Taqiyyuddin an-Nabhani: Ulama Besar yang Ditenggelamkan

MUSTANIR.net – Jarang ulama atau cendekiawan Islam yang mempunyai ilmu atau keahlian yang multitalenta, seperti Taqiyyuddin an-Nabhani. Ulama kelahiran Palestina menguasai ushul fiqh, fiqh, aqidah, politik, pemikiran dan juga ideologi komunis dan Barat.

Pendiri gerakan Hizbut Tahrir (Partai Pembebasan) ini kecerdasannya luar biasa. Bila kita mengkaji kitab-kitabnya bahasa Arab yang digunakannya fushah. Kalimat-kalimatnya mudah difahami, tapi mengandung pemahaman yang mendalam.

Ia mendorong penggunaan akal dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah. Ia juga mendesak agar para ulama melakukan ijtihad untuk menjawab persoalan-persoalan manusia di zaman kiwari.

Baginya, Islam bukan hanya konsep-konsep tentang ibadah, tapi Islam adalah sebuah konsep canggih yang diturunkan Allah untuk menjawab problematika manusia. Problematika lahir dan batin. Problematika sosial, ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain.

Begitu pentingnya penggunaan akal dalam memahami Islam ini, ‘musuh-musuhnya’ menuduh ia adalah neo muktazilah. Ulama-ulama pendukung kerajaan Arab Saudi mengecam habis Taqiyyuddin an-Nabhani dan gerakan Hizbut Tahrir.

Kemunduran berfikir umat Islam adalah salah satu tema yang penting yang dibahas Taqiyuddin dalam kitab-kitabnya. Selain tentu saja Khilafah Islamiyah atau politik Islam yang menjadi perhatiannya. Sebelum ia wafat, ia menulis dua kitab yang monumental Sur’atul Badihah (Pemikiran Cepat/Cemerlang) dan at-Tafkir.

Dalam kitab at-Tafkir, ia bahas tentang proses berfikir manusia. Ia menyatakan bahwa semua ilmu, bahkan ilmu seni, adalah hasil proses berfikir manusia. Ilmu manusia bisa ditelusuri adalah dari Allah, Tuhan yang menciptakan manusia. Praktisnya begini. Kita mendapat ilmu dari guru atau orang sebelum kita, guru kita dari guru sebelumnya dan terus bila ditelusuri sampai ke para nabi (Nabi Adam).

Sehingga Allah menyatakan, ”Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!’ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!’ Mereka menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (QS al-Baqarah: 31-32)

Di sini Taqiyuddin mengritik faham komunis yang tidak mengakui ilmu dari Allah yang diberikan kepada Nabi Adam. Komunis menyatakan bahwa ilmu didapat dari refleksi otak manusia kepada benda-benda (fakta). Komunis meniadakan ‘ilmu yang sebelumnya ada di otak itu’ sehingga membuat proses berfikir itu terjadi.

Misalnya begini. Anda membawa batu dan handphone kepada masyarakat pedalaman Irian. Masyarakat itu tentu tidak bisa membedakan kedua benda itu. Karena tidak ada informasi/ilmu sebelumnya pada mereka tentang perbedaan batu dan handphone.

Ulama hebat ini juga mengajarkan tentang perlunya pemikiran cepat bagi umat Islam. Ia mencontohkan suatu saat ada seorang wanita membelah apel merah di masa Rasulullah ﷺ. Rasulullah yang jenius langsung menangkap maksud dari wanita itu, yaitu ia menanyakan tentang seluk beluk masalah haid wanita.

Di dalam kitab at-Tafkir, Taqiyuddin menyatakan bahwa pemikiran politik adalah pemikiran yang tertinggi dan paling sulit bagi manusia. Bila pemikiran hukum, obyeknya tetap dan tinggal dicari dalilnya, maka politik obyeknya berubah-ubah. Seorang cendekiawan Islam harus hati-hati dalam menyikapi politik, ada obyek yang berubah dan obyek yang tetap.

Para pemain politik bisa berakrobat lain di ucapan, lain di tindakan. Di sini Taqiyuddin memberikan ‘resep’ bahwa yang tetap adalah kaum kafir anti Islam akan terus melakukan rekayasa terhadap umat Islam. Karena itu umat Islam mesti berhati-hati dalam politik.

Para kader Hizbut Tahrir dalam pembinaan awal harus mengkaji kitab Fikrul Islam dan Nidzham Islam. Di dua kitab ini kader akan memahami aqidah Islam secara ‘aqliyah’. Memahami makna dari mana manusia berasal, mau ke mana dan untuk apa hidup di dunia ini.

Taqiyuddin menekankan bahwa Islam adalah jalan yang istimewa. Jalan yang hebat. Yang berbeda dengan jalan kehidupan yang ditempuh kaum komunis dan kaum sekuleris (Barat). Individu yang akan dibentuk Islam beda dengan individu yang akan dibentuk kaum komunis dan Barat. Begitu juga masyarakat atau negara yang akan dibentuk berbeda pula.

Barat dan komunis melihat dunia ini adalah segalanya. Maka prinsip hidup mereka adalah mereguk sepuas-puasnya kenikmatan dunia. Tidak ada halal-haram dalam kehidupan mereka. Ukuran boleh atau tidak boleh dalam kehidupan adalah akal manusia. Mereka meniadakan wahyu dalam menentukan perbuatan manusia. Mereka meniadakan Tuhan atau menganggap Tuhan tidak boleh campur tangan dalam kehidupan manusia.

Maka jangan heran komunis dalam sejarah manusia, membunuh ratusan juta manusia untuk menggapai kekuasaan. Begitu juga Barat. Barat dan komunis menciptakan nuklir agar dapat menguasai dunia. Kedua ideologi menganggap bahwa dunia manusia adalah seperti dunia binatang. Yang kuat (dan ganas) yang menang, yang berkuasa.

Taqiyuddin dengan cerdas menceritakan politik dunia. Ia secara rinci menggambarkan sejarah politik Inggris dan Amerika menguasai dunia. Termasuk di dalamnya bagaimana keduanya menghancurkan Khilafah Islamiyah di Turki, benteng terakhir umat Islam. Bagi ulama besar ini, pendirian Khilafah Islamiyah adalah kewajiban yang harus diemban oleh kaum Muslimin di seluruh dunia.

Ketika Khilafah Islamiyah dihancurkan Inggris dan Amerika (Yahudi dan Nasrani), maka umat Islam akhirnya dipecah-pecah dalam berbagai negara. Barat melancarkan ideologi nasionalisme dan demokrasi untuk mencegah penyatuan negeri-negeri Islam (pendirian Khilafah Islamiyah kembali). Israel sengaja dibentuk di Timur Tengah (1948) untuk mencegah penyatuan negeri-negeri islam yang bisa mengancam Amerika/Barat.

Dalam nasionalisme dan demokrasi, semua agama ditempatkan sama. Islam disamakan dengan Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan lain-lain. Kebanggaan terhadap Islam harus dihancurkan diganti dengan kebanggaan nasionalisme. Al-Qur’an dianggap sama dengan Bibel, Weda, Tripitaka, dan lain-lain.

Darwin, Kemal Atatürk, Marx, Hegel, Aristoteles, ilmuwan Barat dan komunis, dan lain-lain pemikirannya disebarkan di seluruh dunia untuk menenggelamkan pemikir-pemikir atau ulama-ulama Islam. Koran, televisi, jurnal, majalah, dan teknologi informasi dikuasai untuk mendominasi dan memengaruhi pemikiran manusia di seluruh dunia.

Yang menarik, Taqiyuddin an-Nabhani (1909-1977) dalam kitab Nidzham Islam menulis judul Qiyadatul Fikriyah fil Islam. Kepemimpinan berfikir dalam Islam. Menurut Taqiyuddin, umat Islam bukan cuma memimpin dunia dengan militer, ekonomi atau lainnya, tapi dengan pemikiran. Pemikiran jernih yang lahir dari aqidah (keyakinan) yang kokoh.

Pemikiran jernih yang melihat bahwa manusia di dunia ini adalah hamba Allah yang berusaha melakukan amal terbaik agar selamat di akhirat.

Masyarakat yang dibentuk Islam adalah masyarakat yang saling tolong menolong berdasarkan taqwa. Seperti masyarakat Madinah yang dibentuk Rasulullah ﷺ.

Dalam kitabnya at-Tafkir, Taqiyuddin juga membagi pemikiran manusia dalam tiga tingkatan.

Pertama ‘fikrus sathhi’. Pemikiran dangkal, Pemikiran ini kebanyakan dimiliki orang awam. Seperti misalnya orang awam melihat pohon. Maka ia hanya melihat yang tampak di mata saja. Melihat pohon itu bentuknya bagus, daunnya lebat, dan buahnya banyak.

Ke dua, ‘fikrul amiiq’. Pemikiran yang mendalam. Pemikiran ini dimiliki oleh para cendekiawan. Ketika melihat pohon, maka ahli tanaman bisa melihat ada-tidak hama atau penyakit dalam tanaman itu, proses fotosintesa dalam tanaman itu, akar apa yang ada di dalam tanaman itu, dan lain-lain.

Ke tiga, ‘fikrul mustanir’. Pemikiran yang jernih. Pemikiran ini dimiliki oleh para cendekiawan Islam atau ulama yang shalih. Melihat pohon bukan hanya akar atau proses fotosintesanya, tapi melihat pohon adalah salah satu makhluk yang diciptakan Allah. Mereka teringat firman Allah dalam surat al-Waqiah, ”Apakah kamu tidak melihat benih yang kamu tanam, kamukah yang menciptakannya atau Kami yang menciptakannya?”

Melihat manusia bukan hanya fisik dan wajahnya. Tapi melihat amal dan hatinya. Manusia-manusia yang mendurhakai Allah, sering melakukan dosa besar, adalah manusia yang fasik, zalim tidak bisa dipercaya. Apalagi dijadikan pemimpin.

Makanya dalam Islam bukan mendidik berfikir yang cerdas, tapi juga mendidik jiwa yang bersih (suci).

Di sini Taqiyuddin menulis kitab tiga jilid berjudul Syakhshiyah Islamiyah. Kepribadian Islam. Intinya bahwa manusia di dalam Islam dididik akal dan jiwanya. Aqliyah Islamiyah dan Nafsiyah Islamiyah. Aqliyah Islamiyah dididik dengan ilmu-ilmu keislaman, ilmu al-Qur’an, ilmu bahasa Arab, ilmu-ilmu sains (Islam) dan lain-lain. Untuk mencapai Nafsiyah Islamiyah yang hebat, maka manusia dididik dengan banyak ibadah kepada Allah. Shalat wajib dan shalat sunnah, puasa wajib-sunnah, haji, sedekah, zakat, dzikir, membaca-memahami-mengamalkan dan mendakwahkan al-Qur’an dan lain-lain.

Pentingnya Islam sebagai sistem kehidupan ini, menjadikan Taqiyuddin menulis buku tentang Bagaimana Khilafah Islamiyah Dihancurkan, Sistem Politik Islam, Sistem Ekonomi Islam, Sistem Masyarakat Islam, dan lain-lain.

Karena kitab-kitab yang ditulis Taqiyuddin mencerahkan akal dan jiwa, maka jangan heran kader-kader Hizbut Tahrir banyak terdiri para cendekiawan Islam.

Di Indonesia, mahasiswa-mahasiswa cerdas di IPB tahun 1980-an banyak yang ikut Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir di Indonesia dibawa oleh ulama besar Abdurrahman al-Baghdadi. Ulama berasal dari Lebanon ini ke Indonesia atas ajakan ulama terkemuka di Indonesia KH Abdullah bin Nuh.

Tahun 1990-an pemikiran Hizbut Tahrir mendominasi aktivis-aktivis Islam IPB. Bahkan bukan hanya di IPB, pemikiran Hizbut Tahrir juga tersebar luas di kampus-kampus seluruh Indonesia dalam wadah Forum Silaturahhmi Lembaga Dakwah Kampus Seluruh Indonesia. Di sana berkumpul aktivis-aktivis mahasiswa Islam dari IPB, UI, ITB, UGM, Unair, IKIP Malang, Unhas, dan lain-lain.

Sudah sunnatullah mahasiswa-mahasiswa yang cerdas tentu butuh kajian keislaman yang mencerdaskan pula. Pemikiran-pemikiran Islam Taqiyuddin yang mencerdaskan ini menjadikan banyak mahasiswa tertarik.

Bukan hanya kaum cendekiawan Indonesia yang tertarik. Pemikiran-pemikiran Hizbut Tahrir juga menyebar ke Malaysia, inggris, Amerika, Australia, Mesir, Irak, dan lain-lain. Banyak ulama, profesor, doktor, mahasiswa yang ikut pemikiran Hizbut Tahrir di seluruh dunia.

Mereka resah melihat peradaban Barat yang banyak merusak manusia. Peradaban Barat yang membuat orang menjadi komunis, egois, suka permusuhan dan lain-lain. Peradaban Barat yang berakar dari Yahudi, Nasrani, dan Yunani memang tidak mempunyai akar yang kuat. Tidak mempunyai kitab suci, yaitu al-Qur’an.

Pemikiran Taqiyuddin yang kuat berdasarkan al-Qur’an (dan Sunnah) ini menjadikan banyak ulama dan cendekiawan kagum kepadanya. Menjadikan banyak ulama semangat untuk mewujudkan visinya, Khilafah Islamiyah ‘ala Minhajin Nubuwwah sebagaimana nubuat Rasulullah.

Meski organisasi Hizbut Tahrir dilarang di Indonesia dan negara-negara Timur Tengah yang otoriter, pemikiran manusia tidak bisa dihentikan. Pelarangan kepada Hizbut Tahrir menunjukkan bahwa pemerintah yang melarang itu lemah pemikirannya dan otoriter.

Pemerintah yang ideologi hukumnya dan penguasanya lemah, tidak akan menjadikan negara itu menjadi negara besar. Tidak akan menjadikan negara itu menjadi negara teladan. Ia akan menjadi negara yang lemah, negara pak turut dan negara yang dihujat rakyatnya sendiri.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.”

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka’.”

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: ‘Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan’.” (QS Ibrahim: 24-31).

Wallahu azizun hakim. []

Sumber: Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik

About Author

Categories