Follower Siapa Sebenarnya Kita?

MUSTANIR.net – Setiap hari, jutaan lisan Muslim di seluruh dunia bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Nama beliau disebut penuh hormat, doa dipanjatkan agar kita selalu bersama beliau di dunia hingga akhirat. Kita meyakini beliau adalah suri teladan terbaik.

Tapi, ada satu pertanyaan besar yang perlu kita renungkan: apakah kita benar-benar menjadi follower Nabi ﷺ atau hanya sekadar pengagum dari kejauhan?

Nabi ﷺ datang membawa risalah, bukan hanya sekadar akhlak mulia dalam pergaulan, tetapi juga aturan hidup yang lengkap. Beliau mengajarkan kita shalat, puasa, zakat, dan haji. Tapi beliau juga mengajarkan sistem hukum, aturan bermasyarakat, dan tata kelola negara. Singkatnya, beliau menunjukkan jalan hidup yang kaffah—menyeluruh.

Namun, anehnya, justru ada sebagian dari kita yang merasa “tidak nyaman” bila ada saudara Muslim lain yang menyeru agar Islam diterapkan secara menyeluruh. Mereka alergi mendengar kata “syariat Islam” ditegakkan, bahkan ada yang sinis pada orang-orang yang memperjuangkannya.

Pertanyaannya, kalau kita benar-benar follower Nabi ﷺ, mengapa kita menolak apa yang beliau perjuangkan?

Mari kita jujur. Jika ada orang yang rajin menyebut nama Nabi ﷺ, tapi ketika ada seruan untuk berhukum dengan hukum Allah lalu ia berkata “itu tidak relevan”, apakah pantas ia disebut pengikut Nabi? Jika ada orang yang bangga mengaku umat Nabi, tapi ketika ada yang mengajak hidup dengan aturan Islam ia malah memusuhi, apakah itu tidak kontradiktif?

Kita sering berkata, “Cintailah Nabi dengan sepenuh hati.” Tapi cinta itu seharusnya punya bukti. Kalau kita mencintai Nabi ﷺ, kita mestinya senang dengan ajaran beliau, bukan sebaliknya. Kalau kita benar-benar mengagumi Nabi, kita mestinya membela syariatnya, bukan justru menghalanginya.

Maka, coba renungkan: follower siapa sebenarnya kita? Apakah kita benar-benar mengikuti Nabi ﷺ, atau kita hanya mengikuti hawa nafsu, opini dunia, atau bahkan mengikuti arus sistem yang menolak aturan Allah?

Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa umatnya akan terpecah, banyak yang mengaku Muslim, tapi tidak semuanya berjalan di jalan beliau. Bukankah kita takut kalau ternyata kita termasuk di antara orang-orang yang justru menjauh dari beliau, meski kita mengira sedang dekat?

Saudaraku, mari kembali jujur pada hati. Kalau kita mencintai Nabi ﷺ, maka buktikan dengan menerima dan memperjuangkan ajaran beliau secara kaffah. Jangan sampai kita hanya jadi follower di lisan, tapi bukan di perbuatan. Jangan sampai kita hanya penggemar, tapi bukan pengikut sejati.

Karena pada akhirnya, Nabi ﷺ tidak butuh sekadar pujian kosong. Yang beliau butuhkan dari umatnya adalah kesetiaan pada risalah.

Jadi, kita ini follower siapa?

Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad… []

Sumber: Mujiyanto

About Author

Categories