
Paradoks Pernyataan Prabowo di PBB
MUSTANIR.net – Presiden Prabowo Subianto kemukakan pandangan dia di mimbar Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa syarat mewujudkan perdamaian untuk Palestina adalah jaminan keamanan bagi Israel.
“Saya juga terang-terangan mengatakan perdamaian hanya bisa datang kalau semua orang mengakui, menghormati, dan menjamin keamanannya Israel. Israel-pun harus dijamin keamanannya baru kita bisa dapat perdamaian,” kata Prabowo Subianto dalam video keterangan pers yang ditayangkan kanal youtube.com/sekretariatkabinetri (25/9/2025).
Ini pernyataan konyol dan paradoks (kontradiktif) serta hipokrit dan menyesatkan. Di sisi lain mendukung Palestina merdeka, namun di sisi lain mendukung dan menjamin keamanan dan keselamatan Zionis Yahudi serta mengakui Israel sebagai negara. Dan mendukung solusi dua negara. Padahal, Zionis Yahudi Israel itu maling, rampok, penjajah, penjahat psikopat, dan pembunuh brutal yang tangannya masih berlumuran darah jutaan lebih warga Palestina dan 70 ribu lebih warga Gaza.
Ini sama saja menyelesaikan masalah dengan masalah. Dan juga ini sama saja dengan orang yang rumahnya dirampok dan dirampas oleh maling. Istrinya dilecehkan, anak-anaknya, dan keluarganya ditindas dan dibunuh serta dimutilasi secara sadis oleh maling tersebut di depan mata orang tersebut. Lantas orang tersebut dengan sok bijak dengan heroiknya menyatakan:
“Bahwa syarat mewujudkan perdamaian untuk kita sekeluarga adalah jaminan keamanan bagi maling tersebut. Orang tersebut juga terang-terangan mengatakan perdamaian hanya bisa datang kalau semua orang mengakui, menghormati, dan menjamin keamanan maling tersebut. Maling pun harus dijamin keamanannya, baru kita bisa dapat perdamaian. Lantas orang itu berkata, kita dukung solusi dua rumah dengan membagi rumah kita jadi dua, separuh rumah untuk kita dan separuh rumah lagi untuk maling tersebut.”
Padahal, akar masalah Palestina—khususnya Gaza—terjajah, dihancurkan, dan digenosida sedemikian rupa adalah karena:
1. Keberadaan entitas maling, penjahat psikopat dan penjajah kafir barbar-brutal yaitu: Zionis Yahudi Israel yang dilindungi oleh hukum internasional, AS beserta sekutu salibis Baratnya dan PBB.
2. Dan juga keberadaan sistem kufur demokrasi kapitalisme—dengan nasionalisme dan nation state-nya. Yang telah memecah belah umat Islam menjadi banyak negara bangsa (nation state) dan menciptakan eksistensi ilegal entitas Zionis Yahudi Israel di Palestina. Serta juga yang menciptakan penguasa boneka—di negeri-negeri kaum Muslimin, khususnya di Arab dan Timur Tengah—yang menjadi jongos dan proxy war kafir penjajah kapitalis Barat salibis dan Zionis, serta mereka menjadi “pohon gharqad”-nya Yahudi yang melindungi dan menjaga keamanan dan keselamatan eksistensi ilegal Zionis Yahudi Israel di Palestina.
3. Diruntuhkannya khilafah pada 3 Maret 1924 M di Turki oleh Inggris dan sekutu Barat salibisnya melalui agennya seorang Yahudi bernama Mustafa Kemal Atatürk laknatullahi ‘alaihi. Hingga umat Islam terpecah belah menjadi lebih dari 50 negara bangsa dengan paham kufur nasionalismenya, dan jatuh terjajah oleh kaum kuffar penjajah hingga sekarang. Termasuk membuat Palestina pun jatuh ke tangan Inggris dan diberikan ke Zionis Yahudi Israel hingga sekarang.
Oleh karena itulah, masalah Palestina khususnya Gaza tersebut bukan sekadar masalah kemanusiaan belaka. Dan juga bukan sekedar masalah politik semata. Namun, permasalahan Palestina khususnya Gaza tersebut adalah masalah akidah.
Maka, solusinya pun adalah akidah Islam dengan solusi tuntasnya yakni Islam kaffah: syariah, khilafah, dan jihad global. Sebagaimana dahulu pernah dilakukan oleh khilafah dalam membebaskan dan menjaga Palestina dari penjajahan dan serangan kaum kafir penjajah salibis dan Mongol-Tatar. Seperti yang telah dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khaththab raḍiyallāhu ʿanhū dari Khilafah Rasyidin, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dari Khilafah Abbasiyah, Sultan Rukhnuddin Baybars dari Kesultanan Bani Mamluk-Khilafah Abbasiyah, dan Sultan Abdul Hamid Khan II dari Khilafah Utsmaniyah.
Bukan solusi gencatan senjata, bukan solusi perdamaian antara Palestina dengan Israel. Dan bukan solusi dua negara, serta bukan pula solusi satu negara bangsa Palestina merdeka. Juga bukan solusinya dipasrahkan kepada hukum internasional dan PBB serta sistem kufur demokrasi (kapitalisme-sekularisme) yang notabene menjadi biang berlarut-larutnya masalah Palestina dan biang terjajahnya Palestina (khususnya Gaza) dan seluruh negeri-negeri Islam lainnya. []
Sumber: Zakariya al-Bantany
