Sabar, Ketika Manusia Tak Pandai Menghitung Nikmat

unta

Sabar, Ketika Manusia Tak Pandai Menghitung Nikmat

Di sebuah rumah sakit, di sebuah ruang perawatan, sesosok tubuh terbaring lemah di atas ranjang. Sebuah jarum infus tertanam di salah satu pergelangan tangannya. Tubuhnya tampak lemas. Wajahnya pucat pasi. Tak tampak senyum di bibirnya. Yang ada hanyalah suara keluh-kesah karena menahan rasa sakit yang diderita.

*****

Pembaca yang budiman, saat ini ada puluhan ribu, ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang yang terbaring lemah di rumah sakit dengan aneka penyakit yang mereka derita. Karena itu tentu pemandangan seperti di atas adalah pemandangan yang terlalu biasa bagi kita.

Namun, ada hal menarik yang sebetulnya patut jadi bahan renungan kita. Saat seseorang sakit, apalagi sampai dirawat di rumah sakit, para penjenguknya biasanya akan berbasa-basi bertanya, “Sudah berapa lama sakit, Pak?” Atau, “Sejak kapan sakit dan dirawat di sini, Bu? Kontan, orang sakit biasanya akan menjawab: tiga hari, lima hari, seminggu, dua minggu, sebulan, dst. Ia akan begitu hapal masa-masa sakitnya. Ia akan berusaha menghitung hari-hari sakitnya. Bukan apa-apa. Masa-masa sakit adalah masa-masa penderitaan yang seolah dianggap ‘penting’ untuk dihitung dan diingat-ingat.

Namun, cobalah sesekali kita bertanya kepada orang sakit tersebut, termasuk bertanya kepada diri sendiri yang sekian lama hidup sehat, “Sudah berapa lama merasakan sehat?” Pasti, kebanyakan dari kita tak akan mampu menjawab secara pasti. Mengapa? Karena bagi kebanyakan kita, sehat adalah perkara biasa. Sehat adalah perkara yang tidak penting apalagi istimewa. Sehat baru dianggap penting dan istimewa justru saat kita sakit.

Begitulah manusia. Tak pandai menghitung nikmat. Hanya pandai menghitung musibah dan bencana yang menimpa dirinya. Karena itu saat dikarunia banyak nikmat—di antaranya nikmat sehat—kebanyakan manusia tak bersyukur. Sebaliknya, ia akan mudah berkeluh-kesah saat ditimpa musibah, seperti sakit. Padahal, jika ditafakuri, kebanyakan manusia jauh lebih sering sehatnya daripada sakitnya. Sakitnya hanya sesekali, kadang-kadang tak terlalu lama, tentu jika dibandingkan dengan masa-masa sehatnya yang amat panjang, sepanjang usia kehidupannya di dunia. Coba saja renungkan, selama sekian puluh tahun kita hidup di dunia, berapa kali kita sakit dan dirawat di rumah sakit? Pasti dengan mudah bisa kita hitung. Tentu, karena kebanyakan orang jarang sekali yang keluar-masuk rumah sakit selama hidupnya.

Karena itu sepantasnya kita belajar kepada NabiyulLah Ayyub as. Meski menderita sakit selama belasan tahun, ia tetap bersabar bahkan bersyukur kepada Allah SWT. Alasannya amat sederhana: karena masa-masa sehatnya selama hidupnya tetaplah lebih lama dari masa-masa sakitnya; karunia Allah SWT kepada dia masih lebih besar daripada musibah dan ujian yang Allah timpakan kepada dirinya; nikmat yang ia rasakan masih jauh lebih banyak daripada kesulitan dan kepedihan yang ia alami.

Sebagai manusia Nabi Ayub as. sering mendapatkan berbagai cobaan yang berat dan sangat sulit. Betapa tidak. Cobaan yang beliau alami bertubi-tubi. Padahal sebelumnya Nabi Ayyub as. memiliki harta yang banyak dengan bermacam jenisnya seperti hewan ternak, budak dan tanah. Ia juga memiliki istri yang salih dan keturunan yang baik. Namun kemudian, Allah SWT menguji dia dengan aneka ragam ujian yang sangat berat. Demikianlah, jika Allah SWT mencintai seseorang, orang itu akan Dia uji. Siapa yang ridha dengan ujian tersebut, dia mendapatkan keridhaan-Nya. Siapa yang berkeluh-kesah apalagi marah karena ujian tersebut, dia mendapatkan kemurkaan-Nya (Lihat: HR Tirmidzi dan Ibnu Majah, di-hasan-kan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2110).

Nabi Ayyub as. adalah orang yang sabar dalam menghadapi ujian tersebut. Hartanya yang banyak habis. Anak-anaknya meninggal dunia. Semua ternaknya binasa. Beliau sendiri menderita penyakit kulit yang sangat berat hingga sekujur tubuhnya dipenuhi belatung. Dalam menjalani musibah itu, ia tetap bersabar dan mengharap pahala; tetap berzikir pada malam dan siang, pagi dan petang.

Hari-hari berlalu, penderitaan Nabi Ayyub as. makin berat. Saat penderitaannya makin berat, keluarga dan kerabatnya malah menjauhi dia. Demikian pula kawan-kawannya. Hanya istrinya yang sabar mengurus beliau dan memenuhi haknya.

Tentang Nabi Ayyub as. ini, Anas bin Malik menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda,“Sesungguhnya Nabi Allah Ayyub mendapat cobaan selama delapan belas tahun hingga orang dekat dan jauhnya menjauhi dia, kecuali dua orang saudara akrabnya yang sering menjenguk dia pada pagi dan sore…”(HR Abu Ya’la dan al-Bazzar).

Karena begitu lamanya Nabi Ayyub as. menderita sakit parah, suatu saat istrinya berkata kepada dia, “Ayyub, tidakkah engkau berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkan kamu?”

Nabi Ayyub as. malah berkata, “Celakalah kamu! Aku telah diberi kesehatan dan kenikmatan selama 70, sementara aku ditimpa penyakit ini baru 7 tahun.” (Jalaluddin as-Suyuthi, Durr al-Mantsur fi at-Ta’wil bi al-Ma’tsur, VIII/414).

Tujuh tahun (atau 18 tahun menurut hadis riwayat Abu Ya’la dan al-Bazzar di atas) tentu bukan waktu yang sebentar, apalagi jika dijalani dalam keadaan sakit parah. Namun, tetaplah waktu tersebut jauh lebih singkat dibandingkan dengan masa 70 yang diselimuti kesehatan dan kenikmatan. Karena itulah, meski ditimpa sakit parah 7 atau 18 tahun, Nabi Ayyub as. tetap bersabar dan bahkan selalu bersyukur.

Kesabaran Nabi Ayyub as. dalam menanggung berbagai derita tentu amat penting kita teladani. Apalagi, bagi seorang Muslim, memiliki sifat sabar adalah kewajiban, sebagaimana firman Allah SWT (yang artinya): Bersabarlah atas apa saja yang menimpa kamu. Sesungguhnya   itu termasuk  hal-hal   yang Allah wajibkan (atas kamu) (TQS Luqman [31]: 17).

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita bersabar saat menghadapi musibah? Sudahkah kita bersabar saat menghadapi masalah? Jika belum, mari kita mengingat-ingat kembali masa-masa yang demikian lama saat kita berada dalam ragam kenikmatan yang telah Allah berikan: nikmat sehat; nikmat panjang umur, nikmat punya orangtua, harta, istri/suami; anak-anak, dll. Ingat pula masa-masa yang demikian panjang saat kita banyak diberi oleh Allah SWT berbagai kemudahan.

Hanya dengan cara seperti itulah kita bisa senantiasa memiliki kesabaran, bahkan tetap bisa bersyukur meski kita sedang dirundung musibah dan banyak masalah.

Wa ma tawfiqi illa bilLah.

[Arief B. Iskandar]

Categories