Cara Amerika Memerangi Islam dan Mencoba Menghadang Kebangkitan Khilafah

MUSTANIR.net – Presiden Amerika Serikat ke-43, George W Bush, secara eksplisit mengidentifikasi upaya pendirian kembali ‘khilafah Islam global’ sebagai salah satu ancaman strategis utama bagi keamanan Barat. Bush menilai Islam sebagai ‘ideologi ancaman global’ dalam berbagai pidatonya pasca-serangan 11 September 2001.

Meskipun demikian, Bush masih terlihat mencoba membuat dikotomi antara Islam dengan ideologi Islam. Bush, masih bertindak sopan dengan menyatakan Amerika tidak memerangi Islam, melainkan sedang memerangi terorisme.

Hanya saja, umat Islam sudah paham bahwa yang dimaksud ‘war on terrorism’ adalah ‘war on Islam’. Kesimpulan itu mudah dibaca karena seluruh target perang melawan terorisme yang dikobarkan Amerika dan Barat mengarah pada entitas Islam.

Bush ketika itu memperingatkan bahwa para militan Islam bertujuan untuk mendirikan kekhalifahan yang membentang dari Spanyol hingga Indonesia. Ia menggambarkan aspirasi ini sebagai ancaman terhadap kebebasan dan nilai-nilai demokrasi global yang dijunjung oleh Barat.

Bush, mengadopsi Kebijakan Global War on Terror (GWOT), melalui manuver pecah belah dengan slogan dunia menjadi sekutu atau musuh AS (“either you are with us, or you are with the terrorists”).

Berbeda dengan Bush, Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika Serikat (di bawah pemerintahan Donald Trump), karena dia secara terbuka menyatakan perang yang dikobarkan Amerika di Iran tidak secara spesifik memerangi Sunni maupun Syiah, melainkan memerangi Islam.

Hegseth memandang kelompok Islamis yang beraliran Sunni maupun Syiah sebagai ancaman global yang sama bagi AS. Amerika pada saat ini langsung mengumumkan permusuhan terhadap Islam. Tidak lagi berlindung dibalik narasi perang melawan terorisme.

Bush dan Hegseth, merepresentasikan kebijakan Amerika yang memerangi Islam. Hanya saja, Bush lebih terlihat cerdik dan diplomatis menyembunyikan visi utama Amerika sebagai negara berideologi kapitalisme yang memerangi ideologi Islam. Sedangkan Hegseth lebih mewakili sikap arogan dan kecondongan perilaku koboi Amerika yang merasa bisa dan sanggup memerangi Islam secara terbuka.

Di balik ketakutan Amerika dan Barat pada kebangkitan Islam, adalah kembalinya kekhilafahan Islam. Sebab, secara fakta sejarah kekhilafahan Islam terbukti eksis selama 13 abad, memimpin peradaban dunia.

Jika khilafah Islam kembali tegak, maka keadilan Islam akan mengancam keserakahan dan kezaliman ideologi kapitalisme yang dipasarkan Amerika melalui jualan sistem demokrasi. Demokrasi yang sejatinya menempatkan kaum kapital selaku pemilik kedaulatan. Demokrasi yang menjadikan kedaulatan rakyat hanyalah utopia.

Dunia Islam, setelah kekhilafahan Islam diruntuhkan oleh Inggris pada tahun 1924, seluruh wilayah kekhilafahan Islam yang sebelumnya dibagi menjadi wilayah jajahan Inggris dan Prancis, diambil alih Amerika. Hanya sebagian kecil saja yang masih bisa dipertahankan oleh Inggris dan Prancis.

Lalu, Amerika mengambil alih ide penjajahan kapitalisme model usang yang diedarkan inggris dan Prancis, menggantinya dengan penjajahan era baru di bawah panji-panji demokrasi yang melibatkan sejumlah korporasi global Amerika.

Rakyat jajahan diadu domba dengan demokrasi. Pemimpin negara jajahan adalah boneka Amerika yang dijerat dengan berbagai perjanjian dan utang. Sementara kekayaan alam negeri jajahan dieksploitasi oleh korporasi Amerika.

Indonesia adalah contoh negara jajahan Belanda, jajahan Inggris yang diambil alih Belanda, dan akhirnya dikuasai Amerika. Sejak era Soekarno hingga era kini, Indonesia berada di bawah bayang-bayang penjajahan Amerika.

Era Soekarno, blok Peking masih mendominasi hingga Amerika agak kesulitan mengontrol kekuasaan. Pada era Soeharto, Amerika mulai mengontrol penuh penjajahan atas Indonesia. Dan ketika Soeharto mulai ringkih dan tak mampu menopang kekuasaannya, Amerika menjatuhkan Soeharto melalui sejumlah agen yang mengambil alih kekuasaan.

Era reformasi, adalah era terburuk. Diikuti era Jokowi yang menjadikan Indonesia tidak saja menjadi kaveling Amerika, melainkan juga wilayah penjajahan ekonomi China.

Setelah keluar dari doktrin komunisme lama, China mengadopsi komunisme era baru yang mengadaptasi politik ekonomi terbuka. Era di mana China dipimpin secara politik dengan ideologi komunisme, namun secara ekonomi mempraktikkan kapitalisme.

Ekonomi dan industrialisasi China, mewajibkan China mencari wilayah untuk menyuplai bahan baku dan pasar bagi industri China. Indonesia, di era Jokowi telah menjalankan dua peran sekaligus: menyuplai bahan baku industri China, sekaligus menjadikan 285 juta rakyat Indonesia sebagai market besar untuk produk-produk China.

Di era Jokowi, kepentingan Amerika tetap dijaga. Tambang emas dan sejumlah energi yang menjadi kaveling Amerika, tidak diganggu. Freeport bahkan dilayani secara baik oleh Jokowi untuk terus merampok emas Papua, yang kebijakan ini diteruskan oleh Prabowo selaku murid Jokowi.

Sementara China, diberikan kaveling lain yang belum dijarah Amerika. Sektor nikel yang menjadi bahan baku utama kendaraan listrik, menjadi wilayah jajahan China.

Saat ini, Indonesia ibarat negara bagian ke-51 bagi Amerika, sekaligus menjadi salah satu provinsi China di luar daratan China. Hal itu terjadi karena Indonesia sangat tulus dan sempurna melayani penjajahan Amerika dan China, di bawah para penguasa antek.

Di Indonesia, geliat perjuangan khilafah untuk memerdekakan umat Islam dari perbudakan kapitalisme telah tumbuh dan membesar. Hal ini tentu akan mengancam kepentingan penjajahan yang dijalankan oleh China maupun Amerika.

HTI, salah satu ormas Islam yang konsisten menyuarakan khilafah, dicabut badan hukumnya di era pemerintahan Jokowi. Kebijakan ini juga dilanjutkan di era pemerintahan Prabowo.

Era Jokowi maupun Prabowo, keduanya masih di bawah kendali penjajahan Amerika dan China. Saat era Jokowi, Indonesia dibawa lebih condong ke China, sementara era Prabowo Indonesia dibawa ke arah pro Amerika.

Meskipun demikian, penjajahan China dan Amerika dapat hidup rukun berdampingan, merampok kekayaan SDA Indonesia. Rakyat diadu domba dengan politik pemilu 5 tahunan, bahkan belum pemilu juga sudah dipecah belah dengan narasi kontestasi.

Seluruh penguasa hasil pemilu konsisten menindas rakyat dan melayani Amerika dan China. Rakyat dicekik dengan pungutan pajak, sementara SDA Indonesia dinikmati oleh korporasi domestik maupun asing, China maupun Amerika.

Indonesia, sebagaimana Iran, Yaman, Pakistan, dan negeri Muslim lainnya, adalah negeri Islam yang berpotensi menjadi wilayah yang dapat menegakkan khilafah. Amerika tidak akan pernah menoleransi hal itu terjadi.

Sebagaimana Amerika, China juga tak akan membuka celah sedikit pun bagi kemungkinan tegaknya khilafah di Iran, Yaman, Pakistan, maupun di Indonesia.

Karena itu, meskipun China, Rusia, berbeda pandangan dan berkonfrontasi dengan Amerika dalam banyak hal, tapi mereka kompak dalam satu hal: menghalangi kebangkitan Islam, menghalangi kembalinya khilafah.

Akan tetapi, khilafah adalah janji Allah ﷻ dan kabar gembira dari Rasulullah ﷺ. Khilafah tetap akan tegak meskipun Amerika, Inggris, Prancis, China, Rusia, hingga seluruh dunia bersekutu untuk menghalanginya.

“…Kemudian akan datang khilafah yang mengikuti jejak kenabian.” (Al-Hadits) []

Sumber: AK Channel

About Author

Categories