Zona Abu-Abu itu Bernama Islam Moderat Bagian 2

foto: globalmuslim


MUSTANIR.COM, Dalam buku Moderasi Islam yang ditulis oleh Dr. Muchlis M Hanafi, disebutkan bahwa ciri/karakter Islam moderat yaitu menerima perbedaan, memberikan kemudahan kepada orang lain dalam beragama dalam hal ini Islam harus mau toleransi dan menghargai agama diluar Islam, terbuka dengan dunia luar, mengedepankan dialog dan bersikap toleran.

Robert Spencer – “Analis Islam terkemuka di AS – menyebut kriteria seseorang yang dianggap sebagai muslim moderat antara lain: menolak pemberlakuan hukum Islam kepada non muslim; meninggalkan keinginan untuk menggantikan konstitusi dengan hukum Islam; menolak supremasi Islam atas agama lain; menolak aturan bahwa seorang muslim yang beralih pada agama lain (murtad) harus dibunuh; mendorong kaum muslim untuk menghilangkan larangan nikah beda agama dan lain-lain.” (voa-Islam.com)

Sehingga Islam moderat menjadi zona abu-abu bagi Islam itu sendiri. Sederhananya, mengambil aturan Islam yang mudah dan amannya saja. Tanpa melihat aspek Islam secara menyeluruh. Islam dan politik dipisahkan sebab ketika Islam disandingkan dengan ranah politik maka banyak yang dilarang dalam Islam seperti memakai hukum thagut buatan manusia yang mengatur kehidupan manusia. Aturan Islam dikompromikan sekalipun itu membawa mudharat dan melanggar hukum syara’.

Islam yang lurus adalah Islam yang bersumber langsung dari Al-Quran dan As-Sunnah seperti yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Bukan Islam yang telah terkontaminasi dengan ide-ide Barat yang ingin memisahkan Islam dari kehidupan. Sebagai seorang Muslim tentunya apa yang menjadi perintah Allah kita mengupayakan memenuhinya dan meninggalkan apa yang telah Allah larang. Bukan malah tawar menawar dengan hukum yang telah jelas halal-haramnya dalam Islam.

Maka mencampur adukkan Islam yang murni kesuciannya dari Allah dengan Islam moderat buatan penjajah adalah hal yang terlarang dalam Islam. Allah pun telah berfirman dalam Al-Quran “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” [TQS.Al-Baqarah : 208].

Jadi, sebagai seorang Muslim yang mengakui Allah sebagai Tuhan nya maka harus pula mengakui keberadaan Allah sebagai al-Mudabbir yakni hanya Allah satu-satunya yang berhak mengatur segala urusan manusia tak hanya dalam tataran ibadah mahdah saja (shalat, puasa, zakat dan haji) namun ekonomi, pendikan, muamalah, sistem sanksi dan politik harus mau diatur oleh Islam. Hingga Islam tidak hanya menjadi agama KTP saja namun Islam menjadi asas kehidupan seorang Muslim. Inilah konsekuensi keimanan seseorang yang menjadikan dirinya rela atas segala aturan Allah sebagai aturan yang mengatur dirinya untuk kebaikan hidup didunia maupun di akhirat kelak.

Umat Islam harus menyadari bahwa agama (Islam) tak boleh dipisahkan dari politik. banyak sekali ajaran Islam yang menjelaskan bagaimana semestinya menata politik hingga bisa terwujud rahmatan lil alamin. Di sisi lain, umat Islam harus jeli melihatnya bobroknya sistem politik saat ini yang menjadikan aturan adalah aturan yang transaksional sehingga aturan yang dibuat oleh penguasa tidak lagi murni dari aspirasi rakyat namun aspirasi dari “tuannya”.

Islam rahmatan lil ‘alamin hanya akan terwujud dengan diterapkannya aturan Islam secara menyeluruh dan paripurna. Bukan lagi memilah dan memilih aturan mana yang cocok dan tidak cocok yang mana mengikuti hawa nafsu manusia.

Padahal Islam yang rahmat sebagai seluruh alam ini menjadikan keridhoan Allah sebagai tujuan sehingga terciptalah baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Wallahu ‘alam bishowab []

Oleh : Nurhayati, S.S.T (Anggota Muslimah Media Kendari)

Categories