Aspek Ruhiyah dalam Amal

Aspek Ruhiyah dalam Amal

MUSTANIR.COM — Seorang muslim dalam beramal perlu memperhatikan beberapa aspek agar setiap amal yang dilakukan dapat mencapai apa yang hendak ingin dicapainya. Pada hakekatnya seorang muslim menginginkan amalnya diterima dan mendapatkan Ridho Allah. Seorang kafir yang beramal jutaan kali tidak akan dinilai apapun oleh Allah karena standart utama dalam beramal adalah iman. Berbeda halnya dengan seorang muslimin mereka juga perlu memperhatikan syarat-syarat yang pertama adalah ikhlas karena Allah atau mengharap hanya ridho Allah, kedua Ittibaq Rasul atau mengikuti sunnah rusulullah. Yang dimaksud sunnah disini adalah segala amal perbuatan yang dicontohkan oleh baginda rasulullah. Selain itu dalam setiap beramal juga perlu adanya Quwah (dorongan) Ruhiyyah yang menjadi dorongan awal kita dalam beramal, berbeda dengan halnya Quwah Madiyah yang sering menjadi dorongan para kapitalis dengan asas materinya. Atau al Quwah Maknawiyah, dorongan moral semata ini yang menjadi dorongan orang-orang sosialis dengan aspek kemanusiaannya.

    Maka seorang muslim seharusnya tidak memerlukan motivator untuk adanya dorongan dia untuk beramal,karena sudah jelas bahwasannya seorang muslim harus menancapkan dalam dirinya berdasarkan quwah ruhiyah atau mengharap ridho Allah dalam setiap aktivitasnya. Yang perlu itu adalah membangun dan membentuk kesadarannya setiap muslim dalam beramal. Ihsanu amal (proses beramal) juga perlu diperhatikan mengenai hukum benda dan hukum perbuatan. Halal, haram, mandup, makruh, mubah, kelima sifat yang terkandung dalam perbuatan atau benda yang terhukumi setelah ada dalil yang menjatuhinya. Jelas jika haram wajib ditinggalkan, fardhu maka wajib dikerjakan, mandhup disrankan untuk mengerjakan, makruh maka disarankan dijauhi, mubah maka perlu dikaji lagi apakah itu mudhorot atau bermanfaat. Semua dalam hidup ini terikat dengan kelima hukum tersebut baik dalam perbuatan terkecil sekalipun.

    Agar serius dalam beramal dan untuk mencapai tujuannya memerlukan nilai amal perbuatan. Perbuatan amal berdasarkan Qimahnya (nilai), apakah itu madiyah, akhlaqiyah, insaniyah, atau ruhiyah. Banyak orang terpeleset dalam mendudukan kaedah ini, seperti menggunakan dua nilai dalam satu perbuatan seperti qimah madiyah dan ruhiyah. Dalam bekerja contohnya banyak yang mengira tujuannya juga untuk beribadah dan mendapatkan uang. Padahal kaedah awal mengenai dorongan atau Quwah harus sudah selesai pembahasan. Jika individu tersebut dorongan berdasarkan ruhiyah maka pada saat dia bekerja menggunakan Qimah madiyah untuk mendapatkan uangnya. Apakah mau individu tersebut bekerja tidak mendapatkan uang dan mengatakan ikhlas tidak perlu dibayar, biarlah Allah memberikan balasan. Dan pada akhirnya nilai utama dari bekerja guna mendapatkan harta tidak tercapai. Lantas untuk apa bekerja? Sering perihal ini kurang tepat mendudukannya dalam menaruh pencapaian tujuan, karena sebenarnya pembahasan mengenai quwah terlebih dahulu setelah adanya qimah bukan langsung meloncat mengenai pembahasan qimah.

    Dari Tujuan inilah dapat kita klasifikasikan, orang jahiliyah pastilah dia beramal untuk mendapatkan harta dan syahwat, matinya akan masuk neraka. Orang muslim di dunia mereka bertaqwa memperhatikan dan beramal sesuai syariat Islam, dia mengharap ridho Allah dan Allah meridhoinya, mendapatkan ampunan dan masuk ke JannahNya. Seorang muslim juga dalam berbuat tidak langsung menghukumi fakta seperti halnya binatang hingga melahirkan sebuah solusi pragmatis. Namun seorang muslim menggunakan akal sehatnya dalam beramal dengan syariat Allah maka melahirkan amal perbuatan yang shohih.

    Dari semua ini kita dapat menilai bahwasannya dalam hal amal perlu adanya ilmu agar seorang muslim tidak salah dalam beramal. Mempelajari tsaqofah Islam wajib hukumnya, karena beramal memerlukan syarat Ittibaq Rasul jadi secara sederhana beramal perlu mempelajari juga mengenai tata cara beramal dan beribadah sesuai dengan tuntunan Rasul. Berbeda halnya dengan ilmu yang bersifat umum atau uniersal, seperti halnya ilmu matematika, kimia, biology dan lain-lain ini hukumnya fardhu kifayah. Ilmu dan tsaqofah adalah suatu hal yang berbeda tsaqofah yang dimana sekumpulan pengetahuan yang menghukumi fakta mengenai suatu permasalahan atau pandangan hidup yang khas, sedangkan ilmu di dapatkan dari sebuah eksperimen atau penelitian. Pembahasan mengenai ilmu, bahwa ilmu dipelajari untuk diamalkan dan didakwahkan. penuntut ilmu dengan ilmu yang dipelajarinya juga harus mampu menyatukan ummat dalam satu persatuan. (rs)

Fauzi Ihsan Jabir

Categories