Siapakah Ulil Amri yang Wajib Kita Taati?

MUSTANIR.net – Banyak kalangan yang mau enaknya sendiri mengklaim bahwa umat Islam hari ini harus taat kepada ulil amri. Mengapa mau enaknya sendiri?

Karena mereka mengklaim bahwa merekalah ulil amri dan menuntut umat Islam taat tanpa mereka memenuhi syarat sebagai ulil amri. Biasanya, para ulama su’ paling semangat mengklaim agar umat taat.

Padahal siapakah ulil amri yang sah secara syariat itu?

Imam asy-Syaukani berkata ketika menafsirkan QS an-Nisa: 59, “Ulil amri adalah para imam, para sultan, para kadi, dan setiap orang yang memiliki kekuasaan syar’i, bukan kekuasaan bangsa thogut.” (Fathul Qadir, asy-Syaukani, 1/556)

Menurut Ibnu Abbas, ‘ulil amri’ (اُولِى الْاَمْرِ) dalam QS an-Nisa: 59 ialah al-umara’ wa al-wullat (para penguasa) karena ayat tersebut turun berkaitan dengan kewajiban menaati penguasa. (asy-Syaukani, Nailu al-Authar fi Syarh Muntaqa al-Akhbar).

Oleh karenanya, ayat tersebut memerintahkan kaum muslim agar menaati penguasa. Namun persoalannya, siapakah dan apakah ciri-ciri penguasa yang dimaksudkan dalam ayat tersebut?

Berdasarkan lafaz ‘min kum’ (dari kalangan kalian), maksudnya adalah ulil amri dari kalangan kaum muslim secara keseluruhannya. Menurut Islam, wajib ada hanya seorang kepala negara bagi seluruh kaum muslim dalam satu masa, yaitu seorang khalifah yang dibaiat dengan cara yang sah oleh umat Islam.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna athii’ullah (taatlah kepada Allah) adalah ikutilah Kitab-Nya. Wa-athii’ur-Rasul (taatlah kepada Rasul) bermakna berpegang teguhlah pada Sunnah Rasul. Wa ulil amri min kum (dan ulil amri di antara kalian) bermakna apa saja yang mereka perintahkan kepada kalian, selama dalam rangka taat kepada Allah, bukan dalam maksiat kepada-Nya.

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah. Disebutkan dalam hadis sahih, “Ketaatan itu hanya berlaku dalam hal yang makruf.” (HR Bukhari)

Imam ash-Shabuni, dalam tafsirnya Shafwatut Tafasir, menjelaskan bahwa taat pada Allah dan taat pada rasul-Nya dengan berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah, serta taat kepada hukkaam (penguasa) apabila mereka dari kalangan muslim dan berpegang teguh pada syariat Allah. Ini karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah.

Al-Baghawiy dalam tafsirnya, Ma’ālimut Tanzīl, terkait penafsiran ayat ini, menukil sebuah atsar bahwa Ali bin Abi Thalib raḍiya ‘llāhu ‘anhu  berkata, “Hak yang wajib ditunaikan oleh seorang pemimpin adalah memutuskan perkara (berhukum) dengan apa yang Allah turunkan (al-Qur’an dan Sunnah) dan menjalankan amanah. Jika pemimpin telah melakukan hal itu, maka hak yang wajib ditunaikan oleh rakyat adalah mendengar dan taat.” (Tafsir al-Baghawiy, Surah an-Nisa: 59; al-Musannaf fil Ahadis wal Atsar)

Menjadi jelas bahwa ulil amri adalah kholifah, kemudian para penguasa di bawah kholifah, seperti para wali, dan para amil. Yang menerapkan syariat Islam secara kaffah kepada umat Islam dan seluruh rakyatnya.

Kita semua mengetahui bahwa Allah subḥānahu wa taʿālā memang memerintahkan kita untuk taat pada ulil amri. Allah subḥānahu wa taʿālā berfirman dalam QS an-Nisa: 59,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri dari kalangan kalian. Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

Dan ulil amri diperintahkan oleh Allah hanya menerapkan syariat Islam. Jika tidak maka mereka, para penguasa, akan menjadi fasik, zholim atau bahkan kafir. Sesuai firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 44, 45 dan 47.

Oleh karena itulah, klaim ngawur bahwa penguasa sekarang adalah ulil amri sama sekali tak berdasar syariat tapi hanya hawa nafsu. Dan umat Islam tidak punya kewajiban untuk taat kepada para penguasa zholim yang mengkhianati umat Islam dengan menolak syariat Islam kaffah dan memilih memaksakan hukum jahiliyah.

Hasbunallahu wani’mal wakil. []

Sumber: Abu Zaid

About Author

Categories