Pembangunan Bandara Majalengka dan Balada Kapitalisme

Pembangunan Bandara Majalengka dan Balada Kapitalisme

Bandara Internasional Kertajati

Bandar Udara Internasional Kertajati atau juga dikenal Bandar Udara Internasional Jawa Barat adalah bandar udara yang dibangun di daerah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Indonesia seluas keseluruhannya 5000 ha dalam tahap awal akan dipergunakan hanya 646 ha .

Bandar udara ini tidak sama dengan Bandar Udara Internasional Karawang, yang akan dibangun setelah tahun 2015 sebagai pelengkap Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Bandar udara Majalengka berlokasi di Kabupaten Majalengka, sekitar 100 kilometer di timur Bandung. Bandar udara ini dibangun untuk menggantikan Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara di Bandung, tetapi juga melayani daerah di sekitar Cirebon.

Proyek ini diperkirakan menghabiskan biaya Rp 25,4 triliun. Per Februari 2011, konstruksi belum dimulai, tetapi mereka telah membersihkan 1.800 hektare untuk membangun bandar udara, sedangkan 500 hektare sekarang siap untuk dilakukannya proses pembangunan bandara. Sementara itu, jalan tol yang akan memberikan akses ke bandar udara baru sekarang telah dimulai pengerjaaan konstruksinya pada tahun 2011 namun sayang sekali bandara kertajati katanya dibuka pada tahun 2016 tetapi mundur menjadi tahun 2017 tiba-tiba mundur lagi menjadi tahun 2018.

Ada Petani Yang Meradang di Balik Pembangunan Bandara

Tangis dan teriakan para perempuan pecah, kala dua kali gas air mata ditembakkan polisi ke udara jelang tengah hari, Kamis, (17/11/16).

“Tolong… Allahu akbar,” teriak warga sembari mundur, mengamankan diri.

Lima jam sebelumnya, ratusan petani berkumpul di depan Balai Desa Sukamulya, Kecamatan Kertajati, Majalengka, Jawa Barat. Para perempuan memakai caping dan topi. Ada yang menutup sebagian wajah pakai kain. Puluhan bendera merah putih mereka bawa, diikat pad sebilah kayu.

Mereka doa bersama, sebelum turun ke ladang. Menghadang upaya pengukuran lahan proyek Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

Pukul 8.30, mereka berjalan, membentuk barisan dan memanjang. Setiba di lahan, pukul 9.30, sekitar 2.000 personel gabungan Brimob dari kepolisian, TNI AD, dan satuan polisi Pamong Praja, tiba di lahan pertanian. Mereka saling berhadapan.

Melihat aparat gabungan datang, Bambang Nurdiansyah dari Front Perjuangan Rakyat Sukamulya (FPRS), Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) dan beberapa warga menemui Kapolres Majalengka AKBP Mada Roestanto.

Mereka minta mediasi agar tak terjadi kekerasan. Bambang coba dialog antarpihak soal persoalan lahan untuk bandara. Roestanto menolak.

“Kami hanya menjalankan tugas negara,” katanya saat itu.

Bambang menanyakan surat tugas aparat gabungan. Permintaan ditolak.  “Kami bawa 2.000 pasukan, sudah pasti ada surat tugas,” katanya kepada Bambang.

Warga minta ditemukan kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang mengukur, juga ditolak. Hingga pukul 11.30, negosiasi gagal. Kapolres dan Komandan Kodim, mulai memerintahkan pasukan bersiap-siap.

Duarr, duarr!” Senapan gas air mata menggema.

Seketika itu, warga coba menghadang aparat. Upaya warga direspon tembakan gas air mata, tak lagi ke udara, langsung ke warga.

Bambang melihat Sahir,  warga desa Sukamulya, terkena gas air mata di bahu. Ada Ibu-ibu terkepung aparat, masih ditembaki gas air mata. Seorang warga pingsan. Ada pula berjalan tergopong-gopoh, menjauh dari aparat sambil menangis.

Sejak pukul 12.00, tembakan gas air mata tak berhenti. Warga dievakuasi ke Balai Desa, kaum perempuan ke desa sebelah. Tembakan mulai berhenti sekitar pukul 16.00. Polisi merangsek masuk kampung. Menyisir warga yang aksi penolakan. Sambil evakuasi, suara tembakan tak kunjung henti. Warga ketakutan. Mereka menangis.

Cuitan #BaladaEraKapitalisme oleh Putra Majalengka yang juga aktivis 98

@MasAgungWisnu atau Agung Wisnu Wardhana adalah salah seorang aktivis 98 yang juga putra Majalengka memberikan respon atas pembangunan Bandara tersebut dan juga mengingatkan bahwa ada permainan Kapitalis dibalik proyek Bandara tersebut.

Beginilah cuitan Mas Agung yang berhasil Mustanir copas kan ke sini.

Saat hidup tak sekedar “positif” dan bertahan.. Saat hidup harus bangkit, berubah dan melawan dlm meniti ridho Nya… #BaladaEraKapitalisme

Saat kemiskinan bukan sekedar motivasi. Saat kemiskinan jd soal struktural, memutar bagai lingkaran setan tak terhenti. #BaladaEraKapitalisme

Saat kesenjangan menganga bak puncak – lembah. Saat petani merintihi harga pasar, dan segelintir orang berharta besar. #BaladaEraKapitalisme

Saat peduli lingkungan jd retorika tak imbang. Saat berbagi jd bumbu keserakahan. Saat pembangunan jadi jembatan kehancuran. #BaladaEraKapitalisme

Saat si lemah dalam nestapa, ada yg bilang, “mengadulah pd negara!” | Mereka bingung, “emang ada negara??” #BaladaEraKapitalisme

Negara bilang pd si lemah, “mandirilah, bertarunglah!” | Si lemah bingung, krn tangan kaki nya diikat tak bergerak. #BaladaEraKapitalisme

Anak pemulung teriak “Kami manusia!” Banjir merenggutnya. Politisi pun sibuk beretorika & berucap “itu sudah biasa!” #BaladaEraKapitalisme

Wagiman tua mnangis dipaksa tanahnya dibeli & mati. Penguasa teriak “Hei.. waduk, bandara ini utk negeri..mengerti!” #BaladaEraKapitalisme

Categories