yakni khilafah dan syariah. Hanya dengan kembali kepada syariah dan khilafah, problem-problem besar dunia bisa diatasi dan diselesaikan tanpa menimbulkan komplikasi. Hanya dengan penerapan syariat Islam, kesejahteraan, keadilan, dan rasa aman bisa diwujudkan di seluruh penjuru dunia. []

Sumber: Gus Syams

Categories