Ridho Terhadap Pemimpin Kafir Adalah Ciri Kemunafikan

Ridho Terhadap Pemimpin Kafir Adalah Ciri Kemunafikan

Penulis: Fakhruddin

Mustanir.com – Salah satu hal yang paling dibenci oleh Allah ta’ala setelah kekufuran adalah sifat nifak. Nifak adalah menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang terkandung dalam hati. Dan dalam istilah syar’i, disebut munafik adalah orang yang menampakkan keislaman serta menyembunyikan kekufuran.

Nifak dan kufur sejatinya dua sifat yang memiliki karakter yang sama, yaitu sama-sama tidak beriman dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam Islam. Hanya saja, orang-orang munafik tidak terus terang. Secara lahiriyah, ia selalu menampakkan dirinya seperti orang beriman, namun batinnya mengingkari hal itu.

Sifat munafik merupakan penyakit akut yang selalu menjadi penghalang dalam sejarah perjuangan umat Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah ta’ala berulang kali mengingatkan hamba-Nya untuk menjauhi penyakit yang satu ini. Setidaknya, ada sejumlah 340 ayat dalam Al-Qur’an, Allah sebutkan tentang bahaya perilaku orang-orang munafik. Sehingga dalam kitab Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkomentar, “Hampir saja Al-Qur’an seluruhnya berbicara tentang mereka (kaum munafik itu).” (Madarijus Salikin I/347)

Bahkan karena begitu jeleknya perilaku munafik ini, Allah ta’ala timpakan siksaan kepada mereka dengan siksaan yang lebih berat daripada orang-orang kafir itu sendiri. Allah berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (An-Nisaa’: 145)

Orang Munafik Hanya akan Memilih Pemimpin Kafir

Salah satu ciri orang-orang munafik adalah loyal terhadap orang kafir. Saling mencintai di antara mereka dan menjadikannya sebagai teman setia. Bahkan para taraf tertentu, mereka akan mengangkat orang kafir itu sebagai pemimpinnya. Sehingga  Ketika berbicara perilaku munafik ini, Allah ta’ala berfirman:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا ﴿﴾ الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّـهِ جَمِيعًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (Qs. An-Nisa’: 138-139)

Ketika membaca ayat di atas, setidaknya kita bisa memetik satu makna yang cukup jelas, yaitu:

Pertama: orang-orang munafik selalu memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir. Saling mencintai dan menolong sesama mereka. Bahkan dalam beberapa kondisi, mereka akan mengangkat orang-orang kafir itu sebagai pemimpinnya.

Kedua: orang munafik mengharap kemulian dari orang-orang kafir. Menurutnya, kemuliaan serta kemenangan itu lebih nyata jika bersikap loyal dengan orang-orang kafir.

Perilaku munafik semacam ini telah ada pada masa Rasulullah dan masih eksis hingga hari ini. Di tengah-tengah viralnya kasus Ahok yang menistakan ayat al-Maidah 51, kita bisa menyaksikan barisan orang-orang munafik yang begitu giat membela penistaan tersebut. mereka lebih suka menjadi teman orang-orang kafir meskipun harus melawan kemarahan umat Islam yang ramai-ramai menuntuk penistaan tersebut.

Ketika menafsirkan Surat An-Nisa ayat 138 di atas, Ibnu Katsir menjelaskan, Maksud ayat,‘Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih’ yaitu orang-orang munafik yang menampakkan keimanannya kemudian kafir lalu hati mereka tertutup.”

Lalu Ibnu Katsir melanjutkan, “Kemudian Allah mensifati bahwa mereka adalah orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung/pemimpin dengan meninggalkan orang-orang beriman. Artinya, mereka (orang-orang munafik) sejatinya satu barisan dengan orang-orang kafir. mereka memberikan loyalitas dan kasih sayangnya kepada orang-orang kafir. Lalu jika bertemu dengan mereka, maka orang-orang munafik itu berkata, ‘Sesungguhnya kami bersama kalian, sesungguhnya kami hanya mengolok-olok orang-orang beriman dengan penampilan kami yang seolah-olah sejalan dengan mereka.’

Berikutnya Allah Ta’ala mengingkari bentuk loyalitas mereka (orang-orang munafik) kepada orang-orang kafir dengan firmannya, “Apakah mereka (orang-orang munafik) mencari kekuatan di sisi orang-orang kafir?” (Lihat; Tafsir al-Qur’an al-Azhim, II/436)

Senada dengan penjelasan di atas, Imam As-Sa’di menegaskan, “Ayat ini dengan tegas mengingatkan tentang larangan berwala’ (menjadikan teman setia, pelindung, atau pemimpin) kepada orang-orang kafir dan mengabaikan orang-orang mukmin. Sebab, sikap yang demikian itu adalah bagian dari sifat orang-orang munafik. Padahal bagian dari konsekuensi keimanan itu adalah harus menjadikan orang mukmin sebagai teman pelindung atau pemimpin serta membenci dan memusuhi orang-orang kafir.” (Taisir Al-Karimu- Ar-Rahman , 2/372)

Sangat berbeda dengan para sahabat yang menampakkan bara’ dan permusuhannya terhadap kekufuran dan pemeluknya, karena memang mereka adalah kaum yang telah dihinakan oleh Allah swt.

Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Musa al-Asy’ari ra berkata kepada Umar bin Khattab yang saat itu menjabat sebagai khalifah, “Wahai Amirul Mukminin, saya memiliki sekretaris yang nasrani.”

Umar bertanya, “Kenapa kau lakukan itu, engkau akan dilaknat oleh Allah. Tidakkah kau dengar firman Allah Ta’ala, ‘Hai orang-orang yang beriman janganlah menjadikan Yahudi dan Nashrani sebagai wali, sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain (Al-Maidah: 51),’ Kenapa tidak kau angkat orang Islam?”

Abu Musa menjawab, “Wahai Amirul mukminin, aku memanfaatkan kemampuannya, sedang agamanya dia sendiri yang bertanggung jawab.”

Dengan tegas Umar menjawab, “Aku tidak akan memuliakan mereka, karena Allah telah menghinakannya. Aku tidak akan berdekatan dengan mereka, karena Allah telah menjauhkan mereka (dari rahmat).” (Al-Khallal, Ahkam Al-Milal, hal. 117)

Demikianlah sikap yang muncul dari orang-orang yang jujur dengan keimanannya. Selalu menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Orang kafir yang telah dihinakan oleh Allah Ta’ala, tidak mungkin ia jadikan sebagai teman setia. Apalagi diangkat menjadi pemimpin, maka jelas itu bertentangan dengan prinsip keimanan yang ada dalam dirinya. Wallahu A’alam Bish Shawab! Semoga kita dihindari dari sifat-sifat munafik tersebut.

SUMBER

Categories