Tetap Bela Palestina Tapi Jangan Latah Gunakan Gambar Sepotong Semangka!

MUSTANIR.net – Seluruh kaum Muslim di mana pun berada memang sudah seharusnya membela Palestina. Sama halnya kaum Muslim di mana pun boleh-boleh saja mempromosikan semangka sebagai buah semangka yang layak dikonsumsi.

Namun, dengan menggunakan simbol gambar sepotong semangka dalam rangka membela Palestina, tunggu dulu! Jangan langsung ikut-ikutan mengunggah dan membagikan gambar tersebut. Pastikan terlebih dahulu jawaban yang benar dari pertanyaan, “Mengapa harus disimbolkan dengan gambar sepotong semangka?”

Palestina disimbolkan dengan gambar potongan buah semangka karena potongan buah semangka itu merupakan bahasa simbolis untuk menunjukkan bendera Palestina.

Saat itu, tepatnya 1967, bendera Palestina sempat dilarang dikibarkan oleh entitas penjajah Yahudi, maka dijadikanlah potongan buah semangka sebagai kamuflase dari bendera tersebut karena sama-sama mengandung warna yang sama yakni: hijau, putih, merah, dan hitam.

Saat ini, simbol potongan semangka itu digunakan sebagian warganet yang mendukung perjuangan Palestina di media sosial agar tidak kena blokir.

Bendera Palestina

Bendera Palestina sendiri bukanlah bendera kaum Muslim sedunia, melainkan bendera nasionalisme bangsa Palestina. Bendera tersebut dibuat terinspirasi atau merupakan variasi dari bendera Revolusi Arab.

Bendera Revolusi Arab dibuat oleh diplomat Inggris Mark Sykes untuk menumbuhkan rasa persatuan Arab dalam rangka melawan Khilafah Utsmani.

Maka tidak aneh, setelah Arab berhasil berontak kepada Khilafah Ustmani, bermunculanlah negara bangsa-negara bangsa yang benderanya mirip semua dengan bendera Revolusi Arab tersebut sebagaimana terlihat dalam gambar di atas.

Walhasil, dilihat dari sejarah benderanya, bendera Palestina jelas tidak lepas dari akar sejarah berdirinya berbagai negera bangsa di Arab sebagai keberhasilan berontak kepada Khilafah Ustmani. Dilihat dari sisi ideologi, jelas ini melambangkan nasionalisme.

Dilihat dari sisi hukum benda, mensyiarkan benda (bendera) tersebut jelas haram karena itu bendera bukan sembarang bendera tetapi madaniah (benda/bendera) yang terpangaruh hadharah (konsepsi tentang kehidupan) kufur (nasionalisme). Begitu juga mensyiarkan gambar sepotong semangka yang merupakan kamuflase dari bendera Palestina sebagai upaya tidak diblokir di medsos.

Kalau kita tidak memungkinkan menjelaskan masalah ini, jangan pula kita ikut latah mensyiarkan bendera Palestina ataupun semangka yang melambangkan Palestina.

Janganlah karena kita merasa peduli dengan Palestina lalu kita latah mensyiarkan (mengunggah, membagikan) segala sesuatu yang diidentikan dengan bendera Palestina maupun semangkanya itu. Karena kepedulian juga harus diwujudkan sesuai dengan syariat Islam, tidak boleh menyelisihinya.

Melambangkan Persatuan

Palestina adalah tanah kharajiah (tanah kaum Muslim sedunia), bukan tanah bangsa Palestina saja sejak Khalifah Umar bin Khaththab menggabungannya ke Khilafah Rasyidah setelah Khilafah Rasyidah memenangkan jihad di Syam (yang di dalamnya termasuk Palestina).

Maka bendera yang tepat untuk Palestina adalah bendera yang melambangkan persatuan kaum Muslim sedunia yakni benderanya Rasulullah ﷺ  (liwā) dan panjinya Rasulullah ﷺ (rāyah) saja, tidak perlulah kita sertakan simbol-simbol nasionalisme Palestina termasuk gambar buah semangka yang merupakan kamuflase dari bendera Palestina agar tidak diblokir di medsos.

Andai saja bukan tanah kharajiah, tanah usriah misalnya, sehingga tanah tersebut bisa dimiliki pribadi-pribadi orang Palestina, tetap saja tidak boleh membentuk negara bangsa maupun mengibarkan bendera simbol negara bangsa, karena negara kaum Muslim sedunia termasuk Palestina adalah khilafah Islam.

Khilafah Islam adalah negara yang menjadikan akidah Islam sebagai ikatannya, mengikat Muslim sedunia, bukan hanya mengikat bangsa Palestina. Negara yang berkewajiban menjaga seluruh negeri Muslim, bukan hanya Palestina. Menerapkan seluruh syariat Islam di dalam negerinya, serta menjadikan dakwah dan jihad sebagai poros politik luar negerinya.

Dalam kasus apa pun yang terjadi di dunia, termasuk dalam masalah Palestina, selalulah terjadi perang pemikiran antara sudut pandang Islam dengan sudut pandang selain Islam.

Kita yang berjuang menegakkan syariat Islam secara kaffah dalam naungan khilafah tidaklah boleh walau sekali saja berpandangan di luar sudut pandang Islam sehingga menganggap positif bendera nasionalisme (yang lahir dari sudut pandang bukan Islam itu) maupun simbol semangka (yang kamuflase dari bendera nasionalisme Palestina karena khawatir dibredel di medsos).

Jadi, kalau tidak dapat menjelaskan dari sudut pandang Islam betapa kufurnya bendera nasionalisme itu (termasuk bendera Palestina), janganlah turut mensyiarkannya (dengan mengunggah bendera tersebut atau semangkanya, atau memuji-muji bendera tersebut maupun semangkanya). Jangan latah! Jangan latah! Jangan latah!

Simbol yang Benar

Kalau mau memuji perjuangan Palestina, kalau mau menyampaikan simbol persatuan perjuangan untuk Palestina, kita bisa gunakan liwā rāyah ataupun Masjidil Aqṣā, jangan latah pakai bendera nasionalisme Palestina, jangan latah pakai semangka.

Tugas kita itu mengajak mereka semua agar mengikuti solusi yang kita bawa, lha kok kita malah jadi latah memuji-muji, latah menggunakan simbol yang tidak ada dasarnya dalam ajaran Islam?

Yuk teruskan dakwahkan solusi yang syar’i untuk Palestina yakni dengan jihad dan khilafah, tanpa harus menyandingkannya dengan bendera nasionalisme ataupun simbol kamuflase nasionalisme.

Selain secara syar’i haram, secara de facto justru nasionalisme itu yang memecah kaum Muslim yang tadinya bersatu dalam naungan khilafah menjadi 57 negara bangsa yang saling terpecah belah.

Naudzubillahi min dzalik. []

Sumber: Joko Prasetyo, Jurnalis

About Author

Categories