Seputar Serangan Truk di Prancis Yang Tewaskan 77 Orang

Seputar Serangan Truk di Prancis Yang Tewaskan 77 Orang

Korban Selamat Beberkan Kengerian Saat Truk Tabraki Massa

Seorang turis asal Australia yang berada di Nice, Prancis Katie Baronie Shaw (21 tahun) mengatakan dia dan seorang temannya berjalan usai pertunjukan kembang api menuju bar setempat.

Saat itulah musik terhenti dan dia mendengar suara tembakan. “Kami tidak tahu apa yang terjadi. Kemudian yang kami dengar hanya suara tembakan. Teman saya menarik saya dan kami menuju belakang tangga dan berlari sambil menunduk,” katanya kepadaAustralian Associated Press, Jumat (15/7).

Shaw berlindung di dalam bar. Staf bar mendorong semua orang ke bagian belakang bar dan menutup pintu rolling.

“Kami hanya berlari dengan kepala menunduk. Saya tidak pernah merasa begitu ketakutan seumur hidup saya,” ujarnya.

Lain lagi cerita Zena John, wisatawan dari Inggris yang sedang berlibur dengan saudarinya di Nice. Dia menggambarkan bagaimana malam perayaan berubah menjadi teror dalam sekejap.

“Malam ini menyenangkan dan menjadi atmosfer yang membekas dalma ingatan. Kami makan enak di dekat Rue De Massenet. Kami baru saja usai menonton kembang api. Kami bahkan belum duduk ketika melihat orang-orang berlarian. Saya kemudian mendengar suara tembakan,” katanya, dikutip The Guardian.

John mengaku berteriak kepada saudarinya dan teman-temannya meminta agar mereka lari. Namun, mereka sempat ragu-ragu.

“Kami lari menyusuri jalan dan begitu kami membuka gerbang apartemen kami, banyak orang yang mengikuti,” katanya.

Dia menambahkan orang-orang tersebut duduk di lantai apartemennya menunggu hingga keadaan tenang. John mengatakan seorang perempuan asal Polandia kehilangan rekannya.

Penulis keturunan AS-Palestina Ismail Khalidi yang juga berada di lokasi kejadian mengatakan polisi meminta orang-orang untuk lari tanpa memberi tahu alasannya.

“Saya tidak pernah melihat orang lari tunggang-langgang dengan ketakutan seperti itu. Sangat kacau dan histeris,” ujarnya. (rol/adj)

‘Model Teror Truk di Prancis Rawan Terjadi di Negara Lain’

Analis terorisme dari Universitas Indonesia, Ridlwan Habib menilai teror yang dilakukan seseorang dengan menabrakkan truk trailer ke kerumunan orang pada saat perayaan Hari Bastille di Kota Nice, Prancis, Kamis (14/7) kemarin, rawan ditiru pelaku teror lain.

“Harus diwaspadai bahwa model serangan ini rawan ditiru oleh kelompok teroris lain di luar Prancis, termasuk di Indonesia. Era bahan peledak sudah selesai, sekarang teroris bisa menggunakan apa pun untuk melukai targetnya,” katanya dihubungi di Jakarta, Jumat (15/7).

Sebelumnya sebuah serangan terjadi di Nice, Prancis yang dilakukan seseorang dengan mengendarai truk trailer berukuran besar yang ditabrakkan ke kerumunan orang yang sedang merayakan Hari Bastille dan mengakibatkan sebanyak 77 orang tewas dan lebih dari 100 orang luka-luka.

Ridlwan menilai serangan tersebut merupakan serangan taktis yang direncanakan dengan baik dan berhasil mengecoh intelijen Perancis.

“Serangan ini adalah bentuk atomization of terorist network. Penyerang bergerak seperti atom yang sendirian, tanpa harus berkoordinasi dengan pimpinan pusatnya, dan bisa menggunakan senjata apa saja, bahkan sebuah truk,” ujarnya.

Ridlwan menjelaskan teori jejaring teroris atom ini berbeda dengan era teroris Al Qaeda yang mensyaratkan serangan terkomando, terencana dan terstruktur. “Kalau sekarang, bisa kapan saja, dimana saja, dan oleh siapa saja, ” ucapnya.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa ancaman teror di Indonesia belum berakhir, sehingga teror seperti yang terjadi di Nice, Prancis harus juga diwaspadai. Di sisi lain Koordinator eksekutif Indonesia Intelligence Institute itu menekankan koordinasi antar lembaga intelijen juga harus diperkuat termasuk melalui pertukaran data dan informasi.

“Tidak boleh ada ego sektoral , masing- masing harus saling menutupi kekurangan,” katanya. (rol/adj)

Komentar Mustanir.com

Apa yang terjadi di Prancis merupakan tragedi, 77 nyawa melayang (perkiraan saat ini) akibat ditabrak truk yang dikemudikan oleh penduduk Prancis sendiri. Ada yang menarik dari artikel kedua diatas, yakni kekhawatiran akan adanya cara yang sama yang digunakan di negara lain untuk melakukan teror massal. Menurut kami, ini terlalu dini untuk khawatir. Lagipula masyarakat Prancis saat ini memang sedang masa berkabung akibat peristiwa demo buruh yang ricuh sebelumnya.

Masyarakat Barat saat ini banyak yang mengalami schizofrenia, atau ketakutan berlebih kepada sesuatu, yang membuat mereka menjadi depres, mudah marah dan yang paling parah akhirnya mengalami gangguan kejiwaan. Ini disebabkan oleh banyak faktor, yakni stress karena pekerjaan, permasalahan rumah tangga (sosial), kesenjangan ekonomi, pelecehan seksual yang tinggi, dan sebagainya.

Pemerintahan Kapitalisme-Liberal yang dominan di negara-negara Barat-lah yang memiliki andil lebih banyak terhadap shizofrenia masyarakatnya. Inikah contoh peradaban yang maju? yang ramai orang Islam mengikuti cara hidup mereka?

Categories