Rusia Akan Lepas Suriah Dengan Dua Syarat Ini

Rusia Akan Lepas Suriah Dengan Dua Syarat Ini

Rusia Akan Lepas Suriah Dengan Dua Syarat Ini

Mustanir.com – Rusia akan menyetujui Presiden Suriah Bashar Assad meninggalkan kursinya, tetapi hanya jika yakin perubahan pemimpin tidak akan memicu runtuhnya pemerintah Suriah, menurut sumber-sumber yang akrab dengan pemikiran Kremlin.

Itu memerlukan bertahun-tahun untuk sampai ke titik tersebut dan Rusia siap untuk terus memback-up Assad, agar terlepas dari tekanan internasional untuk menyingkirkannya, kata sumber-sumber itu menambahkan.

Dukungan Rusia itu sepertinya akan lebih mempersulit pembicaraan damai yang sudah terhenti dengan lawan Assad dan hubungan asam dengan Washington yang ingin pemimpin arah Suriah.

“Rusia tidak akan berpisah dengan Assad sampai dua hal terjadi,” kata Sir Tony Brenton, mantan duta besar Inggris untuk Rusia, seperti dikutip dari Reuters (30/6).

“Pertama, sampai mereka yakin ia tidak akan diganti dengan semacam pengambilalihan oleh Islamis, dan kedua sampai dapat dijamin bahwa posisi, aliansi dan pangkalan militer mereka (Rusia) di Suriah, berkelanjutan ke depan,” jelasnya.

Rusia telah masuk ke Suriah September 2015 untuk menopang Assad. Rusia takut akan terjadi gejolak bila meninggalkan Suriah; berpikir rezim Assad terlalu rapuh untuk perubahan besar. Rusia percaya ada banyak pertempuran yang harus dilakukan sebelum transisi, menurut beberapa sumber kebijakan luar negeri Rusia.

Rusia dan Amerika Serikat adalah co-sponsor dari pembicaraan damai antara pihak yang bertikai dalam konflik Suriah. Pembicaraan itu saat ini ditahan karena perdebatan apakah kesepakatan damai akan membutuhkan pelengseran Assad.

Moskow telah mengisyaratkan dukungan untuk Assad memiliki batas. Diplomat Rusia mengatakan dukungan Kremlin adalah dukungan untuk negara Suriah, bukan untuk Assad secara pribadi. Berdasarkan ini, Presiden Vladimir Putin mengatakan perlu mempertimbangkan anggota oposisi untuk dapat dimasukkan ke dalam struktur pemerintah Suriah.

Barat berharap Rusia membantu untuk Assad turun dari kursinya lebih awal. Tetapi sumber yang dekat dengan Kremlin mengatakan tidak ada tanda-tanda yang bermakna Rusia siap untuk melakukannya dalam waktu dekat.

“Saya tidak melihat perubahan apa pun sekarang (posisi Rusia di Assad),” kata Elena Suponina, analis senior Timur Tengah di Institut Rusia yang berbasis di Moskow untuk studi strategis, yang menyarankan Kremlin.

Di sisi lain, ketakutan akan kebangkitan Islamis menjadi momok besar bagi Rusia. Kremlin mengatakan ribuan mantan pejuang melawan Uni Soviet dulu telah masuk ke Suriah dalam barisan ISIS. Mereka harus dikalahkan di Suriah dan Irak untuk mencegah mereka kembali ke negaranya dan membuat serangan.

Baca juga: Rusia, Iran, Suriah Bahas Kerjasama Militer Untuk Lawan ISIS dan Al-Qaidah

Untuk saat ini, Brenton, mantan duta besar Inggris, mengatakan bahwa di mata Putin dan para penasihatnya, peran Assad sebagai benteng melawan Islam radikal adalah prioritas.

“Bagi mereka, Assad, untuk semua kerugian, darah dan ketidaknyamanannya, adalah lebih baik sebelum negara lain jatuh ke tangan Islamis,” katanya. (kiblat/adj)

Komentar Mustanir.com

Rusia pastinya tidak akan meninggalkan Suriah, sebelum benar-benar kepemimpinan Bashar Laknatullah kokoh lagi. Mereka yang merongrong kekuasaan dan mengancam pemerintahan Bashar laknatullah pastinya akan dilenyanpkan terlebih dahulu, kurang lebih seperti itu keinginan Rusia, jika harus meninggalkan Suriah.

Wahai kaum muslimin, Suriah adalah bagian dari negeri Syam yang di janjikan keberkahannya oleh Rasulullah. Suriah adalah negeri kaum muslimin. Dahulu ditaklukkan oleh para Sahabat dengan semangat jihad dan dakwah. Untuk membebaskan Suriah kembali, adalah dengan menjadikan Islam sebagai motivasi pembebasan, sebagaimana dahulu dicontohkan oleh para Shahabat.

Categories