Tembok Rafah vs Benteng Konstantinopel

MUSTANIR.net – Tembok Rafah yang memisahkan Gaza dengan Mesir tidak lebih tebal dari benteng Konstantinopel yang dijebol al-Fatih.

Tembok itu menjadikan warga Gaza bak burung dalam sangkar. Tapi burung masih dikasih makan. Sementara warga gaza?

Bom terus dijatuhkan. Sehingga tampak nyata bahwa ini pembantaian terbesar sepanjang sejarah manusia.

Dengan teknologi terkini, sesungguhnya mudah menjebol benteng Rafah. Tak perlu bikin meriam raksasa sepert al-Fatih kala itu. Cukup gerakkan sebuah eskavator!

Namun mengapa tidak dilakukan? Bagi penduduk Gaza, tentu tak mudah. Tapi bagi pemerintah Mesir? Mestinya mudah sekali.

Sungguh, rahasia kekuatan tembok Rafah bukan pada bahan, ketebalan, atau ketinggiannya.

Tembok yang memisahkan muslimin Gaza dan muslimin Mesir sesungguhnya bukan tembok fisik itu. Tetapi tembok nasionalisme.

Tembok nasionalisme telah menempatkan derita muslimin Gaza sebagai derita orang lain. Persetan soal ukhuwah Islamiah.

Di Indonesia juga serupa. Saat sebagian muslimin turun ke jalan aksi bela Palestina, ada saja mantra sihir nasionalisme yang diujarkan: “Saudara sebangsa masih banyak yang susah, ngapain ngurusi bangsa lain?”

Padahal Rasul ﷺ kala itu ditugaskan merobohkan sentimen kebangsaan, kemudian diganti dengan akal sehat ketakwaan.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (TQS al-Hujurat 49: 13)

Ikatan ketakwaan lebih mulia dari ikatan kebangsaan. Itulah ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Namun para pengkhianat lebih memilih ikatan nasionalisme ketimbang ikatan aqidah.

Sehingga saudara muslim Gaza dibantai, mereka di sekitarnya menyaksikan sembari membanggakan nation-nya masing-masing.

Sumber: Doni Riw

About Author

Categories