Remaja Aktivis Palestina Ditangkap Paksa Pasukan Israel

Tangkapan layar saat aktivis remaja Palestina Ahed Tamimi ditangkap paksa pasukan Israel dari rumahnya, Senin (19/12). foto: rep


MUSTANIR.COM, BETLEHEM — Ahed Tamimi, seorang aktivis wanita terkemuka Palestina yang masih berusia 16 tahun, ditangkap secara paksa oleh polisi Israel. Penangkapan itu dilakukan saat fajar, pada Selasa (19/12) di rumahnya di perbatasan Tepi Barat yang diduduki.

Ibu Ahed, Nariman, juga ditangkap pada siang harinya saat ia mengunjungi Ahed di sebuah kantor polisi Israel. Menurut ayah Ahed, Bassem, keluarga Tamimi yang merupakan aktivis terkenal di Desa Nabi Saleh, terbangun dengan kaget sekitar pukul 03.00 waktu setempat setelah mendengar suara pasukan Israel mengetuk pintu depan rumah mereka.

Bassem mengatakan kepada Aljazirah, dia yang membukakan pintu bagi para polisi itu. Namun mereka kemudian mendorongnya ke samping dan langsung masuk ke dalam rumah.

Mereka memaksa seluruh keluarga masuk ke salah satu ruangan, sementara mereka mencari-cari ke seisi rumah. Mereka melemparkan pakaian dan barang-barang ke lantai, serta meninggalkan kekacauan.

Para polisi itu kemudian memberi tahu keluarga Ahed ditangkap, tanpa alasan apa pun. “Nariman menangis histeris dan berusaha memeluk Ahed, tapi dia dilempar ke tanah oleh polisi,” kata Bassem.

Meskipun Ahed telah beberapa kali melakukan demonstrasi di Nabi Saleh, tapi ini adalah pertama kalinya dia ditahan pasukan Israel. Ahed diborgol dan dipaksa masuk ke dalam jip Israel. Keluarganya dicegah mengikutinya keluar.

Menurut Bassem, setidaknya 30 polisi terlibat dalam penangkapan Ahed. Para prajurit itu juga menyita telepon keluarga, komputer, dan laptop mereka. Ketika anak laki-lakinya menolak memberikan telepon, pasukan Israel memberikan perlakuan kasar.

“Enam tentara mendorongnya ke bawah dan dengan kasar mengambilnya dari dia,” kata Bassem.

Pada siang harinya, Nariman pergi mengunjungi Ahed, yang ditahan di sebuah kantor polisi Israel di dekat Desa Jabaa di Tepi Barat. Ia bermaksud untuk hadir saat anaknya diinterogasi oleh polisi.

Ahed Tamimi mencoba memukul tentara Israel di dekat Ramallah pada 2 November 2012. (AP)

Menurut Asosiasi Hak Sipil di Israel, sebuah organisasi non-pemerintah, orang tua memiliki hak menemani anak mereka selama interogasi di wilayah pendudukan Palestina. Tidak lama kemudian, Bassem menerima telepon dari pengacaranya yang mengatakan Nariman juga telah ditangkap saat tiba di kantor polisi.

“Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka melakukan ini. Saya adalah seorang ayah, tidak mudah melihat polisi merampok rumah Anda di tengah malam untuk mengambil anak perempuan Anda,” ungkap Bassem.

Keluarga Tamimi sebenarnya tidak asing lagi dengan militer Israel. Bassem telah beberapa kali ditangkap oleh pasukan Israel, dan disebut sebagai ‘tahanan hati nurani’ oleh Amnesty International, kelompok advokasi HAM pada 2012.

“Saya sangat marah, tapi saya tidak berdaya melakukan apa pun. Mereka ingin orang Palestina menderita,” kata dia.

Ahed ditangkap sehari setelah sebuah rekaman video yang menunjukkan ia tengah menghadapi tentara Israel dalam demonstrasi, menjadi viral. Ia melakukan protes setelah Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Seorang juru bicara militer Israel mengatakan Ahed dicurigai telah menyerang seorang tentara dan petugas Israel Defense Force (IDF). Juru bicara tersebut menuduh Ahed berpartisipasi dalam kerusuhan, yang membuat ratusan orang Palestina melemparkan batu ke pasukan Israel selama demonstrasi pada Jumat (16/12).

Namun, Bassem mengatakan narasi Israel tidak menceritakan keseluruhan cerita. Dia mengatakan video itu menunjukkan Ahed ditembak setelah pasukan Israel melepaskan tembakan gas air mata langsung ke rumah mereka dan memecahkan beberapa jendela.

“Ahed menyuruh tentara menjauh dari rumah kami. Dia berusaha memaksa mereka pergi mencegah mereka menyakiti orang lain,” ujar Baseem.

Beberapa saat sebelumnya, sepupu Ahed yang masih berusia 14 tahun, Mohammad, juga tertembak di wajahnya oleh peluru karet tentara Israel. Mohammad harus mengalami koma dan baru terbangun pada Selasa (19/12), 72 jam kemudian.

Juru bicara militer Israel mengatakan tentara telah bertindak dengan cara profesional dan terkendali. Namun, Bassem mengatakan desa tersebut memiliki hak untuk menolak tentara Israel di tanah mereka.

“Kami tidak bisa hidup normal di bawah pendudukan. Kami tidak punya pilihan kecuali menolak. Tapi karena kami menolak, kami menanggung akibatnya,” ujar Baseem.

Naftali Bennet, Menteri Pendidikan Israel yang dikenal dengan pandangan hawkish-nya, mengatakan kepada Radio Angkatan Darat pada Selasa (19/12), Ahed dan wanita lain dalam video tersebut harus menyelesaikan hidup mereka di penjara. Tentara Israel mengunggah sebuah video di akun Twitter resminya, yang menunjukkan Ahed telah ditangkap.

Ahed dipuji oleh aktivis dan masyarakat internasional atas keberaniannya saat melakukan demonstrasi di Nabi Saleh, yang telah menjadi demonstrasi rutin selama bertahun-tahun setiap Jumat. Dia mulai menghadiri demonstrasi di sana saat dia baru berusia sembilan tahun. (republika.co.id/20/12/17)

Categories