Terorisme dan Proyek BNPT Akhir Tahun

terorisme

Terorisme dan Proyek BNPT Akhir Tahun

Mustanir.com – Pemerhati Kontra-terorisme, Harits Abu Ulya mengatakan, penangkapan enam orang tertuduh teroris secara serentak pada Sabtu, (19/12) merupakan proyek akhir tahun.

“Ini akan diulangi terus menerus selama dana ada dan proyek ini ada,” katanya saat dihubungi Kiblat.net pada Senin (21/12).

Lanjutnya, aparat tidak peduli dengan soal kebenaran. Sesuka hati menetapkan orang pada posisi terduga. Kemudian ditangkap sesuai moment yang diinginkan. Jika mereka diduga bisa membuat bom, kata Harits, agar publik percaya seharusnya Densus suruh tunjukkan terduga teroris itu di hadapan publik. Kemudian, para terduga suruh rakit bom seperti yang dituduhkan lalu diledakkan.

“Pembuktian terbalik, apakah benar mereka bisa buat bom untuk terorisme. Biar publik tahu bahwa ini bukan narasi semprul karena proyek asing melalui aparat lokal Indonesia,” tegasnya.

Sambung Haris, tidak bisa dipungkiri bahwa penindakan dalam isu terorisme tidak steril dari motif politik asing dan kepentingan politik opurtunis kalangan lokal Indonesia.

“Dan sebagai catatan penting, penindakan hukum dalam isu terorisme di Indonesia adalah titik puncak potret penguapan keadilan dan transparasi,” tandas Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA).

Sekedar diketahui, Densus 88 menangkap sejumlah orang di perbatasan Tasikmalaya dan Cilacap, Sukoharjo, dan Mojokerto.

Di antara yang ditangkap di Sukoharjo adalah bernama Abu Karim. Dia ditangkap di rumah Pardi Cipto Wiyono di Dukuh Sepat 02/03 Desa Bulu, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Sementara, yang ditangkap di Mojokerto adalah Indraji Idham Wijaya sekeluarga. Dia ditangkap di Jalan Empu Nala, Mojokerto. Indraji berasal dari Banyumas, Jawa Tengah.

Karim ditangkap karena dituduh ikut menyembunyikan seorang calon pengebom yang telah ditangkap. (kiblat/adj)

Categories