Sikap Hikmah dalam Berdakwah

Sikap Hikmah dalam Berdakwah

Oleh: Abu Syamil Humaidy

Ini merupakan asas dalam berdakwah. Dasarnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [An-Nahl/16:125]

? Ibnu Katsîr berkata dalam tafsirnya:

“Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad صلّى الله عليه وسلّم  agar menyeru manusia kepada agama Allah Azza wa Jalla dengan cara hikmah.”

? Contoh sikap hikmah di dalam berdakwah, yaitu :

➡1. Mengiringi ’aqîdah yang benar dengan akhlâq yang mulia.
➡2. Berwajah ceria, menebarkan salam dan menunaikan hak-hak kaum muslimin walaupun mereka memiliki penyimpangan selama metode hajr (boikot) belum layak untuk diterapkan.
➡3. Memperhatikan Waktu Dan Kondisi Dalam Berdakwah
➡5. Berdakwah secara bertahap, dari yang paling penting lalu melangkah ke hal-hal penting lainnya.
➡6. Mengutip perkataan ulama ahlus sunnah yang dikenal dan dihormati masyarakat, dan menghindari penyebutan nama-nama ulama ahlus sunnah yang masyarakat fhobi dengannya.

Jika masyarakat yang kita hadapi adalah orang-orang yang fhobi dengan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab,, Syaikh Ibnu Baz, atau syaikh Albani. Maka kita bisa membawakan nama-nama ulama yang memiliki kedudukan dihati mereka seperti : Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Syafi’i, Imam Nawawi atau nama-nama lain yang tidak asing di telinga mereka.

Ataupun jika terpaksa kita membawakan keterangan yang bersumber dari perkataan ulama yang mereka phobi dg nama2 ulama tsb maka kita bisa mengganti dengan nama lain (sebutan) yg kurang terkenal seperti : Syaikhul Islam, Syaikh Muhammad at-Tamimi, atau cukup menyebutkan kitab-kitab mereka.

➡7. Berdakwah dan beramar ma’ruf serta nahi munkar secara lemah lembut.
➡8. Melarang sesuatu kemungkaran hendaklah mengarahkan juga pada hal yang manfaat lainnya, bukan sekedar melarang.
➡9. Mengingkari kemungkaran hanya boleh dengan hujjah (dalil) yang jelas.
➡10. Tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan hal yang lebih mungkar.
➡11. Memperhatikan generasi muda dan anak kecil tanpa mengesampingkan orang-orang yang telah lanjut usia.
➡12. Menerapkan skala prioritas dalam mengingkari kemungkaran.
➡13. Melandasi bantahan terhadap ahli bid’ah dengan ilmu dan dalil bukannya dengan cercaan dan makian.
➡14. Tidak harus menyebutkan nama tokoh atau kelompok yang menyimpang ketika mentahdzîr.
➡15. Mengikuti kebiasaan masyarakat setempat selama tidak melanggar syariat, seperti tidak tampil beda di dalam berpakaian, memakai celana atau sarung tepat di atas mata kaki, tidak harus di tengah betis, memakai jilbab selain warna hitam, boleh mengimami sholat di dalam mihrab, membaca basmalah secara jelas ketika menjadi imam.
➡16. Menarik simpati orang yang ditokohkan atau memiliki kedudukan di tengah masyarakat.
➡17. Tidak Memandang Rendah Orang Yang Didakwahi.
➡18. Menyebarkan Sunnah Tanpa Menimbulkan Konflik (pertengkaran dan kekerasan)
➡19. Dakwah mesti dengan cara yang tepat dengan memperhatikan kondisi masyarakat.

Mengenal masyarakat sebelum mendakwahi mereka adalah merupakan suatu hal yang amat urgen bagi seorang da’i; agar dia bisa memilih metode, kata-kata, sikap dan lain sebagainya yang sesuai dengan masyarakat tersebut.

Jika kita telah mengenal bahwa masyarakat yang kita hadapi adalah orang-orang yang phobi dengan kata bid’ah; maka merupakan hikmah dalam berdakwah, kita menghindari pemakaian kata ini -untuk sementara waktu hingga mereka paham istilah-istilah syar’i tersebut- dan kita menggunakan kata-kata lain yang ‘mewakilinya’. Misalnya: “Amalan ini tidak ada tuntunannya dari nabi kita Shallallahu’alaihiwasallam”, atau “Nabi Shallallahu’alaihiwasallam tidak mengajarkan amalan ini” atau “Amalan ini tidak ada haditsnya” atau kalimat-kalimat lain yang lebih terasa ‘enak’ di telinga mereka, sehingga mereka lebih mudah menerima dakwah yang kita sampaikan, dan tidak keburu lari sebelum kita mengajarkan hal-hal yang lebih fundamental kepada mereka.

Allah ta’ala berfirman,

]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقُولُواْ رَاعِنَا وَقُولُواْ انظُرْنَا وَاسْمَعُوا ْوَلِلكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ[.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad), “Raa’ina”, tetapi katakanlah “unzhurna” dan “dengarlah”. Dan bagi orang kafir siksaan yang pedih”. QS. Al-Baqarah: 104.

“Raa’ina” dan “Uzhurna” adalah dua kata yang bermakna sama yaitu: “Perhatikanlah kami”. Hanya saja kata “Raa’ina” juga mengandung makna lain yang buruk yaitu kebodohan yang amat sangat (ru’uunah). Kata “raa’ina” ini biasa dipakai oleh orang Yahudi untuk memanggil Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dan tujuan mereka adalah untuk menghina beliau Shallallahu’alaihiwasallam. Maka kaum muslimin dilarang oleh Allah ta’ala untuk menyerupai orang Yahudi dalam pemakaian kata ini, dan diperintahkan untuk memakai kata lain yang memiliki makna sama yaitu “unzhurna”, apalagi kata ini tidak mengandung makna yang buruk. Ini menunjukkan pentingnya pemilihan kata-kata yang tepat dalam berbicara.

➡20. Dakwah pada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai dakwah tanpa dalil, tanpa mengikuti tuntunan.
➡21. Bersabar dan tidak terburu-buru berharap bisa segera memetik buah dari dakwah.
__

Categories