Taubatnya Tsalabah

taubat1

Taubatnya Tsalabah

Dikisahkan oleh Jabir bin Abdullah Al-Anshari, dikutip dari Mukhtashar Kitabit-Tawwabiin yang ditulis oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisy. Jabirbin Abdullah al-Anshori adalah salah seorang sahabat yang ikut dalam bai’ahAqobah II. Beliau 19 kali menyertai nabi berjihad dan wafat tahun 74 H pada usia 94 tahun. Beliau meriwayatkan 1540 hadits, salah satunya adalah hadits tentang Ts’labah bin Abdul Rahman al Anshori ra. Tsalabah bin Abdul Rahman ra adalah salah seorang sahabat yang mulia. Beliau berasal  dari kalangan Anshar, dan selalu setia melayani Rasulullah Saw sejak beliau ra masuk Islam.

Suatu ketika dalam sebuah perjalanan untuk menunaikan sebuahurusan, secara tidak sengaja Tsalabah ra melihat seorang wanita Anshar yang sedang mandi. Rasa takutnya akan Allah Swt muncul seketika, ia takut jika Allah Ta’ala akan menurunkan wahyu atas apa yang telah terjadi. Maka ia lari hingga mencapai pegunungan, tinggal disana dan senantiasa bertaubat dan menangis kepada Allah selama 40 hari.

Malaikat Jibril as menyampaikan perihal ini kpd Rasul Saw, sehingga Rasulullah Saw meminta kepada beberapa sahabat Anshar untuk menjemputnya. Ketika sampai Madinah, Rasulullah Saw sedang memimpin shalat berjamaah. Maka shalatlah mereka, namunTsalabah ra masih dengan rasa berdosanya, memilih shaf paling belakang. Ketika ia mendengar ayat Qur’an yang sedang dibaca Rasul Saw, ia seketika pingsan. Selesai shalat,Rasulullah Saw membangunkannya dan menanyakan perihal dirinya.

“Apa yang menyebabkan kau pergi dariku?,” tanya Rasul.

“Dosaku, ya Rasulullah,” jawabnya.

“Bukankah aku pernah menunjukkan ayat yg dpt menghapus dosa dan kesalahan (QS.
2:201)?,” tanya Rasul.

“Betul, akan tetapi dosaku teramat besar, ya Rasulullah,” jawabnya.

“Akan tetapi, Kalam Allah itu lebih besar lagi,” jawab Rasulullah Saw.

Setelah itu, Rasulullah Saw memerintahkan agar Tsalabah dibawa kerumahnya. Namun setelah sampai dirumah, Tsalabah ra jatuh sakit, hingga akhirnya Rasulullah Saw yang mendengar kabar sakitnya Tsalabah ra menjenguknya. Tsalabah ra masih malu karena rasa bersalahnya selalu menggeser kepalanya dari pangkuan Rasulullah Saw.

“Mengapakamu geser kepalamu dari pangkuanku?,” tanya Rasulullah Saw.

“Karena kepala ini penuh dosa,” jawab Tsalabah ra.

“Apa yg kamu keluhkan?,” tanya Nabi Saw kepadanya.

“Seperti ada gerumutan semut-semut di antara tulangku, dagingku, dan kulitku,”jawab Tsalabah ra.

“Apa yang kamu inginkan?,” tanya Nabi Saw.

“Ampunan Rabbku,” jawabnya.

Kemudian turunlah Jibril as kpd Nabi Saw dengan membawa wahyu dr Allah Swt,
“Andai kata hamba-Ku ini meghadap-Ku dengan kesalahannya sepenuh bumi, Aku akan
menyambutnya dengan ampunan-Ku sepenuh bumi pula.”

Nabi Saw menyampaikan wahyu tersebut kepada Tsalabah ra, dan seketika ia terpekik dan meninggal. Maka Rasulullah Saw memerintahkan agar ia segera dimandikan dan dikafani. Ketika selesai menyalatinya, beliau Saw berjalan sambil berjingkat.

Salah seorang sahabat menanyakan mengapa Rasulullah Saw berjalan sambil berjingkat sepertiitu. “Demi Dzat yang telah mengutusku dengan benar sebagai Nabi, sungguhaku tidak mampu meletakkan kakiku di atas bumi, karena malaikat yang turut melayat Tsalabah sangat lah banyak,” jawab Rasulullah Saw.

Sahabat, mungkin kita sudah sering mendengar kisah tentang Ts’labahini. Kisah Tsalabah ra, seorang sahabat yang mulia, memberikan kita beberapahikmah. Ada keagungan dalam sikap Tsalabah ra dalam menyikapi rasa bersalahnya.Kesalahan Tsalabah ra mungkin dianggap merupakan sebuah kesalahan yang sepele untuk kita, namun tidak untuk seorang Tsalabah ra. Yang dianggap sebagai dosa besar bagi Tsalabah adalah SECARATIDAK SENGAJA melihat seorang wanita yang sedang mandi. Ketidaksengajaan inilah yang memicu penyesalan dan taubat dari Tsalabah ra. Sedemikian mulia akhlakTsalabah. Wajar Allah menerima taubatnya. Karena Allah SWT  mencintai hambanya yang bertaubat. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)

Coba kita renungkan perjalanan taubatnya Tsalabah ra.Langkah pertama adalah ketakutan akan kuasa Allh Swt. Rasa takut akan kuasaAllah Swt mencerminkan betapa Tsalabah ra adalah manusia yang ihsan, dimana ia tahu dan yakin walaupun tidak ada seorang pun yang bersamanya saat itu, namun Allah Swt ada dan mengetahui apa yang dilakukannya. Takutnya Tsalabah ra akanazab Allah Swt atasnya segera menuntunnya ke langkah selanjutnya, yaitu penyesalan.

Penyesalan yang penuh dengan sujud dan tangis selama 40hari. Hingga Allah Swt menunjukkan Kasih-Nya dengan mengirim Jibril as untukmengabarkan mengenai Tsalabah ra yang berada di atas pegunungan, ditempatnyasedang bertobat. Bahkan setelah dijemput, Tsalabah ra masih dalam nuansa penyesalan dan takut yang membuatnya pingsan ketika mendengar ayat Allah yang dibacakan oleh Rasulullah Saw dalam shalatnya. Penyesalan yang kemudian menyebabkan sakitnya Tsalabah ra, hingga Allah Swt menegaskan keagungan-Nya dan ampunan-Nya kepada Tsalabah ra.

Tahap terakhir adalah ampunan Allah Swt atas Tsalabah ra. Sangat terlihat betapa Allah Swt mencintai hamba-hamba-Nya yang bertobat dan kembali kepada-Nya. Jika seorang hamba sudah bertobat dan datang kepada Allah membawa kesalahan seisidunia, maka akan disambut-Nya dengan ampunan seisi dunia pula.

Pelajaran penting dari kisah ini bagikita adalah sekecil apapun dosa harus menjadi bahan penyesalan dan ketakutankita pada Allah. Kalau ‘terlihat’ aurat saja begitu rupa taubat Tsa’labah. Bagaimana dengan kita? Perisai ummat dan pelaksana syariat yakni Khilafah dibubarkan. Dam pun jebol. Pornografi dan Porno aksi dimana-mana. Kemaksiatan merajalela. Riba, kini jadi sendi ekonomi masyarakat dan negara. Zina, khamr dan narkoba jadi ajang bisnis yang terang benderang. Rakyat miskin, pejabat korupasi. Pengusa berkhianat menjual asset rakyat pada para kapitalis asing. Jutaan umat Islam dibantai di Irak,Palestina dan afghanistan. Alqur’an dikencingi tentara Amerika. Nabi dihinakandi Eropa….sementara kita hanya mengelus dada. Maka bubarnya khilafah adalah induknya dosa, induknya kejahatan (ummul jaro’im).

Bagaimana taubatnya? Tidak ada jalan lain  kecuali Bersungguh-sungguhmeneladani Rasulullah dan para sahabat. Menegakkan Islam secara paripurna .Dengan Institusi negara Madinah, Rasulullah menjadikan aqidah jadi landasan, syariat Islam diterapkan, maksiat dihilangkan, dakwah Islam digelorakan.

Allahu Akbar…

Categories