105 Tahun Tanpa Perisai, Nestapa Umat Tak Kunjung Usai

MUSTANIR.net – Pernahkah kita berhenti sejenak untuk merenung dan bertanya kepada diri sendiri: ”Di manakah posisi umat Islam hari ini di hadapan dunia?”

Ketika adzan berkumandang dan shaf-shaf shalat dirapatkan, di belahan bumi lain darah kaum Muslim justru tertumpah tanpa pembela. Tangisan anak-anak Gaza, jeritan kaum tertindas di Sudan, Xinjiang, dan India seakan menggema, namun sering berlalu tanpa jawaban nyata.

Muslim yang memiliki kepekaan nurani dan ketajaman akal tentu bertanya: mengapa penderitaan umat seakan tak berujung?

Padahal umat Islam berjumlah lebih dari dua miliar jiwa, dianugerahi kekayaan alam melimpah, posisi geografis strategis, serta potensi kekuatan besar jika disatukan. Dengan semua karunia itu, seharusnya umat Islam mampu menjadi kekuatan penentu dunia. Namun realitasnya, umat justru hidup lemah, terpecah, dan terus menjadi korban dominasi kekuatan imperialis Barat.

Penderitaan ini berakar sejak Khilafah Islamiyah—pelindung umat—dihancurkan pada akhir Rajab 1342 H (Maret 1924 M). Ketika Khilafah masih berdiri, Islam dan kaum Muslim terlindungi; bahkan pemeluk agama lain hidup aman di bawah naungannya. Pembubarannya—melalui intervensi Inggris dan kebijakan Mustafa Kemal Atatürk—mengakhiri persatuan politik umat dan memicu fragmentasi menjadi lebih dari lima puluh negara-bangsa yang kerap saling bermusuhan.

Ketiadaan Khilafah membuka jalan bagi negara-negara imperialis untuk menjarah kekayaan Dunia Islam, membuat mayoritas Muslim tetap miskin di negeri-negeri kaya seperti Afrika, Libya, dan Indonesia. Perlawanan umat dibalas agresi militer kolonial, lalu berlanjut dengan perang atas nama demokrasi dan “perang melawan terorisme,” yang menelan jutaan korban Muslim di Afrika, Indonesia, Irak, Afganistan, dan Libya.

Setelah runtuhnya Khilafah, umat Islam tidak hanya kehilangan pelindung, tetapi juga dipimpin oleh figur-figur yang justru menjadi sumber bencana baru. Kekuasaan di banyak negeri Muslim jatuh ke tangan para penguasa yang lemah akal, rapuh iman, dan tunduk pada kepentingan asing. Fenomena ini bukanlah hal baru, karena Rasulullah ﷺ telah memperingatkannya jauh hari sebagai salah satu tanda kerusakan besar dalam kehidupan umat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

سَيَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ, يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ, وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ, وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ, وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الْأَمِيْنُ, وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ, قِيْلَ : وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ ؟ قَالَ : الرَّجُلُ التَّافِهُ فِيْ أَمْرِ الْعَامَّةِ

”Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu pembohong dianggap jujur dan orang jujur dianggap pembohong. Pengkhianat dianggap amanah, sementara orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu ruwaybidhah berbicara.” Ada yang bertanya, ”Siapa ruwaybidhah itu?” Nabi ﷺ menjawab, ”Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.” (HR Ibnu Majah)

Sifat ruwaybidhah ini tampak pada para penguasa yang menolak berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, lalu menjadikan negara-negara imperialis sebagai sekutu dan penasihat, padahal merekalah biang kerusakan umat.

Pengkhianatan mereka terlihat jelas dalam kasus Palestina: normalisasi dengan negara zionis Yahudi, hubungan diplomatik dan perdagangan, bahkan tetap membuka jalur logistik saat genosida Gaza berlangsung. Semua ini merupakan pengingkaran nyata terhadap firman Allah ﷻ:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) serta mengkhianati amanah-amanah yang telah dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui.” (QS al-Anfâl [8]: 27)

Lebih jauh, para penguasa ruwaybidhah ini (diantaranya Saudi, Mesir dan Uni Emirat Arab ) terlibat atau membiarkan pengkhianatan di berbagai negeri Muslim: mendukung skema Amerika Serikat untuk mengendalikan Gaza dan melucuti perlawanan, membantu perpecahan Sudan dan tragedi Darfur, serta membiarkan tanah-tanah Islam dirampas. Kashmir dianeksasi India, Chechnya dan wilayah Muslim Asia Tengah dikuasai Rusia, Rohingya dibantai di Myanmar, dan Muslim Turkistan Timur ditindas secara brutal oleh Cina—sementara para penguasa Muslim memilih diam layaknya mayat di dalam kubur dan berdalih itu urusan internal mereka.

Allah ﷻ menggambarkan sikap ini dengan tegas:

كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۗ اِنْ يَّقُوْلُوْنَ اِلَّا كَذِبًا

”Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan kecuali dusta.” (QS al-Kahfi [18]: 5)

Setelah lebih dari satu abad umat Islam hidup tanpa perisai, semakin terang bahwa akar penderitaan umat hari ini bukan semata lemahnya jumlah atau sumber daya, melainkan ketiadaan kepemimpinan yang melindungi dan menyatukan mereka. Selama 105 tahun, darah dan air mata kaum Muslim terus tertumpah tanpa pembela sejati, sementara penguasa dan lembaga internasional terbukti gagal memberikan perlindungan nyata.

Wahai kaum Muslim! Rasulullah ﷺ telah menegaskan hakikat kepemimpinan umat:

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum Muslim berperang di belakang dia dan berlindung kepada dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Tanpa perisai ini (Khilafah Islamiyah), umat terus menjadi sasaran kezaliman. Karena itu, seruan ini ditujukan khusus kepada tentara kaum Muslim: kalian adalah anak-anak umat Muhammad ﷺ, pewaris kaum Muhajirin dan Anshar serta generasi Khulafaur Rasyidin. Kalian adalah penerus Harun ar-Rasyid, al-Mu‘tasim yang mengerahkan pasukan demi kehormatan seorang Muslimah, Shalahuddin al-Ayyubi pembebas al-Aqsha, dan Muhammad al-Fatih yang dipuji Rasulullah ﷺ:

فَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا، وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

“Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin (penaklukan Konstantinopel) dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut” (HR Ahmad dan Al-Hakim)

Bukankah dengan izin Allah kalian mampu membebaskan Palestina, Gaza, dan seluruh tanah kaum Muslim yang dirampas?

Jika masih ada yang ragu apakah kebangkitan itu mungkin, maka jawabannya telah ditegaskan oleh Allah ﷻ sendiri:

اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

“Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian” (QS Muhammad [47]: 7)

Janji Allah ini pasti benar dan tidak pernah ingkar. Maka pertanyaannya kini kembali kepada kita semua: apakah janji Allah ﷻ belum cukup bagi orang-orang yang mengaku beriman?

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

Sumber: Seruan Masjid

About Author

Categories