Siapa Saja Yang Bertanggung Jawab Terhadap Pendidikan Generasi Islam?

Siapa Saja Yang Bertanggung Jawab Terhadap Pendidikan Generasi Islam?

Mustanir.com – Pendidikan generasi pada dasarnya menjadi tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan pemerintah (negara). Di Indonesia pada faktanya terjadi pembagian tugas untuk masing – masing pihak tersebut diatas.

Keluarga berdasarkan UU No.2/1989 Pasal 10 ayat 4, terbebani untuk menyelenggarakan pendidikan dalam keluarga yang terkategori pendidikan luar sekolah, dan bertugas untuk memberikan keyakinan agama, nilai moral, dan keterampilan.

Sedangkan masyarakat diminta untuk mendukung penanaman nilai moral, dunia usaha, dan orang-orang yang memiliki kemampuan diminta untuk memberikan beasiswa. Selintas pengaturan yang dilakukan negara melalui UU seolah-olah dah cukup menyeluruh untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.

Namun ada ketidak-jelasan peran negara dalam pelaksanaan tanggung jawabnya, sehingga tanggung jawab yang terbagi pada pihak negara, orang tua,dan masyarakat yang dalam pelaksanaannya justru sering saling melempar tanggung jawab. Bahkan tuk hal-hal yang bersifat pencapaian nilai nonfisik tersebut, negara menyerahkan tanggung jawabnya dalam penyelenggaraan pendidikan generasi termasuk pembiayaannya kepada masyarakat dan tak pernah tertangani seperti yang seharusnya.

Keluarga sebagai wadah pertama yang memberikan kontribusi besar dalam pendidikan generasi pada faktanya banyak sekali yang tidak menyadari betapa pentingnya peran mereka. Mungkin sebagian mereka memiliki tujuan melahirkan generasi berkualitas akan tetapi tidak punya suatu pola yang baku yang selaras dengan tujuan mereka sehingga lahirlah generasi – generasi yang tidak sesuai dengan apa yang mereka cita – citakan.

Misalnya saja orang tua mana yang menginginkan anaknya terjebak narkoba , tawuran, kenakalan remaja dan lain-lain. Akan tetapi kenapa mereka tidak selektif terhadap tontonan anak yang diduga sebagai pemicu terjadinya hal-hal diatas?

Kenapa orang tua tidak melarang pacaran atau pergaulan bebas anak-anaknya kalau mereka tidak ingin anaknya terjebak dengan pergaulan yang salah atau bahkan sampai hamil di luar nikah. Mengapa begitu sulitnya menyuruh sang anak memakai kerudung dan jilbab.

Mengapa begitu sulitnya orang tua ketika menyuruh sang anak agar mau shalat atau puasa padahal dia sudah baligh?

Keterlibatan masyarakat dalam penanganan generasi dalam bentuk mendirikan yayasan atau lembaga-lembaga pendidikan, pemberian beasiswa ataupun orang tua asuh pun tidak menjamin pemerataan pendidikan bagi semua kalangan dan menghasilkan produk pendidikan seperti yang diharapkan.

Pengaruh berkembangnya ide materialisme yang telah menyentuh setiap aspek kehidupan termasuk pendidikan membuat masyarakat (swasta) yang melibatkan diri dalam pendirian sekolah-sekolah swasta justru melakukan komersialisasi.

Mahalnya biaya pendidikan yang seharusnya dtutupi oleh besarnya anggaran pemerintah untuk bidang pendidikan warga negaranya sebagaimana yang tercantum di dalam UU dapat tercapai.

Dan kemana kekayaan kita yang melimpah ruah itu?

Di dalam agama Islam, pendidikan generasi merupakan sbuah upaya pembinaan terhadap potensi yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia yaitu berupa akal dan hati agar bisa mencapai derajat paling mulia diantara seluruh makhluk ciptaan Allah. Islam sangat menekan- kan anjuran mencari ilmu untuk mencapai derajat iman yang lebih tinggi dan memudahkan jalan meraih surga.

Sebagaimana dalam sabda Rasul :

“Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah memudahkan baginya jalan ke surga” (H.R. Muslim)

Begitu penting pendidikan generasi bagi keberlangsungan kehidupan manusia, sehingga Islam membebankan pendidikan generasi tidak hanya pada proses belajar di sekolah-sekolah Lebih dari itu, Islam menyerahkan tanggung jawab pendidikan generasi secara komprehensif kepada keluarga, masyarakat, dan negara.

Pertama, tanggung jawab keluarga dalam pendidikan generasi.

Dalam pandangan Islam,keluarga mrupakan madrasah pertama bagi anak-anak. Keluarga- lah yang memiliki andil besar dalam mengenalkan dan menanamkan prinsip-prinsip keimanan. Keluarga pula yang punya kesempatan besar membentuk aqliyah dan nafsiyah yang Islami. Pendek kata, keluarga merupakan cermin keteladanan bagi generasi baru. Oleh karena itu, perhatian keluarga terhadap pendidikan generasi menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk generasi berkualitas.

Rasulullah SAW bersabda :
“Setiap anak dilahirkan atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak Itu beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (H.R. Bukhori)

Secara umum tanggung jawab keluarga dalam pendidikan generasi anak adalah pertama, menanamkan keimanan yang kokoh sebagai dasar bagi anak tuk menjalani aktivitas hidupnya.

Hal ini seperti pengajaran Lukmanul Hakim pada anaknya dalam Al-Qur’an :

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran sekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S. Luqman[31] : 13)

Kedua, mengantarkan dan mendampingi anak meraih dan mengamalkan ilmu setinggi- tingginya dalam koridor taqwa. Pengkajian terhadap tsaqofah Islam merupakan prioritas bagi pendidikan anak, sebab hal ini akan mengantarkan anak menjadi faqih fid Diin. Bila orang tua tidak mampu mengajarkannya sendiri, maka orang tua harus mencarikan jalan agar anaknya dapat mendalami tsaqofah Islam. Pendalaman dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan umum apapun semata-mata karena dorongan keimanannya. Sehingga usaha tuk menguasai dan mengembangkan ilmu bukan atas dasar imbalan materi yang akan didapatkan di masa depan, tetapi diutamakan pengalamannya mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia dan pahala serta kemuliaan bagi dirinya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam pendidikan anak-anak adalah sebagai berikut.

1. Masa pendidikan bagi anak dalam keluarga adalah sejak dari dalam kandungan hingga usia baligh bagi anak laki-laki, dan hingga menikah bagi anak perempuan. Kehadiran calon anak dalam rahim seorang ibu menandakan dmulainya hubungan antara si janin dengan orang tuanya, terutama si ibu. Pada saat itu ibu harus memberi perhatian terhadap kebutuhan kesehatan, ketenangan, kenyamanan, kasih sayang dan komunikasi yang aktif.

Perhatian dan komunikasi semasa dalam kandungan akan berpengaruh ter- hadap kedekatan hubungan anak dengan ibunya ketika lahir kelak. Seorang ibu yang menginginkan anaknya kelak menjadi anak yang shaleh dan pejuang Islam, tentu harus mempersiapkannya sejak dalam kandungan, dengan memperdengarkan ayat – ayat Al-Qur’an, mendo’akannya, membawanya dalam aktivitas – aktivitas kajian Islam dan dakwah.

Demikian juga ketika mereka telah lahir, di usia balita,balita hingga menjelang baligh, harus terus-menerus ditanamkan prinsip-prinsip keimanan, dilatih dan dibiasa- kan dengan berbagai kewajiban agama.

2. Orang tua harus benar – benar memperhatikan hak – hak anak sebagai wujud pertanggungjawabannya terhadap amanah yang diberikan Allah. Diantara hak – hak anak adalah : diberikan nama yang baik, dikenalkan pada keimanan, diberikan kebutuhan makan, sandang, papan, kesehatan, keamanan, dan pendidikan generasi yang layak.

Orang tua harus memperhatikan kebutuhan dasar manusia (hajatul udlwiyah) dan juga Kebutuhan nalurinya (ghorizah tadayyun, baqo’ dan nau’). Semua itu dilakukan agar anak mendapatkan sebuah lingkungan keluarga yang sehat yang mendukung tumbuh- nya anak menjadi generasi yang berkualitas.

3. Pendidikan, pelatihan, dan pembinaan anak oleh orang tua harus berorientasi pada mandirinya anak di usia baligh. Karena dalam Islam, seseorang yang telah mencapai usia baligh sudah terkena beban hukum (mukallaf) dan harus mempertanggungjawabkan sendiri perbuatannya di hadapan Allah SWT.

Oleh karena itu, para orang tua harus menyadari bahwa pembekalan anak sebelum mencapai usia baligh, tidak cukup hanya dengan mandirinya anak dalam makan,mandi, pakai baju, shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an.

Lebih dari itu, semua amal yang baik yang bersifat pribadi maupun kolektif dan amal sunah sudah harus dikenalkan, dibiasakan, didampingi,dan dikontrol. Seperti kewajiban menutup aurat, menjaga pandangan, menjaga pergaulan antara laki – laki dan perempuan, menjaga shilah ukhuwah, memperbanyak shalat malam dan puasa sunah, dakwah, dan lain-lain.

4. Orang tua harus memahami bahwa pola pendidikan generasi yang harus diberikan Kepada anaknya harus disesuaikan dengan tujuan pendidikan generasi dalam Islam, yaitu tuk mencetak sosok yang berkepribadian Islam (Syakhshiyah Islamiyah). Artinya, aqidah Islam menjadi dasar bagi pola berpikir(aqliyah) dan pola bersikapnya(nafsiyah).

Pembinaan dan keteladanan orang tua dalam keluarga sangat menentukan. Bila orang tua menginginkan anaknya memilki kepribadian Islam yang kuat, maka orang tua harus berusaha keras memberi contoh pertama, agar anak tak rancu memahami perbedaan perilaku dan sikap orang tua dengan Islam yang dikajinya.

Demikian pula pendidikan generasi yang dipilihkan di luar, seharusny a yang sejalan dengan aqidah Islam, bukan pendidikan generasi-generasi sekuler-kapitalis.

Kedua, tanggung jawab masyarakat dalam pendidikan generasi.

Pendidikan generasi adalah aktivitas sepanjang hayat. Setiap Muslim menyadari bahwa aktivitas mencari ilmu dalam Islam tidak saja semasa di sekolah, tetapi dari dalam kandungan hingga masuk liang kubur. Oleh karena itu, gambaran pendidikan generasi dalam masyarakat Islam tak hanya terbatas pada pendidikan generasi formal (sekolah-sekolah) , tapi pendidikan nonformal di tengah masyarakat juga marak. Hal itu bisa terwujud bila masyarakat menyadari bahwa aktivitas menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu merupakan sesuatu yang wajib dalam Islam.

Pengadaan kajian-kajian tsaqofah Islam maupun ilmu pengetahuan umum serta fasilitas dan sarana penunjangnya tidak saja dibuat oleh negara, tetapi juga oleh masyarakat dengan tidak berorientasi bisnis seperti sekarang.

Ada beberapa bentuk peran masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan generasi, diantaranya : Pertama, masyarakat berperan mengontrol penyelenggaraan pendidikan oleh negara.

Apabila masyarakat menemukan penyimpangan – penyimpangan, misalnya adanya pungutan-pungutan liar, pemotongan gaji guru secara tak wajar, komersialisasi sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya, maka masyarakat harus melaporkan kepada negara.

Dengan kontrol yang kuat dari masyarakat,maka penyelenggaraan pendidikan dapat diterapkan secara sempurna, dan menutup celah-celah penyimpangan yang mungkin terjadi. Untuk dapat melakukan kontrol dengan baik, masyarakat harus mengetahui secara gamblang apa saja yang menjadi hak-haknya.

Kedua, masyarakat diperbolehkan mendirikan sekolah-sekolah swasta, tapi kurikulumnya harus sama dengan yang ditetapkan negara, serta memenuhi aturan-aturan yang ditetapkan negara, seperti guru harus beragama Islam, tak mengajarkan tsaqofah yang bertentangan dengan Islam, dan sebagainya. Apabila melanggar, sekolah swasta dapat diberi sanksi atau dicabut izin operasinya.

Jadi masyarakat memiliki kewajiban tuk mengontrol jalannya penylenggaraan pendidikan generasi oleh negara maupun swasta. Apabila dalam penyelenggaraan pendidikan generasi oleh negara menyimpang dari tujuan dan metode pendidikan generasi Islam, masyarakatlah yang menjadi motor utama mengoreksi dan meluruskan penyimpangan itu. Demikian pula bila terjadi aktivitas pendidikan generasi di tengah masyarakat yang bertentangan dengan Islam, maka masyarakat wajib melaporkan kepada negara dan menuntut agar negara menjatuhkan sanksi.

Ketiga, tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan generasi oleh negara Negara (dalam perspektif Islam disebut Daulah Khilafah Islamiyah) merupakan institusi yang paling bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan generasi yang berasas- kan pada aqidah Islam.

Untuk bisa mencapai tujuan pendidikan generasi dalam Islam, maka negara harus membuat aturan-aturan dalam penyelenggaraan pendidikan generasi, diantaranya :

1. Menyusun kurikulum yang sama bagi seluruh sekolah, baik sekolah negeri maupun swasta, dengan menjadikan aqidah Islam sebagai landasannya.

Ini berarti tsaqofah- tsaqofah yang bertentangan dengan aqidah Islam, misalnya teori ekonomi yang berpokok pada suku bunga, teori evolusi Darwin dalam biologi, filsafat dan lain-lain, tidak diajarkan pada siswa sekolah menengah ke bawah.

Pada perguruan tinggi, tsaqofah- tsaqofah semacam ini diperbolehkan tuk dipelajari setelah aqidah dan tsaqofah islami mahasiswa cukup kuat dan tujuan mempelajarinya semata-mata untuk mengetahui kesalahan dan membuat kritik atasnya.

Sedangkan sains yang bersifat umum diajarkan kepada siswa tuk membentuk penguasaan teknologi. Contoh sains adalah matematika, fisika, kimia, biologi, astronomi, dan sebagainya.

2. Negara melakukan seleksi yang ketat terhadap calon – calon guru.

Pemilihan guru didasarkan pada ketinggian syakhshiyah Islamiyah dan kapabilitasnya dalam mengajar. Pendidikan dalam Islam bukanlah semata-mata hanya tuk transfer ilmu,tapi juga unsur keteladanan dari guru sangat diperhatikan.

3. Menu pendidikan yang akan disajikan dalam pengajaran di sekolah-sekolah harus berpegang pada prinsip Al Fikru lil Amal (pemikiran yang diajarkan tuk diamalkan). Artinya, penyusunan materi pelajaran di sekolah jangan sampai hanya teori belaka atau sesuatu yang tidak berpengaruh terhadap amal siswa.

Seperti teori Darwin tentang asal-usul manusia, hal itu tidak hanya tidak berhubungan dengan amal siswa, tetapi juga jelas–jelas bertentangan dengan aqidah Islam. Materi pelajaran harus disesuaikan dengan amal apa yang bisa dilakukan oleh peserta didik pada jenjang pendidikan generasi tertentu.

Dengan mengacu pada prinsip diatas,maka dalam sistem pendidikan generasi Islam, pelajaran aqidah Islam dan tsaqofah Islam menjadi menu utama dalam semua level pendidikan generasi. Hal ini akan sangat berpengaruh kepada amal siswa yang berkaitan dengan status dia sebagai seorang muslim.

Materi-materi agama yang diperolehnya tidak sekedar menjadi pengetahuan belaka, tetapi sebagai acuan untuk bersikap dan berperilaku berdasarkan pada aqidah Islam. Sementara mata pelajaran umum yang diajarkan sesuai kebutuhan pada tiap jenjang pendidikan generasi.

Alangkah sia-sianya pelajaran logaritma/aritmatika yang begitu rumit diajarkan pada anak SMP, sementara mereka belum tentu menjadi ahli matematika semuanya. Materi-materi dasar yang dibutuhkan untuk aktivitas kehidupan siswa memang perlu diberikan, tetapi tidak harus sampai pada teori-teori yang tidak dapat dipraktekkan.

4. Makna pendidikan dalam Islam adalah pendidikan sepanjang hayat.

Artinya, tak boleh ada pembatasan usia dan lamanya belajar. Usia masuk pendidikan dasar memang harus dibatasi, yaitu sekitar 6-9 tahun, saat anak mencapai kematangan dalam pertumbuhan otak sehingga sudah siap untuk diajar membaca dan berhitung,namun setelah itu tidak boleh pembatasan usia. Sampai menjelang ajal pun, menuntu ilmu adalah wajib. Oleh karena itu, negara mempunyai kewajiban menciptakan lingkungan yang kondusif dengan menyediakan fasilitas belajar mengajar yang memadai tanpa memungut biaya dari pelajar. Itulah prinsip-prinsip pendidikan yang harus dijalankan dan diatur oleh negara.

Tanpa ada negara yang menerapkan dan mengatur,maka sistem pendidikan Islam hanyalah suatu utopia. Negara yang dapat menerapkan sistem pendidikan yang sempurna ini adalah Daulah Khilafah Islamiyah (negara yang berasas Islam,menerapkan syariat Islam secara utuh dan menyeluruh). Karena pelaksanaan sistem pendidikan Islam terkait dengan banyak kebijakan di bidang lain. Bidang ekonomi misalnya, hanya sistem ekonomi Islam yang dapat menjamin tersedianya biaya – biaya besar dalam penyelenggaraan pendidikan, pengajian guru dan tanpa memungut dari siswa ataupun orang tua siswa sepeserpun untuk dana pendidikan.

Begitulah bagaimana Islam memandang adanya 3 pihak yang saling bekerja sama dalam pembangunan generasi muslim. (SUMBER)

Categories