MUSTANIR.net – Itulah realita yang terjadi di negeri ini. Semua elemen digandeng untuk memenuhi cita-cita para pemilihnya. Dari rakyat biasa, artis, publik figur sampai para ulama. Cap atau legalitas non formal bagaimanapun harus bisa didapatkan untuk mendapatkan dukungan 5 tahunan ini.

Figur ini menjadi sesosok harapan perubahaan yang jauh lebih baik. Yang bisa menghentikan kekuasaan yang dianggap tak pantas bahkan beringas dalam memimpin negeri ini. Dan harapan-harapan itu selalu menjadi garda terdepan dalam imajinasi rakyat untuh membenahi negeri yang sakit ini.

Dahulu Wowo dianggap sosok perubahan yang mampu melawan kerusakan Jokowi. Meski alhasil yang katanya dicurangi. Akhirnya Wowo menepi dan memilih bermesraan dengan klan Wiwi. Kemudian harapan baru muncul dari pemimpin yang sering diperangi, yaitu Mas Anis.

Para ulama pun berkumpul untuk bersinergi dengan harapan jihad membenahi negeri yang sakit ini. Mereka mengumumkan di depan jutaan orang dengan ijtima ulamanya. Dan seluruh umat bersorak tiang diiringi pekikan takbir.

Tapi alhasil apa?

Banyak orang kecewa pada apa yang sudah dipilihnya. Kecewa atas segala perjuangan yang sampai terpecah belah pertemanan bahkan sampai persaudaraan hanya karena beda pilihan.

Figuritas ini masih kental berlangsung di negeri ini. Padahal di sistem kapitalisme/demokrasi ini bagaikan perhelatan sepak bola. Dari pembuat regulasi, lapangan, wasit, aparat bahkan sebagian penonton adalah milik kapitalisme. Jadi, mau siapa pun Presiden FIFA-nya, tetap saja tidak akan bisa mengubah secara fundamental. Karena akar permasalahannya bukan figur.

Ada yang masih ingat dengan statement Pak Maput yang bilang “malaikat masuk demokrasi akan menjadi setan”? Dan fakta itu kita jumpai sampai saat ini. Bagaimana para asatidz/ulama yang memperjuangkan figur perubahan umat sampai anti merapat ke pemerintahan? Akhirnya apa? Setelah ikut merapat, apa masih mikirin umat?

Perubahan yang seharusnya dilakukan adalah mengganti sistem permainannya. Jadi bukan hanya pribadi yang berhijrah, tapi sistem negeri ini juga harus berhijrah. Berhijrah secara kaffah.

Baginda Rasulullah ﷺ sudah mencotohkan bagamana cara menjadikan sistem jahiliyah menjadi sistem Allah subḥānahu wa taʿālā,. Jalan itulah yang seharusnya ditempuh. Bukan dengan jalan lainnya pun jalan demokrasi, karena sudah terlalu banyak contoh melakukan perbaikan dari dalam malah jadi orang dalam.

Berharap pada manusia itu salah, apalagi berharap pada manusia yang salah. []

Sumber: Zusuf Vani

About Author

Categories