Para Utusan Arab Berduyun-Duyun Masuk Islam

Para Utusan Arab Berduyun-Duyun Masuk Islam

Mustanir.com – Ibnu Ishaq berkata: Setelah Rasululalh saaw menaklukkan Mekkah, memenangkan perang Tabuk dan menerima kedatangan utusan Tsaqif yang menyatakan diri masuk Islam, maka berduyun-duyunlah utusan Arab datang kepada Nabi saw dari segala penjuru. Orang-orang Arab ini tertunda masuk Islam hanyalah karena terhalangi oleh kaum quraisy. Sebab, kaum Quraisy merupakan pemimpin dan panutan manusia pada waktu itu. Disamping sebagai penjaga baitullah dan Masjidil Haram, mereka adalah anak cucku Nabi Ismail dan pemimpin bangsa Arab. Setelah Mekkah tertaklukkan dan orang-orang Quraisy pun tunduk kepada Nabi saw serta menganut ajaran Islam, maka orang-orang Arab menyadari bahwa mereka tidak memiliki kesanggupan untuk memerangi Rasulullah saw. Oleh sebab itu mereka kemudian masuk Islam secara berduyun-duyun, sebagaimana difirmankan Allah :

„Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,dan kamu lihat manusia masuk ke dalam Agama Allah dengan berbondong-bondong , maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.“ (QS An-Nashr : 1-3)
Kami menganggap tidak perlu memaparkan rincian tentang para utusan ini karena tidak banyak berkaitan dengan masalah yang kita inginkan dari buku ini.

Beberapa Ibrah.

Ingatkah anda kisah orang-orang yang menyambut Rasulullah saw, ketika berhijrah ke Thaif dengan sambutan yang buruk, penolakan, pelemparan batu dan penghinaan ? Itulah orang-orang Tsaqif yang sekarang datang kepada Nab saw menyatakan diri masuk ke dalam agama Allah dengan jujur dan taat. Ingatkah anda ketika zaid bin harisah berkata kepada Rasulullah saw dalam perjalanan pulang dari Thaif ke Mekkah :“Bagaimana engkau akan kembali ke Mekkah sedangkan penduduknya telah mengusirmu wahai Rasulullah ?“ Waktu itu beliau menjawab :“Wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan memberikan kemudahan dan jalan keluar terhadap apa yang kamu khawatirkan. Sesungguhnya Allah pasti membela agama- Nya dan memenangkan Nabi-Nya.“

Apa yang terjadi sekarang ini adalah bukti kebenaran sabda Rasulullah saw kepada Zaid bin Haritsah tersebut. Demikianlah , Thaif , mekkah dan seluruh kabilah Arab pada hari ini berbondong-bondong datang menyatakan diri masuk islam.

Kemudian cobalah anda renungkan tentang segala penyiksaan yang dilancarkan oleh Tsaqif dan kekecewaan beliau melakukan hijrah ke Thaif dengan berjalan kaki melintasi pegunungan dan sahara dengan harapan mendapatkan sambutan yang baik dari penduduknya. Perlakuan kasar yang dilancarkan oleh Tsaqif ini minimal akan mendorong rasa igin membalas dendam atau melaksanakan tindakan yang serupa pada jiwa manusia biasa.

Tetapi adakah anda temukan sikap ataupun perasaan balas dendamini di dlaam jiwa Rasululalh saw dalam menghadapi para utusan Tsaqif ? Bahkan selama beberapa hari beliau pernah mengepung Thaif kemudian memerintahkan para sahabatnya agar kembali pulang, lalu kepadanya para sahabat mendesak: berdo‘alah untuk kehancuran Tsaqif. Tetapi beliau telah mengucapkan do‘a kebaikan bagi Tsaqif : „Ya Allah tunjukilah Tsaqif dan datangkanlah mereka dalam keadaan beriman „

Ketika Allah mengabulkan do‘a Rasul-Nya kemudian utusan Tsaqif datang ke Madinah, Abu Bakar Ash Shiddiq dan Mughirah bin Syu‘bah berlomba-lomba datang menyampaikan kabar gembira itu kepada Rasulullah saw. Karena kedua sahabat ini mengetahui betapa gembiranya Nabi saw mendengar berita Islamnya Tsaqif. Dengan ceria dan penuh penghormatan, Rasulullah saw kelcuar menyambut kedatangan mereka.

Bahkan kemudian memberikan seluruh waktunya untuk mengajarkan Islam kepada mereka selama mereka berada di Madinah. Kendatipun dahulu Tsaqif pernah melampiaskan kebencian mereka terhadapnya, tetapi beliau tidak punya keinginan apa-apa terhadap mereka kecuali kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akherat. Kendatipun dahulu Tsaqif merasa puas melihat Rasulullah saw menderita dan sengsara, tetapi kini beliau justru merasa gembira melihat mereka mendapatkan karunia Islam dari Allah.

Adakah semua ini tabiat manusia biasa yang memperjuangkan suatu prinsip dan ideologi yang dianutnya ? Ia tidak lain hanylaah merupakan tabiat kenabian Ia adalah sikap yang ditempa oleh satu-satunya sasaran dakwah : Dakwah membuahkan hasilnya dan Allah pun ridha keapda dirinya. Di jalan (dakwah) ini semua penderitaand an gangguan terasa ringan.

Sungguh merupakan suatu kebahagiaan besar manakala seorang hamba berhasil melewati semua tintangan dan gangguan tersebut sedangkan ia masih tetap berada di atas sasaran yang mulia ini. Itulah Islam : tidak mengenal kebencian atau rasa dendam. Juga tidak pernah menginginkan keburukan bagi manusia. Ia memerintah jihad tetapi tanpa rasa kebencian ataupun kedengkian. Ia mengajarkan kekuatan tapi tanpa egoisme dan kesombongan. Ia mengajak kepada kasih sayang tetapi tanpa merendahkan diri atau kelemahan. Ia mengajarkan cinta tetapi di jalan Allah semata.

Demikianlah utusan Tsqif dan utusan-utusan lainnya yang berbondong-bondong datang ke Madinah menyatakan diri masuk Islam, merupakan penunaian terhadap janji kemenangan yang penuh kewibawaan yang pernah dijanjikan oleh Allah kepada Rasul- Nya.

Itulah Ibrah yang harus diambil dari kisah apra utusan ini. Berikut ini adalah beberapa pelajaran dan hukum yang dapat kita ambil darinya :

Pertama,
Boleh Menempatkan Orang Musyrik di dalam Masjid jika diharapkan Keislamannya.

Anda lihat bagaimana Nabi saw menyambut utusan Tsaqif di masjidnya. Beliau berbicara dan mengajar mereka di dalam masjid. Bila hal ini dibolehkan bagi orang-orang musyrik maka palagi bagi ahli Kitab. Nabi saw juga pernah menyambut utusan-utusan orang-orang Nasrani Najran di dalam masjid, ketika mereka datang ingin mendengarkan kebenaran dan mengetahui Islam.

As-zakarsyi berkata: ketahuilah bahwa Rafi‘I dan Nawawi membolehkan orang kafir masuk masjid selian Masjidil Haram dengan beberapa syarat :

Pertama: Tidak dilarang oleh perjanjian sebelumnya, yang tertuang di dalam perjanian Ahli Dzimmah. Jika telah dilarang di dalam perjanjian tersebut maka ia tidak dibolehkan memasukinya.

Kedua : Orang Muslim yang mengijinkannya hendaknya mukallaf dan memiliki kelayakan sepenuhnya.

Ketiga: Hendaknya tujuan masuknya untuk mendengarkan al-Quran, belajar keislaman, diharapkan keislamannya atau untuk memperbaiki bangunan dan lainnya. Tetapi al- Qadhi Abu Ali al fariqi tidka membolehkan orang kafir masuk masjid sekalipun untuk mendengarkan al-Quran atau belajar jika tidak dapat diharapkan keislamannya. Hal ini sebagaimana jika pelaksanaannya itu akan mengesankan penghinaan atau basa-basi politik demi tujuan tertentu seperti yang dilakukan oleh orang-orang asing sekarang ini.

Jika ia minta ijin masuk untuk tidur atau makan dan sejenisnya, dikatakan dalam Ar Raudah : Ia tidak boleh diijinkan memasukinya untuk tujuan tersebut. Berkata yang lainnya yakni selain Nawawi, kita tidak boleh mengijinkan untuk tujuan tersebut. Al Fariqi berkata : Mereka tidak boleh diijinkan memasukinya untuk mempelajari matematika, bahasa dan sejenisnya. Tidak diragukan lagi bahwa alasan pembolehannya ialah apabila tidak dikhawatirkan membahayakan masjid, najis atau menganggu orangorang yang shalat.

Saya berkata: bahaya fitnah yang kemungkinan akan orang-orang yang shalat karena masuknya wanita-wanita kafir ke dalam masjid dengan pakian seronok, lebih besar daripada bahaya gangguan. Sebagaimana mereka tidak dibolehkan memasuki masjid untuk tidur atau makan, mereka juga harus dilarang memasuki masjid sekadar untuk melihat-lihat seni bangunan dan lukisan di dinding-dinding masjid.

Kedua,
Perlakuan Yang baik Terhadap Para Utusan dan Orang-orang yang Meminta Keamanan.

Perbedaan antara utusan dan orang yang meminta keamanan, bahwa yang pertama datang sebagai utusan dari kaumnya yang biasanya terdiri dari beberapa orang, sedangkan yang kedua adalah orang yang datang sendiri untuk mencari keamanan di negeri kaum Muslimin, sementara itu ia mempelajari Islam dari kaum Muslimin.

Allah memerintahkan agar kita menyambut dengan baik dan melindungi orang yang meinta perlindungan kemudian mengantarkannya ke tempat yang aman bila ia menginginkannya. Firman Allah :
„Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tampat yang aman baginya …“ (QS At Taubah : 6)

Hukum ini berlaku bagi para utusan. Rasulullah saw telah memperlakukan para utusan dengan perlakuan ynag baik sebagaimana anda saksikan bagaimana beliau menghormati dan memuliakan utusan Tsaqif.

Ketiga,
Orang Yang Paling berhak Memegang Kepemimpinan adalah Orang yang Paling Mengerti Al-Quran

Oleh sebab itu, Rasulullah saw menunjuk Ustman bin Abul Ash sebagai Amir orang-orang Tsaqif. Nabi saw sangat mengagumi keseriusan untuk memahami Kitab Allah sehingga dalam waktu yang relatif sangat singkat selama keberadaannya di Madinah bersama-sama kawan-kawannya, ia menjadi orang yang paling mengerti Kitab Allah dan paling faqih tentang Islam. Imarah dan walayah (kepemimpinan) adalah merupakan tanggung jawab keagamaan (mas‘uliyah diniah) yang dimaksudkan untuk menegakkan pemerintahan dan masyarakat Islam, sehingga persyaraatan ini mutlak diperlukan.

Keempat,
Kewajiban Menghancurkan Berhala dan Patung.

Kewajiban ini berlaku secara mutlak dan dalam segala keadaan, baik patung atau berhala itu sisembah ataupun tidak, mengingat keumuman dalil yang menunjukkannya. Dalil lain yang menguatkannya ialah perintah Rasulullah saw untuk menghancurkannya patung-patung ynag telah dikeluarkan dari dalam Ka‘bah, padahal patung-patugn itu tidak disembah sebagaimana berhala-berhala yang lain. Ini juga menunjukkan haramnya membuat patung dalam berbagai bentuknya. Juga haram memilikinya dengan alasan apapun.

Di antara hal yang perlu anda ketahui bahwa utusan-utusan ini secra keseluruhan mewakili dua kelompok :

Pertama,
Kelompok Musyrikin kebanyakan mereka masuk Islam. Utusan-utuan mereka tidaklah kembali ke perkampungan mereka kecuali dengan membawa cahaya keimanan dan tauhid kepada kaumnya. Sedangkan para utusan ahli Kitab, kebanyakan mereka tetap memeluk agama mereka, Yahudi dan Nasrani. Utusan yang mewakili orang-orang Nasrani Najran terdiri dari 60 orang. Mereka berdiskusi bersama Rasulullah saw selama beberapa hari tentang Isa as dan keesaan Allah.

Sikap terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah saw kepada ahli Kitab ini ialah
membacakan ayat al-Quran di bawah ini : „Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adlaah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya :Jadilah (seorang manusia) maka jadilah ia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu) , itualah yang benar, yang datang dari Rabb-mu, karena itu janganlah kamu termasuk orang yang raguragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu) maka katakanlah (kepadanya) : „Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.“ (QS Ali Imran : 59-61)

Setelah mereka tidak mau mengakui kebenaran akhirnya Rasulullah saw mengajak mereka bermubahalah (saling bersumpah bahwa Allah akan menimpakan laknat-Nya atas pihak yang berdusta) sebagaimana yang diperintahkan Allah di dalam ayat-Nya terebut. Rasulullah saw berangkat untuk bermubahalah dengan membawa Hasan dan Husain digendongnya serta Fatimah ra di belakangnya.

Tetapi ketua rombongan itu, Syaurahbil bin Wada‘ah, menolak mubahalah dan memperingatkan teman-temannya akan akibat burujk dari tindakan ini. Akhirnya mereka datang menemui Rasulullahs aw memitna keputusan dari beliau selain dari pilihan masuk Islam dan mubahalah. Kemudian Rasulullah saw memberikan perjanjian damai dengan syarat mereka harus membayar jizsyah. Rasulullah saw memberikan jaminan keamanan kepada mereka selama mereka membayar jizyah ynag telah disepakati tidak akan membatalkan perjanjian ini, dan tidak akan mengusik kebebasan beragama mereka selama mereka tidak melakukan pengkhianatan atau memakan riba.

SUMBER

Categories