Tujuan Perjuangan Umat adalah Agar Syariat Islam Sampai pada Tampuk Kekuasaan

MUSTANIR.net – Apa parameter perjuangan umat? Apa ukuran kesuksesan dalam perjuangan?

Perjuangan umat baru dinilai sukses kala Islam sampai pada tampuk kekuasaan. Yakni, syariat Allah ﷻ yang mulia ini dapat diterapkan oleh penguasa (pemerintahan) dan mengatur seluruh rakyat. Jadi, parameternya bukan mengantarkan seseorang menjadi presiden, gubernur, walikota, atau anggota DPR, namun syariat Islam justru dipunggungi, dijauhkan dari kekuasaan.

Dan perjuangan umat untuk menegakkan Islam dengan kekuasaan, tujuannya untuk kebaikan seluruh rakyat. Bukan hanya untuk umat Islam, melainkan juga untuk non Muslim. Karena syariat yang mulia ini telah diamanahkan melalui Baginda yang Mulia, Muhammad ﷺ, sebagai rahmat untuk semesta alam. Bukan hanya rahmat untuk umat Islam. Allah ﷻ berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ …

“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam” [QS al-Ambiya: 107]

Ayat ini menegaskan bahwa risalah Islam diturunkan untuk kebaikan seluruh umat manusia. Syariat Islam bukan hanya aturan bagi umat Islam, melainkan juga ahludz dzimmah (non Muslim yang tunduk pada kekuasaan Islam).

Saat syariat Islam mengelola kekayaan alam, berupa aneka tambang melimpah yang terkategori milik umum (al-milkiyatul ammah), maka manfaat tambang itu semuanya untuk kesejahteraan rakyat Muslim maupun non Muslim (ahludz dzimmah).

Namun, realitasnya saat ini tambang diatur dan dikelola dengan sistem kapitalisme sekuler, sehingga tambang yang melimpah di negeri ini, berupa batu bara, nikel, timah, emas, minyak, gas, dan lain-lain, semua dikuasai oligarki dan korporasi asing. Yang kaya raya dari tambang batu bara hanya Luhut Penjaitan, Low Tuck Kwong, dan taipan batu bara lainnya. Sementara mayoritas rakyat Muslim maupun non Muslim menderita, hanya kebagian kerusakan lingkungan dampak dari penambangan.

Negara (pemerintah) karena menerapkan kapitalisme sekuler menjadi zalim pada rakyatnya sendiri (Muslim maupun non Muslim). Kekayaan alam dan tambang yang melimpah diserahkan kepada oligarki, sementara kebutuhan untuk mengelola pemerintahan dilakukan dengan menarik pajak yang membebani rakyat.

Pajak ditarik dari seluruh rakyat, Muslim maupun non Muslim, kaya maupun miskin. Seluruh rakyat dibebani pajak, sementara oligarki dilayani dengan kebijakan, diberi karpet merah untuk bancakan aneka tambang. Padahal, penguasa haram menarik pajak. Sebab, Rasulullah ﷺ telah bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang memungut pajak” [HR Ahmad no. 17311, Abu Dawud no. 2937]

Seluruh pajak yang ditarik dari rakyat, PPH (pajak penghasilan) maupun PPN (pajak barang), hakikatnya adalah kezaliman kepada rakyat. Negara telah memungut harta dari rakyat tanpa izin syar’i.

Perintah syariat bukan menarik pajak. Akan tetapi mengelola aneka tambang untuk menyejahterakan rakyat. Bukan malah menarik pajak dan melayani kepentingan oligarki.

Itulah sistem sekuler yang merusak. Umat ini butuh kekuasaan untuk menerapkan Islam. Kekuasaan untuk menegakkan hudud, qisos, diyat, ta’jier, dan mukhalafah. Kekuasaan yang mengemban risalah dakwah Islam, dan mengumandangkan jihad untuk menegakkan kalimat Islam.

Karena itu, arah perjuangan umat harus fokus pada sampainya syariat Islam pada tampuk kekuasaan. Bukan sekadar menjadikan si fulan dan si fulanah menjadi penguasa namun menelantarkan syariah Allah yang mulia.

Dan parameter sampainya syariat Islam ke tampuk kekuasaan adalah saat khilafah tegak. Sebab, hanya khilafah yang ditunjuk oleh syar’i sebagai institusi penerap syari’at Islam secara kaffah, yang dipimpin oleh seorang khalifah.

Misi tegaknya khilafah adalah misi umat Islam. Bukan hanya perjuangan saudara-saudara kita di HTI. Meskipun harus kita akui bahwa saudara-saudara kita di HTI adalah entitas yang selama ini selalu konsisten dengan solusi syariah Islam dan teguh mengemban misi melanjutkan kehidupan Islam melalui penegakan kembali daulah khilafah. []

Sumber: AK Channel

About Author

Categories