Sihir Piala Dunia Menipu Banyak Orang

MUSTANIR.net – Mungkin tidak ada pertandingan olah raga yang lebih menyedot perhatian warga dunia selain Piala Dunia sepak bola. Sepak bola menjadi olah raga yang paling diminati manusia di seluruh dunia.

Kesan murah dan mudah membuat semua orang lihai memainkannya. Lihatlah setiap sore di lapangan, tidak di kota, tidak pula di desa, semua anak keluar untuk main bola. Bahkan tidak jarang muncul bakat alami dari pelosok pedesaan.

Peluang inilah yang ditangkap oleh para kapitalis olah raga. Maka sejak tahun 1930 diadakan Piala Dunia pertama di Urugay. Dan sejak itulah ribuan brand-brand dunia menjajakan dagangannya. Mulai dari apparel olah raga, suplemen kesehatan, maskapai penerbangan, hotel, minuman kesehatan, hingga perusahaan televisi.

Tidak hanya itu, penjualan merchandise peserta Piala Dunia pun ludes terjual di mana-mana. Keuntungan berlipat didapatkan para pengusaha konveksi

Piala Dunia bukan lagi sekadar olah raga, pelepas hobi, atau menyalurkan kalori sehabis makan. Tetapi Piala Dunia adalah industri kapitalis dunia yang berusaha meraup untung di atas kemiskinan dunia, penderitaan bangsa bangsa terjajah, dan mayat-mayat yang terbunuh akibat genosida Israel.

Semua mata manusia tersihir oleh jargon-jargon media yang memoles kisah hebat Erling Haaland, kisah tragis Cristiano Ronaldo, kisah inspirasi Lamine Yamal, Hakimi, atau Mohamed Salah.

Tidak sedikit dibumbui aroma religi untuk menarik emosi umat Islam yang saat ini terhegemoni oleh kekuatan adidaya Amerika. Euphoria negeri-negeri Islam atau pemain Muslim yang berlaga di Piala Dunia, seolah-olah jika mereka menjadi juaranya dunia Islam akan bangkit menguasai dunia.

Bagi miliaran umat Islam, seolah mereka lupa bahwa ada kewajiban lebih utama untuk ditunaikan daripada sekadar begadang hingga subuh tiba. Yakni kewajiban untuk mengembalikan kehidupan Islam yang mulia dengan khilafah.

Agenda besar di balik Piala Dunia adalah permainan terorganisir (lahwun munadzamun) yang bertujuan melalaikan umat Islam khususnya dari agenda utama mereka. Selain itu, rasa nasionalisme masing-masing negara akan bangkit melebihi keinginan mereka untuk berubah.

Lahwun munadzamun menjadi sihir yang membuat umat ini semakin terpuruk dalam hegemoni negara-negara kapitalisme. Saatnya umat ini menyadari dan tidak lagi FOMO yang kemudian terjebak dalam permainan-permainan yang tidak bermanfaat sedikit pun.

Umat ini bagaikan keledai yang diikat pada penggilingan tepung di mana dia berputar-putar tanpa arah hingga kematian mendatanginya. Saatnya umat bangkit, bersatu, dan berjuang menegakkan khilafah ala minhajin nubuwwah. []

Sumber: Muhammad Ayyubi (Direktur Mufakkirun Siyasiyyun Community)

About Author

Categories